parasit "Ichtyophtirius multifilis" pada ikan gurami

Parasit adalah mahluk hidup (organisme) yang menempel pada bagian luar tubuh ikan ikan (ektoprasit), maupun pada bagian dalam tubuh ikan (endoparasit), dimana organisme tersebut membuat sakit atau bahkan dapat mematikan ikan yang ditumpanginya (inang), karena organisme tersebut mengganggu fungsi atau merusak organ tubuh yang terinfeksi dan menghisap zat-zat makanan ataupun darah dari ikan tersebut (Anonymous, 1992).
Sitanggang (1987) mengemukakan gangguan penyakit parasit pada ikan gurami dapat dikenali sebagai berikut :
- Penyakit pada kulit. Pada bagian tertentu berwarna merah, terutama di bagian dada, perut, dan pangkal sirip. Warna ikan menjadi pucat dan tubuhnya berlendir.
- Penyakit pada insang. Tutup insang mengembang. Lembar insang menjadi pucat, kadang-kadang semburat merah kelabu.
- Penyakit pada organ dalam. Perut ikan membengkak, sisik berdiri kadang-kadang sebaliknya, perut menjadi amat kurus, ikan menjadi lemah dan mudah ditangkap.
Parasit yang menempel pada sisik atau sirip dapat membuat lubang kecil yang akhirnya menimbulkan infeksi oleh bakteri atau virus. Pada tahap berikutnya infeksi ini dapat menyebabkan patah sirip atau terjadinya ulcer (borok).
Serangan patogen biasanya terjadi ketika ikan stres karena kualitas air kurang baik, perubahan suhu, dan overcrowding, trauma, transportasi/pengangkutan, kekurangan nutrisi, serangan parasit yang mengakibatkan infeksi primer sebagai efek resistensi (Nicholas, 1984).

Ichtyophtirius multifilis merupakan salah satu jenis protozoa yang sering menimbulkan penyakit pada ikan, baik ikan hias maupun ikan konsumsi. Protozoa ini mempunyai ukuran kecil, sehingga tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Pada tubuh ikan yang terserang protozoa ini akan terbentuk bintik-bintik putih berdiameter 0,5-1 mm sehingga penyakit ini sering disebut white spot. Bintik putih ini sebenarnya merupakan koloni dari puluhan hingga ratusan Ichtyophtirius multifilis
Ichtyophtirius multifilis merusak sel-sel lendir ikan, dan dapat menyebabkan pendarahan. Sesudah 8 hari hidup pada ikan, parasit ini sudah cukup dewasa untuk melangsungkan perkembangbiakannya. Parasit ini melepaskan diri dari tubuh ikan, dan melayang-layang dalam air untuk beberapa saat lamanya. Kemudian melekatkan diri pada suatu benda, seperti tumbuh-tumbuhan membentuk suatu lapisan kulit yang terlihat sebagai lendir. Bentuk demikian disebut cyste. Parasit ini dalam cyste membelah diri dalam waktu 5 jam (tergantung suhu), terbentuklah beribu-ribu Ichtyophtirius multifilis kecil. Apabila dalam waktu 48 jm tidak menemukan ikan-ikan yang ditempelinya, maka anak-anak parasit ini akan mati, anak-anak parasit ini menempel pada selaput lendir ikan (Anonymous, 1990/1991).
Menutrut Butcher (1934) dalam Anonymous (1990/1991), siklus hidup Ichtyophtirius multifilis (Gambar 3) dapat dibagi menjadi empat fase:
a. fase parasiter : Ketika hidup di ikan
b. Fase pre-cyste : Setelah dewasa dan melepaskan diri dari tubuh ikan, tetapi belum membentuk cyste.
c. Fase cyste : Selama terjadi proses membelah diri, terbungkus dinding lendir, dan melekat pada suatu benda dalam air.
d. Fase post-cyste : Berupa benih-benih parasit yang baru keluar dari cyste.

Budi Daya Rumput Laut Sangat Prospektif

Budi Daya Rumput Laut Sangat ProspektifPanjang garis pantai Indonesia yang mencapai 95.181 kilometer atau keempat terpanjang di dunia merupakan anugerah tak terkira bagi bangsa Indonesia. Pasalnya, kondisi tersebut berkaitan erat dengan potensi sumber daya alam yang terkandung di dalam perairan Nusantara.Potensi tersebut sangat beragam, mulai dari aneka jenis ikan, tumbuhan laut, obat-obatan, terumbu karang, hingga wisata bahari. Menurut Direktur lenderal Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Ketut Sugama, dari seluruh potensi yang ada itu, budi daya ikan merupakan ladang bisnis yang sangat prospektif. Pengembangan bidang budi daya ikan diyakini dapat men-dongkrak tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir. "Budi daya ikan waktunya relatif cepat. Lihat saja, ikan dengan ukuran 1 kilogram saja sudah dapat dijual," ujai Ketut, di lakarta, Sela- sa (27/9).Selain budi daya ikan, potensi yang ada di sektor kelautan dan perikanan adalah budi daya rumput laut. Kemudahan dalam melakukan budi daya komoditas yang satu itu menjadikan banyak nelayan tertarik menggelutinya. Ketut mengatakan hanya dengan modal 3,5 juta rupiah dan lahan 50 x 50 meter, para nelayan telah dapat membudidayakan rumput laut. "Dalam waktu 45 hari, para nelayan sudah dapat menikmati masa panen," tambahnya.Prospektifnya bisnis rumput laut diungkapkan pula SoenanHadi Poernomo, Dosen Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Sekolah Tinggi Ilmu Perikanan lakarta. Menurut dia, agar potensi bisnis rumput laut bisa dikembangkan secara optimal, sebaiknya Indonesia tidak mengekspor rumput laut sebagai bahan mentah. "Usahakan agar pengolahan rumput laut bisa dilakukan di dalam negeri sehingga nilainya lebih tinggi ka-i im iii dijual sebagai barang jadi," kata Soenan.Soenan menambahkan rumput laut juga berpotensi dijadikan bahan bakar alternatif (bio-fuel) pengganti bahan bakar minyak yang berasal fosil. "Tinggal diusahakan secara komersial karena sekarang ini rumput laut sudah banyak dilirik sebagai bahan biofuel. Salah satu ne-gara yang telah memanfaatkannya adalah Korea Selatan," imbuh Soenan.Khusus di Indonesia, hasil budi daya rumput laut selama ini lebih banyak diekspor ke China. Negeri Tirai Bambu itu lantas mengolah rumput laut asal Indonesia tersebut menjadi aneka produk, mulai dari kosmetika, bahan makanan, obat, cat tembok, cat untuk membatik, sampai pasta gigi.Dalam pandangan Soenan, apa yang dilakukan China tersebut bukan mustahil dapat pula dilakukan Indonesia Sebagai langkah awal, hendaknya dipilih bibit rumput laut dari hasil pem-benihan yang terbaik. Salah satu daerah di Tanah Air yang memiliki bibit rumput laut yang bagus adalah Nusa Tenggara Barat (NTB).Setelah memilih bibit rumput laut terbaik, langkah yang perlu ditempuh adalah membuat mekanisme pasar yang tidak rumit. Artinya, lokasi produksi dan pengolahan rumput laut sebaiknya tidak terlalu jauh dari pasar sehingga biaya transportasi bisa ditekan. Saat ini wilayah percontohan budi daya rumput laut kebanyakan berada di kawasan timur Indonesia, di antaranya Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan NTB."Saya sangat optimistis budi daya rumput laut memiliki masa depan yang bagus. Sebab, potensi bisnisnya besar. Selain itu, teknologi yang ada sekarang juga sudah mumpuni, pasarnya tersedia serta ramah lingkungan," pungkas Soenan. uci/E-2Sumber: KoranJakarta,29September2011, Hal.9

Pengolahan Pindang Bangkitkan Usaha Kecil

Pengolahan Pindang Bangkitkan Usaha Kecil

 SURABAYA - Pemerintah akan terus mendorong pengembangan industri pengolahan ikan pindang. Komoditas perikanan ini terbukti berhasil menggerakkan usaha kecil di seluruh Indonesia. Ikan pindang khas produk dalam negeri. Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Victor PH Nikiju-luw menyajikan, produk ikan pindang perlu mendapatkan apresiasi yang lebih besar.

 Pemindangan ikan adalah teknik pengolahan dan pengawetan ikan dengan cara direbus dan diberi sedikit garam. Victor menjelaskan, ikan asap dan ikan asin banyak juga dimiliki negara lain. Di Eropa, misalnya, ada yang namanya smoke salmon. Sama halnya garam tidak hanya ditemukan di Indonesia, tetapi di Timur Tengah. "Hanya pindang yang tidak ada di negara lain, murni milik Indonesia. Terlebih hampir seluruh industri pengolahan pindang adalah usaha kecil menengah," ungkap Victor disela Pameran Produk Bahari 2011dan Pengukuhan Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Pengusaha Pindang Dean Indonesia (Appikando) di Surabaya, Rabu (21/9).Saat ini, sambung dia. dari total produksi ikan secara nasional yang mencapai 11 juta ton per tahun, 15% dikelola menjadi ikan pindang. Dari jumlah itu, yang dikelola menjadi pindang mencapai 15% hingga 20%-nya, atau sekitar 2 juta ton per tahun, baik dari ikan tongkol, bandeng, ataupun cakalang. Adapun produksinya sejauh ini mencapai sekitar 18.000 ton per bulan.

Dengan asumsi jumlah pemindang di seluruh Indonesia mencapai 60.000 orang. Selain itu, jumlah pelaku usaha pemindangan secara nasional juga terus bertambah hingga mencapai sekitar 60.000 unit dari 100.000 unit usaha kecil pengolahan ikan. Sedangkan sisanya adalah pembuatan kerupuk, bakso ikan, abon ikan, dan lain sebagainya. "Pindang ini mempunyai kekuatan di UKM. Sehingga peningkatan taraf kerja industri pengolahan ikan pindang sama hal-nya mendorong UKM untuk bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi agar bisa menembus pasar ekspor," tandasnya.Ke depan, Victor berharap pengolahan pindang perlu ditingkatkan. Karena selama ini proses produksinya dengan cara tradisional yang kurang efektif.

Padahal jika dikembangkan menjadi lebih baik, hal itu sangat terbuka lebar. Mengingat pasarnya juga sangat luas sementara potensi juga sangat besar. "Kami berharap pemindangan akan semakin besar dengan adanya peningkatan teknologi tepat guna. Sebab, selama ini proses pemindangan dilakukan dengan cara tradisional," tekannya.Saat ini. kata Victor, sedang dikembangkan proses pemindangan yang lebih baik dan lebih higienis. Yaitu dengan mengasapkan ikan yang sudah direbus tersebut. Hasilnya, pindang akan lebih lama bertahan dan akan menjadi lebih bagus. "Dengan peningkatan kualitas, saya yakin kinerjanya akan menjadi semakin membaik," pungkasnya, (ros)Sumber: InvestorDailyIndonesia,23September2011, Hal.7