Showing posts with label IKAN LAUT. Show all posts
Showing posts with label IKAN LAUT. Show all posts

Ragam Jenis Komoditas Budidaya laut

Ragam Jenis Komoditas Budidaya laut

Budidaya laut merupakan salah satu subsektor perikanan budidaya yang pengembangan berada dalam area terbatas. Biasanya letaknya di daerah yang memiliki ketenangan arus. Budidaya laut seperti halnya pada budidaya air tawar dan air payau juga harus didukung dengan fasilitas-fasilitas yang mendukung pembudidayaan ikan di laut. Pembudidayaan ikan di laut selain memiliki ketenangan arus tertentu, juga memperhatikan tingkat salinitas, kejernihan air , pencahayaan dan kedalaman air lautnya.

Budidaya laut merupakan salah satu subsektor yang sampai dengan saat ini merupakan unggulan perikanan budidaya dalam meningkatkan volume produksinya. Volume produksi baik menurut komoditasnya ataupun menurut daerah penghasilnya secara nasional didominasi oleh produksi komoditas budidaya laut seperti rumput laut yang produksi mencapai hampir 2/3 dari total produksi nasional.

Walaupun masih kalah dibandingkan subsektor budidaya air tawar namun produksi budidaya laut tidaklah dapat dipandang sebelah mata. Apalagi jika melihat data produksinya yang hampir didominasi oleh rumput laut dari budidaya laut. Umumnya komoditas budidaya laut memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi di pasaran baik dalam negeri maupun luar negeri. Pasar untuk komoditas budidaya laut pun masih sangat terbuka dan sebagian besar komoditas budidaya laut di ekspor keluar negeri dengan nilai jual yang cukup tingggi. Ada beberapa komoditas yang sudah dapat dibudidayakan dan dikembangakan oleh daerah-daerah yang ada di Indonesia, antara lain yaitu :



1. RUMPUT LAUT

Rumput laut adalah komoditas unggulan di perikanan budidaya subsektor budidaya laut. Rumput laut selain dapat di budidaya di laut juga dapat dibudidayakan di air payau, namun jenisnya berbeda. Rumput laut yang sering dibudidayakan dan dikembangkan diperairan laut selama ini memiliki nama ilmiah euchema cottonii. Sedangkan untuk jenis yang dibudidayakan di air payau adalah Gracilari sp. Rumput E. cottonii ini dikembangkan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir perkembangan rumput laut begitu cepatnya. Bahkan data tahun 2009 rumput laut E. cottonii hampir menembus tiga juta ton. Sentra budidaya rumput laut cottonii terdapat di pulau sulawesi terutama di provinsi sulawesi selatan, sulawesi tengah dan sulawesi tenggara. Diluar pulau sulawesi sentra budidaya rumput laut jenis ini terdapat di provinsi nusa tenggara timur dan provinsi jawa timur. Geliat pengembangan budidaya rumput laut jenis ini sudah berkembang di luar pulau sulawesi. Bahkan beberapa provinsi menunjukan peningkatan volume produksi yang cukup tinggi.



2. BANDENG

Bandeng adalah komoditas budidaya laut yang dapat juga dibudidayakan di tambak. Ikan ini memiliki nilai ekonomis cukup tinggi dan memiliki rasa yang enak. Pada beberapa daerah ikan ini menjadi makanan khas daerah tersebut. Tidak banyak daerah yang membudidayakan bandeng di laut. Berdasarkan laporan dari daerah-daerah yang sampai ke pusat melalui buku statistik provinsi hanya provinsi Bali dan Provinsi DKI Jakarta saja yang mengembangkan budidaya ikan bandeng di laut. Memang jika melihat sejarahnya ikan bandeng lebih dikenal sebagai ikonnya ikan budidaya tambak. Padahal ikan bandeng yang dibudidaya di karamba jaring apung di laut memiliki keunggulan yaitu tidak bau lumpur. Sementara bandeng yang ada di tambak biasanya berbau lumpur .



3. KERAPU

Sama halnya dengan ikan bandeng, ikan kerapu juga dapat dibudidayakan di tambak. Bedanya ikan kerapu lebih dikenal dan banyak di budidaya di laut daripada di tambak. Kerapu memiliki tujuh genus yang dikenal di Indonesia, yaitu Aethaloperca, Anyperodon, Cephalopholis, Chromileptes, Epinephelus, Plectropomus, dan Variola. Dari ketujuh genus tersebut yang memiliki nilai komersial adalah genus Chromileptes yang diwakili oleh jenis kerapu bebek, Plectropomus diwakili oleh jenis kerapu sunu, dan Epinephelus yang diwakili oleh jenis kerapu macan. Ikan kerapu dibudidayakan hampir di seluruh daerah di Inonesia. Sentra budidaya ikan kerapu du laut terletak di provinsi Maluku, Sumatera Utara, Kepulauan Riau dan Lampung.



4. KAKAP

Ikan kakap juga dapat dibudidayakan di laut dan di tambak. Kakap yang dibudidayakan ada dua jenis yaitu kakap putih dan kakap merah. Ikan kakap termasuk ikan yang memiliki toleransi cukup besar terhadap kadar garam. Ikan kakap juga merupakan ikan yang memiliki nilai ekonomis baika untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk pasar internasional. Budidaya ikan kakap di laut terdapat di provinsi DKI Jakarta , Kepulauan Riau dan beberapa daerah di Indonesia timur. Pada tahun 2009 produksi tertinggi kakap dihasilkan oleh provinsi kepulauan riau.



5. BERONANG

Ikan beronang memiliki nama ilmiah Siganus sp. Ikan ini sebenarnya cukup potensial untuk dikembangkan. Ikan ini termasuk ikan yang memiliki daging yang gurih dan disukai banyak orang. Sifatnya primary herbivor, suka memakan plankton dan makanan buatan. Ikan ini termasuk komoditas yang mudah dibudidayakan karena mempunyai toleransi yang tinggi terhadap kadar garam dan tingkat suhu. Ikan ini di alam tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Sementara lokasi budidayanya terletak di provinsi kepulauan riau, papua dan maluku berdasarkan laporan data statistik dari setiap provinsi yang ada di Indonesia.



6. TERIPANG

Teripang termasuk komoditas perairan laut yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Nama latinnya Holothuroidea. Teripang biasa disebut juga sebagai timun laut. Komoditas ini biasa ditemukan di daerah pasang surut air laut sampai dengan daerah laut dalam. Teripang yang dalam bahasa inggrisnya disebut sea cucumber, memiliki manfaat antara lain dapat dijadikan penyembuh luka, pencegah osteoporosis, anti kanker dan anti tumor serta dapat mengendalikan kadar gula darah. Sentra budidaya komoditas teripang sendiri terdapat di provinsi Maluku dan Papua.



7. KUWE

Ikan kuwe memiliki nama ilmiah Caranx sexfasciatus ini memiliki kebiasaan yang unik. Ia dikenal sebagai ikan yang senang bercengkerama dengan teman sebayanya. Ikan ini termasuk dalam golongan ikan predator yang hidup di daerah karang dangkal di perairan terbuka. Ikan yang tergolong sebagai ikan buas ini hidup dengan membentuk gerombolan. Ikan ini sudah dapat dibudidayakan. Daerah yang mengembangkan ikan kuwe sebagai ikan budidaya adalah provinsi Maluku, Maluku Utara, Papua, Nusa Tenggara Timur dan sebagian provinsi yang ada di pulau Sulawesi.



8. KERANG

Kerang termasuk komoditas laut yang sudah dapat dibudidayakan. Kerang masuk dalam kategori hewan bertubuh lunak atau mollusca walaupun ia memiliki cangkang yang kerang. Ada berbagai macam jenis kerang yang ada di perairan Indonesia. Namun kerang yang sering dibudidayakan antara lain adalah jenis kerang darah, kerang hijau dan abalone. Kerang merupakan komoditas dengan pangsa pasar yang masih sangat terbuka. Komoditas ini dikenal sebagai makanan dengan nilai eksklusif tinggi. Beberapa daerah yang mengembangkan budidaya kerang antara lain provinsi Jawa Barat, Banten, Nusa Tenggara Timur dan Maluku.



9. UDANG BARONG

Udang barong dikenal dengan nama lobster laut, mencari makanan pada malam hari dan suka tinggal di dalam lubang-lubang. Udang yang memiliki nama ilmiah Panulirus sp ini merupakan komoditas yang sangat potensial. Sama halnya dengan udang yang lain, komoditas ini memiliki nilai jual yang cukup lumayan. Komoditas yang memiliki nama inggris Spiny lobster ini, pembudidayaannya terdapat di provinsi Maluku Utara, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Timur.



Sampai dengan saat ini, komoditas budidaya laut yang pengembangan cukup baik adalah seperti tersebut di atas. Budidaya laut selain budidaya air payau dan budidaya air tawar sangat diandalkan oleh perikanan budidaya untuk terus berkembang dalam peningkatan produksi baik dari sisi volume maupun dari sisi keberagaman jenis yang dibudidayakan.
sumber : http://www.perikanan-budidaya.dkp.go.id

Budi Daya Kerapu Lampung Tumbuh Pesat

Budi Daya Kerapu Lampung Tumbuh Pesat

Bandar Lampung - Dibanding pembudidayaan ikan lainnya, budi daya ikan kerapu di Provinsi Lampung terbilang belia. Namun, lonjakan produksinya luar biasa seiring tingginya harga dan pangsa pasar yang terbuka lebar.

Oleh

Syafniiajl Datuk Sinaro

Terutama dalam tiga tahun terakhir, terjadi lonjakan produksi yang luarbiasa. Pada tahun 2007 produksi ikan kerapu dari sejumlah sentra produksi di Lampung baru 83,3 ton. Jumlah itu meningkat menjadi 90 ton pada tahun 2008, dan melonjak hingga 294,59 ton pada tahun 2009 lalu," ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung drh Havavo Pian kepada SH di Bandar Lampung, Kamis (4/11) siang.

Dijelaskannya, budi daya kerapu mulai tumbuh di Lampung tahun 2002 sebanyak 170 unit. Kini, jumlahnya melonjak menjadi 1.100 unit atau melonjak hingga enam kali lipat dibandingkan tahun 2002, atau meningkat 50 persen dibandingkan tahun 2007 lalu.

Untuk terus memacu produksi kerapu, menurut Kadis, pihaknya melakukan berbagai upaya. Antara lain, mempermudah perizinan melalui satu pintu, juga meningkatkan keamanan di laut. Selain itu, DKP mempermudah pemberian rekomendasi bagi pengusaha yang berminat berinvestasi pada budi daya kerapu.

Selain itu, untuk memacu investasi di sektor perikanan, Kementerian DKP sudah menghapus berbagai pungutan terhadap sektor perikanan sejak DKP dipimpin Fadel Muhammad. "Jadi tidak ada pungutan atau retribusi sama sekali terhadap pengusaha kerapu," ungkap Havavo.

Masih terkait dengan inves-tasi kerapu, Havavo menambahkan, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan dinas terkait di kabupaten, terutama soal tata ruang untuk budi daya kerapu. Termasuk mengenai pengaturan tata letak keramba mengingat ada yang sudah cukup padat seperti di Ringgung, Kabupaten Pesa waran.

Mengingat potensi pasarnya yang terbuka luas dan harganya yang mahal, DKP Lampung menjadikan budi daya kerapu sebagai sektor unggulan sama dengan udang. Oleh karena itu, DKP serius melakukan pengembangan dan pembinaan terhadap pembudi daya agar menerapkan budi daya ikan yang baik dan menghindari penggunaan obat-obatan kimia. Demikian pula pengusaha pem-benihan diharapkan menerapkan cara-cara pembenihan ikan yang baik. Terhadap benih yang sudah menerapkan cara-cara pembenihan ikan yang baik, DKP akan memberikan sertifikat.

Sentra Budi Daya

Di tempat yang sama, Kepala Bidang Budidaya DKP Lampung Marliana menambahkan, terdapat dua kabupaten yang menjadi sentra budi daya kerapu di Lampung, yakni Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Pesawaran. Di Pesawaran, sentra kerapu terdapat di Pulau Puhawang dan Ringgung, Kecamatan Punduh Pidada. Sementara itu, di Lampung Selatan, sentra kerapu terdapat di Tanjung Putus. Lalu, yang menjadi sentra utama kerapu adalah di Ringgung yang diusahakan 38 pengusaha den-gan 718 petak.

Selain di ketiga sentra di atas, ujar Marliana, sejumlah pengusaha sudah mencoba budi daya kerapu di daerah lain, seperti di Kalianda, Lampung Selatan, namun hasilnya tidak sebagus di Teluk Lampung. Apalagi di pantai timur Lampung, Kabupaten Lampung Timur yang dasar perairannya berpasir dan lumpur serta gelombangnya kuat saat angin timur.

"Di Lampung Barat memang perairannya masih banyak karang, tetapi juga tidak cocok karena gelombangnya kuat, mengingat lokasinya yang ada di laut lepas, yakni Lautan Indonesia. Perairan yang cocok untuk budi daya kerapu adalah laut yang tidak tercemar, karangnya masih banyak dan alami, serta gelombangnya tidak begitu kuat," ujar Marliana.

Adapun lokasi lain yangmasih memungkinkan untuk pengembangan budi daya kerapu yakni di perairan sekitar Pulau Siuncai, Pulau Sebesi, dan Pulau Sebuku. Ketiga pulau . tersebut masih memiliki potensi budi daya KJA yang mencapai 50 ha.

Umumnya jenis kerapu yang dibudidayakan di Teluk Lampung adalah kerapu tikus atau biasa disebut juga kerapu bebek (Cromileptes altwelis), kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus), dan kerapu lumpur (Epinephelus spp). Dari ketiga jenis tersebut, kerapu tikus yang paling dibudidayakan banyak karena pertumbuhannya paling bagus di perairan Teluk Lampung.

Pasar kerapu dari Lampung 100% diekspor ke Singapura, China, Taiwan, dan Hong Kong. Pembeli datang langsung membawa kapal ke sentra kerapu di Lampung karena kerapu diek-spor dalam kondisi hidup. Di negara-negara yang dominan berpenduduk warga Tionghoa tersebut, ikan kerapu merupakan makanan mahal dan bergengsi.

Adapun standar ukuran kerapu ideal yang diminati importir yakni berukuran setengah kilo-gram/ekor atau dua ekor/kg. Harganya mencapai 35 hingga US$ 40 /kg. Untuk mencapai ukuran setengah kilogram, umumnya dibutuhkan waktu 18 bulan atau satu setengah tahun.

Hingga kini penyakit kerapu yang sudah terdeteksi di keramba apung di Teluk Lampung, baru Viral Necrosis Nerveus (VNN) yang disebabkan virus famili Nodaviridae. Virus ini akan merusak organ, targetnya yaitu otak dan mata ikan. "Namun dengan bimbingan yang kami berikan penyakit ini masih bisa diatasi," ujar Marliana menjelaskan.


Sumber : Sinar Harapan 07 November 2010,hal. 15

Tiram mutiara

Tiram mutiara



Budidaya tiram mutiara selama ini dianggap rumit dengan waktu pemeliharaan yang bisa lebih dari 3 tahun. Tak heran usaha ini lebih banyak dilakukkan oleh pengusaha bermodal besar.

Tetapi anggaapan tersebut kini berhasil dipatahkan oleh badan riset perikanan budidaya (brkp). Pusat riset perikanan budidaya (prpb)-bagian dari brkp- meluncurkan program ilmu pengetahuan dan teknologi untuk masyarakat (iptekmas) untuk pendederan tiram mutiara bagi nelayan tradisional. Program ini dilaksanakan oleh balai besar riset perikanan budidaya laut (bbrpbL)gondol,bali. Dimulai dari riset pembenihan dan dilanjutkan pendederan dilaut.

Dengan iptekmas, nelayan bisa melakukan pendederan tiram dari ukuran spat 4-5’mm hingga ukuran 1cm atau ukuran 5-6 cm tergantung permintaan pasar. Untuk mencapai ukuran 1cm butuh waktu 1bulan dan 7-8 bulan untuk mencapai 5-6cm. Sementara untuk pembesaran hingga mencapai ukuran siap produksi mutiara yang memerlukan waktu sekitar 3tahun dilakukan oleh pengusaha bermodal besar.

Persiapan budidaya

Lokasi untuk budidaya pendederan tiram mutiara antara lain perairan yang subur (kaya plankton), jauh dari jangkauan air tawar berlebih karena spat dan benih rentan terhadap salinitas rendah, terhindar dari banjir dan erosi, arus tidak terlalu kuat agar KJA tidak hanyut, kedalaman ideal maksimum 30 m, substrat dasar pasir atau pecahan karang.

Selain itu hindari kondisi iklim buruk. Bila kondisi sangat rawan, sebaiknya tidak melakukan kegiatan pendederan. KJA bisa diamankan kedarat dan waktu yang ada dimanfaatkan untuk persiapkan. Unit rakit atau KJA sebaiknya tidak terlalu besar supaya mudah dipindahkan.

Wadah budidayanya, KJA terbuat dari bambu dan pelampung drum foam. Untuk budidaya ikan degan unit terkecil 8 m x 8 m terdiri atas 4 lubang ukuran 3 m x 3 m dan jalan setapak untuk kerja lengkap dengan tali jangkar, tali pengikat, dan pemberat 60 kg terbuat dari cor beton.

Penebaran spat

Telur yang menetas dihatchery (tempat pembenihan ) dipelihara selama 45 hari, sehingga diperoleh spat dengan ukuran 4-5 mm. Spat menempel pada lembar kolektor yang berupa paranet (waring) ukuran 30 cm x 30cm. Jumlah yang menempel bervariasi, sekitar 100-200 perlembar kolektor. Kolektor dengan spat ukuran 4-5mm bisa ditebar kelaut,dimasukan kedalam frame kubus ukuran 35 cm x 50 cm x 70 cm (terbuat dari 2 kubus yang disusun bertingkat). Penebaran biasanya dua kubus memuat 10 lembar kolektor dan kemudian dimasukan ke dalam kantor waring dengan ukuran mata halus, untuk menghindari predator atau pemangsa dan gangguan hewan air dari luar. Tugas nelayan,membersihkan / mencuci kantong waring itu setiap 1-2 minggu agar aliran air yang membawa makanan untuk spat dan benih berjalan dengan baik. Jika ada spat jatuh karena penempelan kurang kuat atau pengaruh arus dll, maka masih bisa diselamatkan. Pada saat pencucian, benih yang rontok bisa dipindahkan kewaring yang baru dan selama masih hidup benih ini akan segera mencari tempat untuk menempel kembali.setelah umur 1bulan dilakukan grading atau seleksi ukuran sekaligus menghitung jumlah benih ukuran 1cm yang dihasilkan dari total tebar spat. Benih ukuran 1 cm kemudian dipindahkan dari lembar kolektor (dengan cara memotong bisusnya) kedalam waring bendera. Tiap lembar waring bendera bisa berisi 100 benih siap jual. Jika untuk dibesarkan kembali menjadi ukuran 5-6 cm hanya di isi 50 benih. Untuk pemeliharaan selanjutnya hingga ukuran 3 cm masih perlu diamankan dari gangguan predator. Setelah ukuran 3-4 cm baru kemudian dimasukan kedalam waring anakan dan bisa dipelihara tanpa kubus hingga mencapai ukuran 5-7 cm yang banyak diminati pembeli.

Panen,transportasi dan pemasaran

Panen dimulai dengan melakukan grading ukuran karena harga berbeda setiap cm. Untuk transportasi kering, dilakukan dengan styrofoam ukuran 35 x 70 cm, dasar styrofoam diisi dengan spons yang dibasahi dengan air laut, handuk atau sejenisnya.

Benih ukuran 1 cm dalam waring bendera atau anakan ukuran 5 cm dimasukan dan disusun hingga styrofoam hampir penuh. Lakukan secara hati-hati jangan di tekan. Kemudian dibagian paling atas dan samping ditaruh es batu air laut yang dibuat dalam botol plastik dan dibungkus koran kepadatan styrofoam ukuran 35 x 70 cm bisa mencapai 6000 ekor benih ukuran 1 cm atau 500 hingga 1000 ekor benih ukuran 5 cm. Styrofoam ini mampu diangkut selama 12 jam untuk benih ukuran 1 cm dan 15 jam untuk benih yang berukuran lebih besar yaitu 5 cm tanpa terjadi kematian berarti program iptekmas ini juga menjalin kerja sama dengan pengusaha sebagai pembeli produk atau benih yang akan dihasilkan dari program tersebut. Ada dua ukuran yang diminta yaitu ukuran 1 cm atau umur 1 bulan dengan harga Rp 300-Rp 500 per ekor benih. Sedangkan ukuran besar 5- 7 cm atau umur 7-8 bulan dibeli dengan harga Rp 1000-Rp 2000 per cm dan semakin besar semakin mahal. Untuk tahap awal nelayan cenderung menjual ukuran kecil karena lebih cepat mendapatkan uang. Pemeliharaan untuk ukuran besar (>3cm) lebih mudah karena cangkangnya sudah kuat, adaptasi lingkungan sudah baik, tdak rawan terhadap predator. Tapi untuk ukuran 2-4 cm dinilai paling kerisis terhadap kematian karena berbagai penyebab seperti predator, lingkungan dll. Dan biasanya kematian tinggi pada umur tersebut. Karena itu pasar yang sekarang diminati adalah ukuran 1 cm atau ukuran lebih besar dari 5 cm. Sementara itu untuk menambah keuntungan, beberapa petani memadukan pendederan tiram mutiara(produksi benih ukuran besar 5-6 cm) dengan memanfaatkan bagian tepi kja ikan untuk menggantungkan waring anakan. 1 kja mampu memelihara 15000 benih yang hanya dikerjakan oleh satu orang dengan 8 hari kerja per bulan untuk membersihkan waringnya. Peluang lainnya, petani bisa memanfaatkan lubang kja bagian dalam untuk memelihara lobster. Baby lobster ukuran campuran dibeli dari nelayan dengan harga Rp120.000 per kg. Kemudian dipelihara selama 3 bulan dan dipanen dengan harga Rp270.000 perkg, dengan ukuran sekitar 10 ekor per kg.


sumber: majalah trobos edisi april 2010 hal 84-85

Perbankan Dukung Usaha Rumput Laut

Perbankan Dukung Usaha Rumput Laut


JAKARTA - Perbankan nasional siap mendukung pengembangan industri rumput laut menyusul besarnya potensi komoditas kelautan itu menghasilkan keuntungan. Dukungan perbankan berupa kredit usaha mikro, kecil, dan menengah siap digelontorkan dengan syarat pembudidaya rumput laut segera membuka peluang usaha.

Analis Muda Senior Bank lndo-nesia (BI) Cabang Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) Jacob Dos Amaral yang berbicara di hadapan pembudidaya rumput laut asal Waingapu, NTT belum lama ini menegaskan dukungan nyata perbankan bisa melalui Koperasi Unit Desa. Bank Indonesia melalui perbankan BUMN dan swasta nasional, kata Amaral, siap menggelontorkan kredit mikro ke kelompok budidaya yang tergabung dalam sentra mina-politan rumput laut

Sementara itu, di Manado, Sulawesi Utara, pekan lalu Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah menegaskan BI memfasilitasi pengembangan rumput laut di provinsi itu dengan menggandeng pakar rumput laut Prancis untuk peningkatan riset dan pengembangan kualitas.

"Kunjungan ke pusat penelitian dan pengembangan rumput laut Center for Study and Promotion of Algae Perancis telah dilakukan, dan apa yang didapat di negara tersebut saat ini sedang dilakukan penelitian bagaimana kualitas dihasilkan terbaik," kata Halim dikutip Antara.

Maksud kerja sama Prancis tersebut, kata Alamsyah, agar rumput laut yang dibudidayakan petani berproduksi maksimal serta kemudian diolah menjadi produk bernilai ekonomis tinggi.

"Selain Manado, beberapa daerah lain di Indonesia yang menjadi penghasil rumput laut tropis, menjadi fokus perhatian BI untuk dikembangkan lebih lanjut," kata Alamsyah.

Menurut Alamsyah, bantuan fasilitasi dan teknis terhadap pengembangan rumput laut merupakan wujud dukungan BI terhadap pengembangan sektor riil.

"Undang-Undang BI Nomor 23 tahun 1999 dan telah diubah dengan UU Nomor 6 Tahun 2009, maka BI tidak lagi memberikan fasilitas pembiayaan tetapi hanya "boleh memberikan fasilitasi dan bantuan teknis," kata Alamsyah.

Upaya yang telah dilakukan BI dalam hal ini, di antaranya membentuk kelompok-kelompok kerja (Pokja) sektor perikanan budidaya, untuk membahas berbagai kendala serta meningkatkan intermediasi bank.

Pelatihan UM KM

Selain itu, BI telah melaksanakan pelatihan Business Development Service Provider, yang tujuannya membantu menghubungkan kapabilitas sektor Usaha Mikro Kecil Menengah(UMKM) dengan perbankan.

Dos Amaral menambahkan, Koperasi Unit Desa (KUD) bisa menjadi perantara atau specialpurpouse vehicle (SPV) pengkreditan mikro tersebut ke bank BUMN dan bank swasta nasional lainnya.

"Karena aktivitas bisnis rumput laut sudah berjalan, otomatis perbankan akan mudah membiayai. Kredit mikro bisa diajukan melalui koperasi. Pembiayaan bermaksud meningkatkan kapasitas produksi," Dos Amaral.

BI Cabang Kupang, lanjut Amaral, sudah memprioritaskan pengembangan rumput laut sejak tahun 2007. Dia mengakui, melalui gugus tugas (task force), pemda provinsi NTT sudah menandatangani kontrak dengan BI guna mendukung pengembangan industri rumput laut melalui pembiayaan usaha mikro.

Direktur Utama Bank Sulut Jeffry Wurangian mengakui, perhatian BI terhadap pengembangan rumput laut Sulut merupakan langkah positif mengingat rumput laut masuk program revitalisasi daerah ini. Qjr)



Sumber : Investor Daily 21 juli 2010

Rahasia Rumput Laut

Rahasia Rumput Laut



Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKK) Seaweed satu-satunya unit kegiatan kemahasiswaan yang berkecimpung di bidang rumput laut, khususnya di Jurusan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro. Kelompok studi ini mengkaji segala sesuatu yang berhubungan dengan rumput laut secara luas, baik riset maupun kewirausahaan.

UKK Seaweed tidak hanya bergerak di lingkungan mahasiswa, tetapi juga bergerak di tataran publik. Membantu masyarakat pemerhati rumput laut, baik dalam pembudidayaan maupun pengolahan produk rumput laut, serta pertemuan-pertemuan workshop dari para peneliti rumput laut. UKK Seaweed berlokasi di Jalan Ngesrep Timur V Semarang berhasil berprestasi di bidang program Mahasiswa Wirausaha Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti). Kami mengajukan wirausaha produk rumput laut yaitu seaweed jelly drink.

Produknya tidak kalah bagusnya dari perusahaan besar, rasa dan bahan memiliki keunggulan tersendiri walaupun hanya olahan rumah tangga. UKK Seaweed juga bekerja sama dengan SMK 1 Jepara dalam membuat inovasi produk makanan seperti dodol, es krim, permen, sirup, donat, seaweed crispy, manisan rumput laut, nata de seaweed, kue, kecap, bakso dan lainnya. Semua bahannya dari rumput laut.

Tak sedikit anggota UKK Seaweed juga bergerak memanfaatkan rumput laut sebagai biogas, bioetanol, biodiesel, antibakteri, pulp, dan pupuk. Selain bergerak di Indonesia, UKK Seaweed berharap dapat dikenal dan bekerja sama dengan pihak-pihak di lingkup nasional ataupun internasional karena kami yakin rumput laut memiliki po-tensj besar dalam segala bidang.

Rumput laut mujarab buat menghasilkan produk makanan dengan rasa lebih mantap, kenyal, dan gurih. Sekarang rekan kami mulai berwirausaha jelly drink rumput laut. Setelah penghasilannya terbilang memuaskan, ia pun berhasil membuat rumput laut lebih dikenal. Namun, penjualannya masih di kalangan teman-teman mahasiswa.

Rencana bisnis kami, ingin memasar- kan produk rumput laut hingga tingkat Asia. Laut Indonesia luas dan panen rumput laut hanya 42 hari, jadi produk ini jelas akan membuat Indonesia lebih maju.

Rumput mengandung komponen unik yang kuat berupafncoidan, alginates, dan polifenol. Komposisi tersebut mirip air susu alias bredst milk sehingga kerap disebut brown milk.

Fncoidan adalah polisakarida kompleks pada dinding sel rumput laut. Berbagai penelitian modern membuktikan fucoidan yang merupakan komponen terbesar di dalam tumbuhan taut mampu meningkatkan imunitas dengan merangsang produksi sel-sel imun.

Ia juga membantu melawan virus dan bakteri, melawan alergi, dan menghambat penggumpalan darah sehingga memperkecil risiko stroke dan serangan jantung. Fucoidan mampu menurunkan kadar kolesterol darah, menurunkantekanan darah tinggi, menstabilkan kadar gula atau glukosa darah dengan memperlambat pelepasan glukosa ke dalam darah. Selain itu, fucoidan mampu meredakan gangguan pencernaan dengan mencegah masuknya bakteri Helicobacter pylori, meningkatkan fungsi lever, menjaga kelembapan dan keken-cangan kulit, serta menghambat pertumbuhan sel abnormal.

Penelitian menunjukkan polisakarida dalam rumput laut bisa merusak sel-sel kanker. Itu sebabnya, dahulu di Mesir digunakan untuk terapi kanker payudara. Rumput laut juga merupakan multivitamin alami yang memiliki aktivitas antitumor secara konsisten.

Rumput laut tidak mengandung lemak yang bermakna, tetapi kaya selenium yang bersifat antioksidan.

Ini artinya rumput laut mampu membantu tubuh mencegah penyerapan zat kimia beracun, termasuk sampah radioaktif dan polusi.

Sangat dianjurkan mengonsumsi rumput laut selama menjalani kemoter-api. Nutrisi yang optimal dalam rumput laut membuatnya mampu memberikan fungsi imun terbaik, merevitalisasi tubuh, mendukung kesehatan jantung, memperbaiki pencernaan, menguatkan sistem saraf, dan menyeimbangkan hormon.

Bahan pangan ini juga baik untuk menyehatkan rambut serta memperkuat kuku dan gigi. Selain untuk industri makanan, agar-agar juga digunakan dalam industri farmasi atau bahan baku kapsul pembungkus obat-obatan dan vitamin, campuranobat pencahar dan pasta gigi, industri kosmetika sebagai bahan baku lipstik, sabun, salep, lotion dan krim, serta industri lain. Kandungan gizinya yaitu vitamin, mineral colloidal, iodin, asam lemak esensial, asam amino, dan berbagai enzim.

Rumput laut adalah salah satu makanan tradisional yang populer di Jepang. Salah satunya, wakame. Bagi yang pernah tinggal di Jepang tentunya mengetahuinya. Wakame atau Undariapinnatifida sering disajikan sebagai salad, sup, dan penghias sajian makanan.

Beberapa studi menyebutkan wakame mempunyai beberapa manfaat kesehatan, mencegah hiperlipidemia atau kelebihan lemak, dan mencegah terjadinya kanker berdasarkan percobaan pada tikus, serta sebagai bahan yang dapat menurunkan tekanan darah manusia.

Tanpa kita sadari, sekarang banyak masyarakat Indonesia mulai memanfaatkan rumput laut menjadi bahan atau bumbu campuran dalam aneka makanan tradisional Indonesia. Salah satunya yaitu pecel rumput laut, perpaduan makanan tradisional Indonesia dengan rumput laut.

Pecel rumput laut ini menjadi salah satu makanan favorit di Teluk Awur, Jepara. Tak terlalu beda dengan pecel umumnya, sajian ini lebih komplet, yaitu sayur, bumbu kacang atau bumbu pecel, dan tentunya rumput laut. Rumput lautyang digunakan ialah Gracilaria dan Caulerpa. Rasanya crispy dan lebih kenyal, dijamin ketagihan, deh!

Kandungan vitaminnya, A, C, zat besi, yodium juga kalsium serta kadar serat tinggi. Selain itu, masyarakat juga mulai mengombinasikannya dalam bakso tahu rumput laut serta bakso rumput laut. Rasanya lebih kenyal, halus, dan tidak amis. Mau coba? (M-2)



Sumber : Media Indonesia 13 Juni 2010,hal. 22

Lampung Timur budi daya Kerapu

Lampung Timur budi daya Kerapu


Kabupaten Lampung Timur membuka investasi budi daya ikan kerapu untuk memenuhi permintaan pasar yang meningkat setiap tahun. "Selama ini pasokan ikan kerapu masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam, yang tentu saja belum mencukupi permintaan pasar," kata Kepala Kantor Penanaman Modal Lampung Timur Mulyanda, Kamis.

Dia menjelaskan, potensi perikanan di kabupaten tersebut masih cukup besar, karena dari total lahan perikanan seluas 22.548,05 hektare, yang dimanfaatkan baru 15.909,29 hektare. "Lampung Timur memiliki potensi untuk pengembangan perikanan darat atau air tawar, perikanan perairan umum di wilayah Pantai Timur Sumatra. Potensi pertambakan rakyat yang belum tergarap seluruhnya."

Dia mengatakan pendapatan masyarakat dan devisa negara akan naik jika investasi budi daya ikan kerapu dikembangkan secara maksimal. Apalagi jenis ikan kerapu itu memiliki pangsa pasar yang luas, baik domestik maupun ekspor, (antara)


Sumber : Bisnis Indonesia 14 Mei 20110,hal.i7

Tiram mutiara

Tiram mutiara



Budidaya tiram mutiara selama ini dianggap rumit dengan waktu pemeliharaan yang bisa lebih dari 3 tahun. Tak heran usaha ini lebih banyak dilakukkan oleh pengusaha bermodal besar.

Tetapi anggaapan tersebut kini berhasil dipatahkan oleh badan riset perikanan budidaya (brkp). Pusat riset perikanan budidaya (prpb)-bagian dari brkp- meluncurkan program ilmu pengetahuan dan teknologi untuk masyarakat (iptekmas) untuk pendederan tiram mutiara bagi nelayan tradisional. Program ini dilaksanakan oleh balai besar riset perikanan budidaya laut (bbrpbL)gondol,bali. Dimulai dari riset pembenihan dan dilanjutkan pendederan dilaut.

Dengan iptekmas, nelayan bisa melakukan pendederan tiram dari ukuran spat 4-5’mm hingga ukuran 1cm atau ukuran 5-6 cm tergantung permintaan pasar. Untuk mencapai ukuran 1cm butuh waktu 1bulan dan 7-8 bulan untuk mencapai 5-6cm. Sementara untuk pembesaran hingga mencapai ukuran siap produksi mutiara yang memerlukan waktu sekitar 3tahun dilakukan oleh pengusaha bermodal besar.

Persiapan budidaya

Lokasi untuk budidaya pendederan tiram mutiara antara lain perairan yang subur (kaya plankton), jauh dari jangkauan air tawar berlebih karena spat dan benih rentan terhadap salinitas rendah, terhindar dari banjir dan erosi, arus tidak terlalu kuat agar KJA tidak hanyut, kedalaman ideal maksimum 30 m, substrat dasar pasir atau pecahan karang.

Selain itu hindari kondisi iklim buruk. Bila kondisi sangat rawan, sebaiknya tidak melakukan kegiatan pendederan. KJA bisa diamankan kedarat dan waktu yang ada dimanfaatkan untuk persiapkan. Unit rakit atau KJA sebaiknya tidak terlalu besar supaya mudah dipindahkan.

Wadah budidayanya, KJA terbuat dari bambu dan pelampung drum foam. Untuk budidaya ikan degan unit terkecil 8 m x 8 m terdiri atas 4 lubang ukuran 3 m x 3 m dan jalan setapak untuk kerja lengkap dengan tali jangkar, tali pengikat, dan pemberat 60 kg terbuat dari cor beton.

Penebaran spat

Telur yang menetas dihatchery (tempat pembenihan ) dipelihara selama 45 hari, sehingga diperoleh spat dengan ukuran 4-5 mm. Spat menempel pada lembar kolektor yang berupa paranet (waring) ukuran 30 cm x 30cm. Jumlah yang menempel bervariasi, sekitar 100-200 perlembar kolektor. Kolektor dengan spat ukuran 4-5mm bisa ditebar kelaut,dimasukan kedalam frame kubus ukuran 35 cm x 50 cm x 70 cm (terbuat dari 2 kubus yang disusun bertingkat). Penebaran biasanya dua kubus memuat 10 lembar kolektor dan kemudian dimasukan ke dalam kantor waring dengan ukuran mata halus, untuk menghindari predator atau pemangsa dan gangguan hewan air dari luar. Tugas nelayan,membersihkan / mencuci kantong waring itu setiap 1-2 minggu agar aliran air yang membawa makanan untuk spat dan benih berjalan dengan baik. Jika ada spat jatuh karena penempelan kurang kuat atau pengaruh arus dll, maka masih bisa diselamatkan. Pada saat pencucian, benih yang rontok bisa dipindahkan kewaring yang baru dan selama masih hidup benih ini akan segera mencari tempat untuk menempel kembali.setelah umur 1bulan dilakukan grading atau seleksi ukuran sekaligus menghitung jumlah benih ukuran 1cm yang dihasilkan dari total tebar spat. Benih ukuran 1 cm kemudian dipindahkan dari lembar kolektor (dengan cara memotong bisusnya) kedalam waring bendera. Tiap lembar waring bendera bisa berisi 100 benih siap jual. Jika untuk dibesarkan kembali menjadi ukuran 5-6 cm hanya di isi 50 benih. Untuk pemeliharaan selanjutnya hingga ukuran 3 cm masih perlu diamankan dari gangguan predator. Setelah ukuran 3-4 cm baru kemudian dimasukan kedalam waring anakan dan bisa dipelihara tanpa kubus hingga mencapai ukuran 5-7 cm yang banyak diminati pembeli.

Panen,transportasi dan pemasaran

Panen dimulai dengan melakukan grading ukuran karena harga berbeda setiap cm. Untuk transportasi kering, dilakukan dengan styrofoam ukuran 35 x 70 cm, dasar styrofoam diisi dengan spons yang dibasahi dengan air laut, handuk atau sejenisnya.

Benih ukuran 1 cm dalam waring bendera atau anakan ukuran 5 cm dimasukan dan disusun hingga styrofoam hampir penuh. Lakukan secara hati-hati jangan di tekan. Kemudian dibagian paling atas dan samping ditaruh es batu air laut yang dibuat dalam botol plastik dan dibungkus koran kepadatan styrofoam ukuran 35 x 70 cm bisa mencapai 6000 ekor benih ukuran 1 cm atau 500 hingga 1000 ekor benih ukuran 5 cm. Styrofoam ini mampu diangkut selama 12 jam untuk benih ukuran 1 cm dan 15 jam untuk benih yang berukuran lebih besar yaitu 5 cm tanpa terjadi kematian berarti program iptekmas ini juga menjalin kerja sama dengan pengusaha sebagai pembeli produk atau benih yang akan dihasilkan dari program tersebut. Ada dua ukuran yang diminta yaitu ukuran 1 cm atau umur 1 bulan dengan harga Rp 300-Rp 500 per ekor benih. Sedangkan ukuran besar 5- 7 cm atau umur 7-8 bulan dibeli dengan harga Rp 1000-Rp 2000 per cm dan semakin besar semakin mahal. Untuk tahap awal nelayan cenderung menjual ukuran kecil karena lebih cepat mendapatkan uang. Pemeliharaan untuk ukuran besar (>3cm) lebih mudah karena cangkangnya sudah kuat, adaptasi lingkungan sudah baik, tdak rawan terhadap predator. Tapi untuk ukuran 2-4 cm dinilai paling kerisis terhadap kematian karena berbagai penyebab seperti predator, lingkungan dll. Dan biasanya kematian tinggi pada umur tersebut. Karena itu pasar yang sekarang diminati adalah ukuran 1 cm atau ukuran lebih besar dari 5 cm. Sementara itu untuk menambah keuntungan, beberapa petani memadukan pendederan tiram mutiara(produksi benih ukuran besar 5-6 cm) dengan memanfaatkan bagian tepi kja ikan untuk menggantungkan waring anakan. 1 kja mampu memelihara 15000 benih yang hanya dikerjakan oleh satu orang dengan 8 hari kerja per bulan untuk membersihkan waringnya. Peluang lainnya, petani bisa memanfaatkan lubang kja bagian dalam untuk memelihara lobster. Baby lobster ukuran campuran dibeli dari nelayan dengan harga Rp120.000 per kg. Kemudian dipelihara selama 3 bulan dan dipanen dengan harga Rp270.000 perkg, dengan ukuran sekitar 10 ekor per kg.


sumber: majalah trobos edisi april 2010 hal 84-85

Pembenihan Ikan Cobia Bahan Baku Sashimi

Pembenihan Ikan Cobia Bahan Baku Sashimi
Oleh : Slamet Subyakto, A Romadlon dan Sofiati


Ikan cobia (Rachycentron candum) termasuk ikan pelagis yang hidup di perairan tropis dan sub tropis, dan banyak di temukan di Samudra Pasifik, Atlantik dan sebelah barat dya Meksiko. Di Indonesia ikan ini serinh di jumpai di sekitar peraiaran Pulau Bali.

Bentuk tubuhnya menyerupai terpedo dengan kepala dan mulut relatif lebar dibandingkan bagian tubuh lainnya. Sisik berukuran kecil dan terbenam dalam kulit yang tebal. Badan berwarna coklat gelap dengan bagian bawah berwarna kekuning-kuningan, dan terdapat dua garis tebal keperakan sepanjang tubuh pada ikan yang masih muda. Pada habitat aslinya ikan cobia ini banyak ditemukan dengan panjang 80-100 cm, dan dapat tumbuh maksimal sepanjang 180 cm.

Ikan cobia hasil budidya pada Karamba Jaring Apung (KJA) di laut dapat dipanen setela ukuran mencapai 25-35 cm denagan masa pemeliharan 80-100 hari. Pemeliharan yang lebih lama tetap mem berikan keuntungan karena ikan ini mempunyai pertumbuhan yang cepat, dimana ikan-iakan cobia denagan berata awal berukuran 5-7 kg dapat ditingkatkan bobot tubuhnya sebesar 1-2 kg/bulan. Pemeliharaan selama 20 bulan pada KJA akan di peroleh ikan cobia dengan berat antara 12-15 kilogram.

Ikan cobia yang telah dipanen dari KJA dapat diekspor ke USA, Taiwan, dan pasar lokal ikan ini masih bernilai ekonomis. Pemasaran biasnya dalam bentuk ikan beku dan merupkan bahan pembuatan sashimi. Pada pangsa pasar Asia lebih diminati selaian dagingnya yaitu bagian gonad ikan, perut dan kepala untuk bahan sup.

Namun masalahnya, kendala utama pada budidaya ikan jenis ini adalah benih yang belum tersedia secara kontinyu sehingga beberapa pengusah mencoba mengimpor benih dari Taiwan. Di Indonesia upaya pematanagan gonad ikan cobia melalui manajemen pakan yang baiak telah di lakukan sejak tahun 2005 oleh Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol, Bali dan telah berhasil dipijahkan pertama kalinya pada Bulan Agustus 2005 denagn jumlah telur sebanyak 880.000 butir. Pertambahan panjang larva cobia umur 1 hari panjang total 3,3-3,47 mm berwarna coklat agak kehitaman.

Pada umur 3 hari panajang total 4,25-4,75 mm dan larva cobia akan melalui makan rotifer dan nauplii copepoda. Pada umur 8 hari panajng total 6,5-6,7 mm. Pada D-10 panajng total 6,9-7,4 mm, umur 15 hari panjang total 16,6-17,3 mm. umur 20 hari panjang total larva 18,7-19,8 mm.

Teknologi
Pemeliharan larva cobia tidak bisa terlepas dari pakan alami rotifer, dimna rotifer itu memiliki keunggulan: mudah dikultur, tingkat produksinya tinggi, mempunyai toleransi yang tinggi terhadap lingkungan, berukuran kecil dan bergerak lambat sehingga larva mudah menangkapnya. Kualitas rotifer perlu di perkaya sehingga rotifer memiliki kualitas nutrisi yang tinggi. Sebagian pakan larva ikan, rotifer pada umumnya bersifat non selektif filter feeder. Pakan yang berupa partikel-partikel terdiri dari fitoplankton, detritus dan bakteri di ambil terus menerus sambil berenang. Secara umum ukuran pakan yang masuk kedalam mulut rotifer adalah partikel dengan kisaran diameter 10-20 mikron.

Beberapa jenis phytoplanton dapat di jadikan pakan rotifer di antaranya Chlorella, Isocrysis, Dunaliella, Monocrysis, tepung spirullina, selain itu bisa menggunakan yeast dan pakan komersil. Denagn sifat rotifer yang filter feeder memudahkan untuk aplikasi beberapa jenis bahan pengkayaan terutama asam lemak essensial (EPA dan DHA), selain itu dapat juga diberikan vitamin. Kandungan asam lemak pada rotifer dipengaruhi kepadatan pakan yang diberikan yang berpengaruh secara kuantitatif tetapi tidak besar pengaruhnya secara kualitatif.

Pemelihara larva ikan cobia di Balai Budidaya Air Payau situbondo telah berhasil dilakukan pada bak beton berukuran 10 m²yang telah terisi air laut yang sudah difiltrasi dan disterilisasi serta dilengkapi dengan sistem aerasi dan saluran pengaturan air. Pada uji coba tersebut larva ikan cobai berumur 1 hari (D-1) diperoleh dari Balai Besar Riset Perikana Budidaya Laut Gondol, Bali. Larva ssebanyak 60.000 ekor ditebar pada 2 bak pemelihara larva sehingga masing-masing bka 30.000 ekor.

Cara pemeliharaan larva ikan cobia meliputi :

* Pada hari pertama sampai hari ke - 10 diberi minyak cumi dan ditambahkan Chlorella sp dengan kepadatan 50.000-100.000 sel/ml.
* Pada hari kedua (D-2) diberi pakan berupa rotifer denagan dosis pemberian rotifer 10-15 individu/ ml, Rotifer setipa akan di berikan ke larva, terlebih dahulu dimasukan ke dalam ember 10 liter denagn kepadatan 1000 sel/ml kemudian di perkaya denagn bahan pengkaya EPA dan DHA, vitamin C, dan probiotik (Bacillus) kemudian dibiarkan selama 2 jam untuk memberikan bahan-bahan pengkayaan tersebut dimakan oleh rotifer.
* Nauplii artemia diberiakan mulai larva D-8 dengan dosis pemberian 0,5-1 ind./liter sampai D 20.
* Mulai hari ke-10 pakan buatan di berikan denagn dosis pembeerian 0,5-2 ppm tiap kali pemberian denagn frekuensi 3 kali sehari sampai panen. Udang rebon (Mysid) mulai di berikan pada D-20 sampai panen.
* Grading mulai dilalukan pada D-22.

* Kualitas air diukur secara periodik setiap 5 hari sehari.

Panen benih ikan cobia dilakukan pada saat larva berumur 25 hari, dengan air diturunkan secara perlahan-lahan, dan ikan di ambil dan dihitung menggunka gayung. Dari hasil panen di BBAP Situbondo denagn menggunakn rotifer yang diperkaya dengan EPA, DHA, Vitamin C dan probiotik, pada bak pertama berhasil dipanen benih cobai sebanayk 3.421 ekor(sr=12,3%), sedangkan pada bak kedua 3.680 ekor (SR=12,3%) atau rata-rata SR sebesar 11,85%.

Hasil pengukuran parameter kualitas air selama pemeliharan larva masih pada kisaran normal untuk kehidupan benih ikan yaitu DO: 4,66-5,87 ppm, pH: 7,6-7,75, salinitas: 31-32 ppt suhu: 31-32ºC, ammoniak: 0,0139-0,048 ppm dan nitrit:1,68-2,515 ppm.

Ikan cobia telah berhasil dibenihkan dan dibududyakan, dan ini menjadikan peluang yang sangat besar untuk pengikatan produksi ikan budidaya. Pengikatan budidaya ikan cobia dapat dilakaukan dengan pengikatan jumlah KJA untuk pemeliharaan ikan cobia dan pengikatan jumlah benih yang di perlukan untuk budidaya tersebut. Upaya inipun akan berhasil jika pasr terbentuk dan permintah terus ada, sehingga upaya pengingkatan produksi seyogyanya mengikuti peningkatan permintaan pasar.

Sumber : Majalah Minapolotan Edisi Februari 2010

ikan terbang - Flyingfish

Flyingfish

Ikan terbang sirip layar
Parexocoetus brachypterus


Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Actinopterygii
Ordo: Beloniformes
Famili: Exocoetidae




Genera

Cheilopogon
Cypselurus
Danichthys
Exocoetus
Fodiator
Hirundichthys
Oxyporhamphus
Parexocoetus
Prognichthys

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Ikan_terbang

Ciri-ciri dan Klasifikasi Ikan Terbang

Ciri-ciri dan Klasifikasi

http://hobiikan.blogspot.com

Ikan terbang merupakan salah satu ikan pelagis kecil yang banyak ditemukan diperairan
tropis maupun sub tropis dengan kondisi perairan tidak keruh dan berlumpur. Ikan terbang merupakan ikan yang memiliki banyak jenis, menurut klasifikasinya ikan terbang termasuk dalam Klas Actinopterygii, Subklas Neopterygii, Super ordo


Acanthopterygii, Ordo Beloniformes, Sub Ordo Belonoidei, Famili Exocoetidae dan memiliki 9 genus. Ikan terbang dari genus Cheilopogon terdiri 33 spesies diantaranya Cheilopogon ebei, C. agoo, genus Cypselurus terdiri dari 12 spesies diantaranya Cypselurus angusticeps, C. callopterus; genus Danichthys terdiri dari 1 spesies yaitu Danichthys i1ma. genus Exocoetus terdiri dari 5 spesies diantaranya Exocoetus gibbosus dan E. monocirrhus-, genus Fodiator terdiri dari 2 spesies yaitu Fodiator acutus dan E rostratus; genus Hirundichthys terdiri dari 8 spesies diantaranya Hirundichthys oxycephalus dan H. rondeletii;

genus Oxyporhamphus terdiri dari 4 spesies diantaranya Oxyporhamphus convexus dan 0. micropterus ; genus Parexocoetus terdiri dari 3 spesies diantaranya Parexocoetus brachypterus; dan genus Prognichthys terdiri dari 2 spesies diantaranya Prognichthys brevipinnis dan P gibbifrons.
Ikan terbang memiliki ciriciri yaitu panjang rata-rata 18 cm, tubuhnya bulat memanjang, bagian atas tubuh berwarna gelap, bagian bawah tubuh mengkilap, sirip dorsal dan anal transparan, sirip ekor abu-abu, sirip ventral keabu-abuan di bagian atas dan terang di bagian bawah, sirip pectoral abu-abu tua dengan belang-belang pendek.

Duri- duri lemah pada sirip dorsal berjumlah 10-12, pada sirip anal 1-12, pada sirip pectoral 14-15 dengan sirip pertama tidak bercabang, sirip ventral tidak mencapai sirip dorsal dengan pangkal sirip ventral lebih dekat ke ujung posterior kepala daripada ke pangkal ekor, garis lateral terletak pada bagian bawah tubuh. sisik sikloid berukuran relatif besar dan mudah lepas dengan sisik pradorsal 32-37 dan jumlah sisik pada poros tubuh 51-56.
sumber : Warta Pasar Ikan, Ditjen P2HP, DKP, 2009

Buaya Muara


Buaya Muara



Buaya muara (Crocodylus porosus) dikenal sebagai komunitas buaya terbesar di dunia. Perbedaan buaya ini dengan jenis lainnya adalah sisik belakang kepalanya yang kecil atau tidak ada, sisik dorsalnya bertunas pendek berjumlah 16 - 17 baris dari depan dan ke belakang biasanya 6 - 8 baris. Buaya muara memiliki ukuran yang lebih besar dibanding buaya air tawar yaitu pada rahang atas dan bawah serta ukuran gigi. Mereka memiliki warna yang bervariasi dari warna abu-abu hingga hijau tua terutama pada buaya dewasa, sedangkan buaya muda berwarna lebih kehijauan dengan bercak hitam dan belang pada ekornya.

Pejantan dapat tumbuh hingga 7 meter (23 kaki), namun sebagian besar adalah kurang dari 5 meter. Betina biasanya memiliki panjang kurang dari 4 meter dan dapat mulai bertelur dan membuat sarang sekitar 12 tahun. Maksimum jangka hidup tidak diketahui namun diperkirakan bahwa mereka dapat hidup setidaknya 70 sampai 100 tahun. Buaya jenis ini menempati habitat muara sungai, kadang dijumpai di laut lepas.

Makanan utamanya adalah ikan walaupun dapat menyerang manusia dan babi hutan yang mendekati sungai untuk minum. Persebaran buaya ini hampir di seluruh perairan Indonesia.
Buaya muara berkembang biak pada musim hujan (bulan Nov-Mar) dan membangun sarang yang sebagian besar dari tumbuh-tumbuhan dan gundukan tanah. Sarang biasanya terletak di rerumputan atau pinggir hutan di sepanjang sungai atau rawa air tawar. Di dalam sarang, tersimpan sekitar 5o telur dan inkubasi berlangsung antara 65 - 110 hari- Buaya betina biasanya yang menjaga sarang dengan seksama dan karenanya buaya tersebut menyembunyikan dalam kubangan terdekat. Suhu inkubasi menentukan jenis kelamin dari telur buaya yang ditetaskan,pada suhu sangat tinggi atau suhu rendah akan memproduksi buaya betina, dan suhu dari 31 - 32 derajat celciusakan menghasilkan buaya jantan. Dari telur - telur yang disimpan hanya sekitar 25% saja yang akan menetas.

sumber : Warta Pasar Ikan, Dir. Pemasaran dalam Negeri, Dirjen P2HP, Departemen Kelautan dan Perikanan

kepiting kenari (Birgus latro)



(Pete Oxford/ naturepl.com)



kepiting kenari (Birgus latro)
kepiting ini merupakan satu-satunya spesies dari genus Birgus dan famili Coenobitidae. silsilah ke atas menunjukan
bahwa binatang satu ini masih sekerabat dengan kepiting. Untuk beberapa daerah kepiting ini disebut sebagai ketam kenari dan disebut
juga kepiting kelapa karena hidupnya disekitar pohon kelapa

kepiting/ketam kenari/kepiting kelapa masih ada pihak yang lebih yakin bahwa hewan tersebut sebagai umang-umang dan merupakan
anthropoda darat terbesar di dunia
melihat dari cara hidupnya kepiting kenari termasuk kedalam terrestrial hermit crab, artinya bukan 100% kepiting
karena ketika masih kecil dan belum mampu mengeraskan bagiandari badannya untuk melindungi bagian perut binatang ini memanfaatkan
cangkang binatang lain yang sudah mati.

kepiting kenari termasuk binatang atraktif karena dapat mengangkat benda hingga 29 kg, dan memanjat pohon kelapa hingga 6 meter
kepitingkenari terberat pernah ditemukian yaitu sebesar 4 kg panjang 40 cm dan bentangan kaki mencapai 2 meter.
(dari berbagai sumber)

Budidaya Teripang Pasir

Teripang Pasir

Di perairan Indonesia terdapat banyak jenis teripang. Namun demikian, yang memiliki nilai ekonomi tinggi hanyalah beberapa jenis saja. yaitu teripang pasir (Holothuria scabra), teripang perut hitam (H. atra), teripang susuan (H. nobilis), teripang perut merah (H. edulis), dan teripang nanas (Thelenota ananas). Teripang merupakan lauk yang lezat dan disukai masyarakat Cina dan bernilai jual tinggi di pasaran. Teripang diperdagangkan dalam bentuk awetan/kering.




Belum banyak negara di dunia yang membudidayakan teripang, Satu jenis teripang yang sudah banyak dibudidayakan di Indonesia ialah teripang pasir (Holothuria scabs). Budi daya teripang pasir memungkinkan dilakukan oleh masyarakat pantai. Hal ini disebabkan teknik budi dayanya cukup sederhana dan investasi yang diperlukan relatif kecil.


A. Sistematika
Famili Holothuridae
Species Holothuridae scabra
Nama dagang sea cucumber, beche-de-mere
Nama lokal mentimun laut



B. Ciri-ciri dan Aspek Biologi

1. Ciri fisilk
Bentuk badan memanjang mirip mentimun. Oleh karma itu, hewan ini biasa disebut mentimun laut atau sea cucumber. Mulut dan anus terdapat di kedua ujung badannya. Bagian punggun-nya
berwarna abu-abu dengan pita putih atau kekuningan memanjang secara horizontal. Bagian bawah tubuhnya berwarna putih dan berbintik-bintik hitam/gelap.


2. Pertumbuhan dan perkembangan
Teripang pasir dapat tumbuh sampai ukuran 40 cm dengan bobot 1,5 kg. Kematangan gonad hewan air berumah dua (diosis) ini pertama kali terjadi pada ukuran rata-rata 220 mm. Seekor teripang betina mampu menghasilkan telur dalam jumlah yang sangat banyak hingga mencapai sekitar 1,9 juta butir telur. Daur hidup hewan ini dimulai dengan telur yang dibuahi yang akan menetas dalam waktu seitar 2 hari.

C. Pemilihan Lokasi Budi Daya
Lokasi budi daya teripang yang baik memenuhi kriteria sebagai berikut.
- Dasar perairan terdiri dari pasir.
- Pasir berlumpur yang ditumbuhi lamun (seagrass).
- Pada surut terendah masih tergenang air yang dalamnya antara
4o-8o cm.
- Kecerahan air di atas 75 cm dan arus tidak terlalu kuat serta terlindung dari angin yang kencang.
- Perairannya tidak tercemar dan mudah dijangkau.
- Salinitas antara 24-33 ppt serta suhu 25-30 derajat celcius


D. Wadah Budi Daya
di lokasi terpilih dibangun kurung tancap terbuat dari pagar bambu atau kayu. Kurung tancap tersebut berlapis waring nilon ukuran mata 0,2 cm di sebelah dalamnya. Pagar bambu/papan harus tertanam cukup dalam dan kuat ke dasar perairan sehingga tidak terjadi kebocoran pada. kurungan. Luas kurungan sekitar 50 M2 atau disesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya, penebaran benih teripang berukuran 40-60 g sebaiknya kepadatannya 6-8 ekor/m2
atau teripang berukuran lebih besar, yaitu antara 70-100 g dengan padat tebar 4-6 ekor/m2


E. Pengelolaan Budi Daya

1. Penyediaan benih
Benih teripang yang dipilih seragam, baik jenis maupun ukuran. Ciri benih yang baik adalah tubuhnya berisi dan tidak cacat. Hindari juga pemilihan benih yang sudah mengeluarkan cairan warna kuning.

Sebaiknya pengangkutan benih tidak dalam waktu lama (lebih dari satu jam) dan dalam keadaan tertumpuk/padat. Pengangkutan benih dilakukan pada pagi hari atau malam hari atau saat suhu rendah. Wadah yang digunakan dalam pengangkutan diberi substrat pasir, khususnya untuk sistem pengangkutan terbuka.


2. Penebaran. benih
Benih teripang dengan bobot awal 4o-6o g ditebar ke dalam kurung tancap dengan kepadatan 5-6 ekor/m 2. Penebaran dilakukan pada pagi, sore hari, atau saat suhu udara/air rendah. sebelum benih ditebar, benih perlu diadaptasikan terlebih dahulu untuk kondisi salinitas dan air di lokasi budi daya.


3. Pemberian pakan
Pakan teripang terdiri dari mikroorganisme, seperti bakteri dan ptotozoa, jasad benthos, makro alga, dan detritus. Selama pemeliharaan yang berlangsung sekitar 4-5 bulan, benih teripang diberi pakan berupa kotoran ayam, kompos, atau dicampur dedak 0,1 kg/m2 sebanyak satu kali dalam seminggu. Kotoran ayam atau dedak halus sebelum ditebar dicampur dengan air bersih, lalu diaduk merata agar tidak hanyut atau terapung.

Pemberian pakan tersebut dilakukan pada saat air surut. Pemberian kotoran ayam berfungsi sebagai pupuk untuk merangsang pertumbuhan diatomae yang merupakan pakan utama teripang.


F. Pengendalian Hama dan Penyakit
Jenis hama yang sering dijumpai datam kurungan
teripang adalah kepiting, bulu babi, dan bintang laut. Pengendaliannya dengan pengambilan hama secara manual dengan periode tertentu. Sementara itu, jenis penyakit yang menyerang

teripang dari famili Holothuroidae belum banyak diketahui karena budi dayanya masih belum berkembang.


G. Panen
Teripang ukuran konsumsi dengan bobot 300-500 g dapat dicapai setelah dipelihara selama 4-5 bulan untuk memanennya. Panen teripang dilakukan pada saat air surut terendah. Panen dilakukan beberapa kali karena banyak yang membenamkan diri dalam pasir atau Lumpur. Untuk mengetahui apakah teripang sudah terpanen semuanya, dilakukan pengecakan pada saat air pasang karena teripang senang keluar dari persembunyiannya setelah air pasang.

sumber : Penebar Swadaya, 2008

BUDIDAYA KIMA

budidaya Kima

Perairan Indonesia merupakan wilayah penyebaran 4 spesies kima, yaitu kima sisik (T. squamosa), kima besar (T. Maxima), kima lobang (T. crocea), dan T. derasa. Selain itu, terdapat pula spesies kima lain, yaitu H. hypophus, T. gigas, dan H. porcellanus.



Tridacna merupakan jenis kekerangan yang terkenal karena ukurannya relatif besar dan cangkangnya dimanfaatkan sebagai bahan baku industri hiasan. Karena perburuan yang intensif, jenis kekerangan ini berkurang populasinya sehingga mendapat perlindungan dengan dimasukkannya ke dalam CITES. Jenis kerang ini belum tercantum di dalam buku statistik produksi nasional maupun global.


A. Sistematika

Famili : Tridacnidae
Spesies : Tridacna spp
Nama dagang : giant clam
Nama lokal : -


B. Ciri-ciri dan Aspek Biologi
I. Ciri fisik
cangkangnya memiliki celah byssus tanpa gigi-gigi pengunci. Apabila dibentangkan sepenuhnya, mantelnya mencuat secara lateral melewati Ujung cangkangnya.


2. Pertumbuhan dan perkembangan
Laju pertumbuhan kima berbeda-beda menurut spesiesnya.
Jenis kima yang terbesar ukurannya, yaitu T. gigas dapat mencapai ukuran lebih dari satu meter dan bobotnya sekitar 20o kg.

Jenis kima lain yang berukuran besar adalah T. derasa yang panjangnya 6o cm. Ukuran jenis-jenis lain, seperti T squamosa dan T maxima berisar 35-40 cm. Di antara ke-5 jenis Tridacna yang terkeeil ukurannya adalah T. crocea. Ukuran ter panjang dari jenis kima tersebut selitar 15 cm.


C. Pemilihan Lokasi Budi Daya
Lokasi terbaik untuk budi daya kima adalah daerah yang memiliki air laut jernih (kecerahan > 10 m) dan berkadar garam tinggi (34-35 ppt) sepanjang tahun.


D. Wadah Budi Daya
Upaya budi daya kima pada dasarnya mengarah pada kegiatan konservasi atau restocking/stock enhancement. Yang jelas kegiatan budi dayanya terutama dalam hal penyediaan benih. Untuk kegiatan pendederan digunakan tangki-tangki beton maupun fiberglass.


Dari aspek ekologis, hewan ini merupakan salah satu organisms laut yang hidup di ekosistem karang. Beberapa jenis kima hidup menempel pada. karang. Wadah budi daya untuk pembesaran kima adalah perairan karang terbuka. Benihnya yang sudah siap tebar adalah setelah masa juvenil yang dipelihara di bak selama 3-4 bulan.

E. Pengelolaan Budi Daya

1. Penyediaan benih
Kerang ini melalui fase trocophore, yaitu larva ditetaskan dari telur berubah menjadi veliger. Selanjutnya, veliger berubah lagi menjadi pediveliger dan akhirnya menjadi kima muda.
yahapan pembenihan (hatchery) meliputi pemeliharaan larva yang dihasilkan dari telur yang dibuahi. Pelaksanaannya di dalam wadah yang ditempatkan di dalam ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor).


2. Pendederan
Tahapan pendederan (nursery) berupa pemeliharaan kerang muda dari ukuran panjang, cangkang 0,2 mm hingga mencapai kima muda berukuran 20-30 mm. Kegiatan ini dilaksanakan menggunakan tangki-tangki di hatchery (panti benih).


3. Tahapan pendederan di laut
Pada tahapan ini kima muda yang berukuran sekitar 20 mm dipelihara dalam wadah hingga panjang cangkangnya. mencapai 200 MM.


4. pembesaran
Tahapan pembesaran, yaitu dari ukuran 200 mm panjang cangkang hingga siap panen di lain. Tahapan ini belum dilaksanakan secara komersial karena belum ekonomis.


F. Pengendalian Hama dan Penyakit
Parasit pyramidellid menyerang dan menyebabkan kematian 100% dari T. squamosa yang digunakan dalam percobaan pemeliharaan. Kima juga sering menjadi mangsa gurita (oktopus). Seekor gurita dapat memangsa lebih dari 15 ekor kima dalam waktu beberapa malam. Penanggulangan penyakit tersebut belum banyak diketahui


G. Panen
Pembesaran kima dilakukan pada perairan terbuka. Istilah panen harus dibedakan antara pengumpulan/penangkapan lama dari alam yang mestinya dilarang, dan memanen basil kegiatan stock enhancement. Untuk ukuran ekspor (panjang 15-20 cm), lama pemeliharaan sekitar 2 tahun. Pemanenan dilakukan dengan cara diambil pakai tangan dibantu alat tertentu pada area yang diberi tanda, bahwa daerah tersebut adalah lokasi stock enhancement. Pemanenan dalam kondisi hidup, misalnya untuk mengisi akuarium, karena harganya akan lebih mahal dibanding kima mati.

sumber : Penebar Swadaya 2008

Budidaya kerang Abalon

Abalon

Abalon merupakan komoditas perikanan bernilai tinggi, khususnya di negara-negara maju di Eropa dan Amerika Utara. Biota laut ini dikonsumsi segar atau kalengan. Di Indonesia, jenis siput ini belum banyak dikenal masyarakat dan pemanfaatannya baru terbatas di daerah-daerah tertentu, khususnya di daerah pesisir.

Daging abalon mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi dengan kandungan protein 71,99%, lemak 3,20%, serat 5,6o%, dan abu 11,11%. Cangkangnya mempunyai nilai estetika yang dapat digunakan untuk perhiasan, pembuatan kancing baju, dan berbagai bentuk barang kerajinan lainnya. Produksi abalon saat ini lebih banyak diperoleh dari tangkapan di alam. Hal tersebut akan nienimbulkan kehawatiran terjadinva penurunan populasi di alam.



A. Sistematika
Famili : Haliotidae
Species Haliolis assinina, Holiotis squammota
Nama dagang : abalone, donkey's ear
Nama lokal : kerang lapar-kenyang, siput mata tujuh


B. Ciri-ciri dan Aspek Biologi

1. Ciri fisik

Abalon mempunyai situ cangkang yang terletak pada bagian atas. Pada. cangkang
tersebut terdapat lubang-lubang dengan jumlah yang sesuai dengan ukuran abalon. Semakin besar ukuran abalon, semakin banyak lubang yang terdapat pada cangkang.

cangkang berbentuk telinga, rata, dan tidak memiliki overculum. Bagian cangkang sebelah dalam berwarna putih mengkilap, seperti perak. Siput ini memiliki mata tujuh.


Abalon banyak bergerak dan berpindah tempat dengan menggunakan satu organ yaitu kaki. Gerakan kaki yang sangat lambat sangat memudahkan predator untuk memangsanya.


2. Pertumbuhan dan perkembangan
H. assinina termasuk salah satu jenis abalon yang berukuran relatif besar. Jenis ini dapat mencapai ukuran 8 - 10cm dengan bobot 30-40 g/ekor dalam waktu pemeliharaan 12-14 bulan.
Abalon tergolong hewan berumah dua atau diocis (betina dan jantan terpisah).


Pembuahan telur dan sperma terjadi di luar tubuh, dimulai dengan keluarnya sperma ke dalam air yang segera diikuti keluarnya telur dari induk betina. Kematangan gonad induk jantan maupun betina berlangsung sepanjang tahun dengan puncak memijah terjadi pada bulan Juli dan Oktober. Telur yang siap dipijahkan berdiameter 100 mµ. Di laboratorium telur yang dipijahkan berdiameter rata-rata 183 mµ.


C. Pemilihan Lokasi Budi Daya

Abalon biasa ditemukan pada daerah yang berkarang yang sekaligus dipergunakan sebagai tempat menempel. Penyebaran abalon sangat terbatas, tidak semua pantai yang berkarang terdapat abalon. Umumnya abalon tidak ditemukan di daerah estuarin.

Lokasi untuk pembesaran abalon adalah perairan karang yang terlindung dari gelombang dan angin yang kuat; abalon membutuhkan media air yang bersih dan jernih. Nilai parameter kualitas air untuk suhu 27-30 derajat celcius, salinitas 29-33 ppt, pH antara 7,6-81 dan DO 3,27-6,28 ppm. Jika akan dipelihara di bak, kualitas airnya harus diusahakan sama seperti di perairan karang.



1). wadah budidaya

Wadah budi daya berupa tangki fiberglass atau bak beton berukuran 3 m X 2 M X 1 m, bentuk segi empat yang berada dalam ruang tertutup (sistem indoor). Sebagai tempat penempelan abalon dipergunakan lembaran plastik tipis bergelombang ukuran 30 cm x 40 cm sebanyak 21 lembar yang dipasang pada posisi tegak lurus menggantung dalam bak pemeliharaan.

Pasilitas pembesaran yang digunakan berupa keranjang plastik berbentuk silinder berukuran tinggi 12 cm, diameter 1o cm, dan bermata jala 0,5 cm. Keranjang plastik tersebut diisi 3o benih abalon berukuran panjang cangkang 18,23-18,34 mm. Ke dalam keranjang dimasukkan lempeng PVC yang dibengkokan sebagai substrat dan pelindung. Keranjang tersebut digantungkan pada rakit yang ditempatkan di perairan teluk


E. Pengelolaan Budi Daya

1. Penyediaan benih
Budi daya abalon telah dilakukan di Eropa, Amerika Serikat, Australia, Cina, dan Taiwan. Di Indonesia, budi dayanya masih dalam bentuk rintisan. Pembenihan abalon dimulai dengan pematangan calon-calon induk berukuran panjang 7-10 cm di dalam tangkifiberglass atau bak semen. Wadah tersebut berukuran 11 ton. Selama dalam proses pematangan, abalon diberi makan berupa rumput laut Gracillaria.


2. Penebaran
Saat ukuran cangkang sudah mencapai panjang 5 mm, abalon dipindahkan ke dalam bak yang lebih besar, yaitu berukuran 1.000 liter. Pada awal proses pembesaran, abalon diberi pakan mikroalga yang menempel pada lembaran plastik. Secara bertahap pakan diganti dengan jenis Gracilaria sp. dan Acantophora sp. Selain itu, diterapkan sistem air mengalir dengan laju pergantian air sebesar 400% per 24 jam.


Pemberian pakan
Abalon merupakan hewan herbivora, yaitu pemakan tumbuh-tumbuhan dan aktif makan pada suasana gelap. Hewan ini menyukai alga merah, alga cina cokelat, dan alga hijau termasuk rumput laut. Selama pemeliharaan yang berlangsung 6 bulan, abalon diberi pakan Gracillaria sp. sebanyak 10% bobot abalon. Angka sintasan (survival rate) antara 90-95,5%. Sementara itu, pertumbuhannya dari bobot awal 1,39 g (18,3 min panjang cangkang) menjadi 8,40 g (32
cangkang) (32,78 mm panjang cangkang).


4. Pembesaran

Pembesaran abalon di Indonesia masih dalam taraf percobaan. Pembesarannya bisa dengan metode tancap (pen-culture) dan metode rakit.


F. Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama merupakan hewan pengganggu dan pemangsa dalam budi daya abalon. Jenis predator dalam budi daya abalon adalah kepiting laut. Upaya pencegahan dengan cara membersihkan hama-hama tersebut dengan cara manual pada periode waktu tertentu.

Kematian massal abalon pernah terjadi di dalam tangki pembesaran yang diatasi dengan penggunaan streptomycin dan neomycin. Adapun patogen yang diduga sebagai penyebab kematian abalon adalah bakteri.

G. Panen
Pemanenan abalon dilakukan tanpa menggunakan alat , tetapi menggunakan tangan setelah tercapai ukuran pasar. Pada daerah terpencil, abalon yang ditangkap nelayan diawetkan dengan cara direbus, kemudian dikeringkan sebelum dijual/diekspor. Untuk saat ini, hasil budi daya abalon dijual dalam bentuk diawet secara didinginkan/dibekukan.

sumber :Penebar Swadaya, 2008

Budidaya Kerang Darah


Kerang Darah

kerang darah merupakan pangan yang lezat dan telah banyak dijual di rumah makan dan pedagang kaki lima. Bobot daging sama dengan 22,70-24,3% bobot total tubuhnya.
Jenis jenis kerang darah yang telah diketahui hidup di perairan Indonesia adalah A. granosa (kerang darah), A. nodifera (kerang darah), A. inflata (kerang bulu), A. rhombea, dan A. indica (kerang mencos). Di antara ke-5 jenis kerang tersebut yang banyak tertangkap adalah kerang mencos.



jenis lain adalah kerang gelatik (A. antiguata). Dibanding dengan jenis kekerangan lainnya, budi daya kerang darah telah dilakukan oleh banyak negara antara lain Cina, Taiwan, Republik Korea, Malaysia, dan Thailand.


A. Sistematika

Famili : Arcidae
Species Anadara granosa
Nama dagang : cockle
Nama lokal : kerang dagu


B. Ciri-ciri dan Aspek Biologi

1. Ciri fisik
Cangkang memiliki belahan yang sama melekat satu sama lain pada Batas cangkang. Rusuk pada kedua belahan cangkangnya sangat kentara. Cangkang berukuran sedikit lebih panjang dibanding tingginya tonjolan (umbone) yang sangat kentara. Setiap belahan Cangkang memiliki 19-23 rusk.

2. Pertumbuhan dan perkembangan
Dibanding kerang hijau, laju pertumbuhan kerang darah relatif lebih lambat. Laju pertumbuhan 0,098 mm/hari. Untuk tumbuh sepanjang 4-5 mm, kerang darah memerlukan waktu sekitar 6 bulan. Presentase daging terbesar dimiliki oleh A. granola, yaitu sebesar 24,3%.

Kerang darah memijah sepanjang tahun dengan puncaknya terjadi pada bulan Agustus/September. hewan ini termasuk hewan berumah dua (diocis). Kematangan gonad terjadi pada saat kerang darah mencapai ukuran panjang 18-2o mm dan berumur kurang dari satu tahun. Adapun pemijahan mulai terjadi pada ukuran 20 mm.


C. Pemilihan Lokasi Budi Daya

Kerang ini hidup dalam cekungan-cekungan di dasar perairan di wilayah pantai pasir berlumpur. Jenis kekerangan ini menghendaki kadar garam antara. 13-28 g/kg, kecerahan 0,5-2,5 m, dan pH 7,5-8,4. Tiap jenis Anadara menghendaki lingkungan yang berbeda. A. antiguata, misalnya, hidup di perairan berlumpur dengan tingkat kekeruhan tinggi. Sementara itu, kerang bulu menghendaki perairan berdasar pasir dan jernih.

pembesaran dilakukan di wilayah pasang surut yang terpisah dari daerah pengumpulan benih. Lokasi pembesaran tersebut dilingkari dengan pagar bambu.



D. Wadah Budi Daya
Alat yang digunakan untuk pengumpulan benih adalah perahu berukuran 6-10 m panjang, sebilah papan selancar berukuran
18o cm x 50 cm, dan keranjang pengumpul benih yang terbuat dari anyaman kawat berdiameter antara 1-2 mm, berukuran 4o cm x 15 cm x 10 cm.


E. Pengelolaan budidaya

1. Penyediaan benih
Di Indonesia, budi daya kerang darah Baru dalam taraf percobaan. Teknik budi daya tersebut dimulai dengan pengumpulan benih kerang darah berukuran 4-10 min di tempat penyebaran benih alami di tepi pantai yang landai.


Operasi pengumpulan dimulai pada saat air pasang rendah dan kedalaman air sekitar 6o cm. pengumpulan benih dilaksanakan dengan mengeruk dasar perairan sedalam kurang lebih 3 cm dengan menggunakan keranjang pengumpul benih tersebut di atas. Pengerukan dilakukan dengan menggunakan papan selancar.

Papan tersebut berfungsi pula sebagai tempat penyimpanan benih yang berhasil dikurnpulkan dan sekaligus memudahkan pergerakan si pengumpul. Proses pengumpulan selesai pada saat dasar perairan kering tidak berair.


2. Penebaran benih
Benih yang terkumpul diseleksi menurut ukurannya. Selanjutnya, benih ditebar di tempat pembesaran. Padat tebar awal sekitar 2.000 ekor/m2, kemudian dijarangkan sampai kepadatan 200-300 ekor/m2.


F. Pengendalian Hama dan Penyakit
Kerang darah yang dibudidayakan kerap kali dimangsa oleh siput gastropoda, khususnya pada fase benih. Mortalitas missal lebih sering terkait dengan perubahan kondisi lingkungan, khususnya salinitas. Kematian kerang ini sering terjadi pada saat hujan yang berkepanjangan yang menyebabkan turunnya salinitas. Kerang akan mati dalam air bersalinitas di bawah 15 g/kg.


G. Panen
Panen dimulai setelah masa pemeliharaan berlangsung selama 6-9 bulan. Cara panen dilaksanakan dengan menggunakan alat pengeruk yang berukuran lebih besar dan kuat dibanding alat pengeruk benih.

Budidaya Kerang Hijau

Kerang Hijau

Kerang hijau merupakan salah satu jenis kekerangan yang mempunyai nilai ekonomis. Rasanya yang enak didukung kadar protein yang tinggi menjadikan kerang hijau sebagai makanan yang menyehatkan.


A. Sistematika

Famili : Mytilidae
Spesies : Perna viridis
Nama dagang : green mussel
Nama lokal : sirindit, kerang kuku


B. Ciri-ciri dan Aspek Biologi
1. Ciri fisik
Kerang hijau termasuk kerang bercangkang dua (bivalva). Bentuk cangkang memanjang berwarna hijau tua/kehitaman.




2. Pertumbuhan dan perkembangan

Di perairan tropis, kerang hijau dewasa memijah sepanjang tahun. Puncak musim pemijahan terjadi pada bulan Mei—Juli. Satu induk kerang hijau dapat menghasilkan telur sebanyak kurang lebih 1,2 juta butir.

Telur kerang hijau akan berubah menjadi larva. Selanjutnya, larva akan berubah menjadi benih yang disebut spat. Spat kerang hijau untuk keperluan budi daya dikumpulkan dengan kolektor. Kolektor tersebut terbuat dari bahan waring, jaring nilon, atau sabut kelapa yang diselipkan pada tali setiap 25 cm, sepanjang 5-7 m.


Kerang hijau merupakan hewan filter feeder. Kerang menyaring partikel organik, plankton nabati, dan hewani serta jasad renik dalam air untuk memenuhi kebutuhan makanannya. Aktivitas makan dipengaruhi oleh suhu air, salinitas, dan konsentrasi partikel makanan dalam air. Hidupnya menempel pada berbagai substrat dalam air dengan alat berupa serabut yang disebut byssus.

Laju pertumbuhan kerang hijau berkisar 0,7-1,0 cm/ bulan. Ukuran konsumsi yang panjangnya sekitar 6 cm dicapai dalam waktu 6-7 bulan. Di perairan Teluk Jakarta tercatat laju pertumbuhan kerang hijau sebesar 0,234 mm/hari, sedangkan di tempat lain dilaporkan kenaikan bobot badan dari bobot awal 7,92 g menjadi 28,03 g dalam kurun waktu. 6 bulan. Dalam waktu satu tahun, kerang hijau dapat tumbuh mencapai rata-rata 83 mm panjang cangkang.


C. Pemilihan Lokasi Budi Daya
Kerang hijau memiliki toleransi yang besar terhadap kisaran suhu, salinitas, dan pH perairan. Itulah sebabnya jenis kerang ini banyak dibudidayakan di muara sungai. Kerang hijau hidup baik di perairan laut berkadar garam 27-34 promil, suhu 27-37 0 C, pH 6-8, keeerahan 3,5-4,0 m, kedalaman air 3,o—10 m, dan berarus sedang.


D. Pengelolaan Budi Daya
Budi daya kerang hijau dilakukan di perairan alami pada lokasi tertentu dan terdiri atas dua tahapan, yaitu pertama pengumpulan benih (spat) dan kedua pembesaran.

1. Pengumpulan benih
Benih dikumpulkan dari alam. Hingga kini belum ada yang memproduksi benih kerang hijau dari hatchery karena biaya produksinya mahal. Keberhasilan pengumpulan benih akan sangat tergantung pada lokasi, musim, jenis kolektor, dan teknik pemasangan kolektor. Adapun tahapan pengumpulan benih kerang hijau adalah sebagai berikut.


a) Pengamatan musim
Kerang hijau di perairan Indonesia dapat memijah sepanjang tahun. Namun, musim puncak pemijahan di setiap perairan berbeda.


b) Pemasangan kolektor
Larva kerang hijau lebih menyukai wilayah perairan dekat permukaan sehingga dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan dalam teknik pemasangan kolektor. Walaupun kerang hijau bisa memijah sepanjang tahun, musim pemijahan maupun musim penempelan terjadi dalam waktu yang relatif singkat sehingga sulit untuk memutuskan penurunan kolektor secara massal.

Jika kolektor dipasang terlalu cepat, kolektor akan ditempeli teritip sehingga akan menjadi kurang atraktif untuk menangkap benih kerang hijau. Jika kolektor terlambat dipasang, pembudidaya kerang hijau akan kehilangan kesempatan untuk mengumpulkan kerang hijau.


2. Pembesaran
a) Metode
Metode budi daya kerang hijau terbagi atas empat kelompok, yaitu metode tancap, metode rakit apung, metode rakit tancap, dan metode tali rentang (long line).


1) Metode tancap
Metode ini menggunakan tonggak kayu atau bambu yang ditancapkan ke dasar perairan. Oleh karena itu, metode ini hanya dapat diterapkan di daerah pantai yang dasarnya berlumpur. Metode yang sangat sederhana ini cocok untuk perairan dengan kedalaman 3-5 cm.
Panjang bambu yang digunakan antara 5-10 m. Ujung atasnya harus tetap terendam air sewaktu air surut terendah. Tonggak yang digunakan kerap kali dirangkaikan satu sama lain sehingga berbentuk bagan tancap. Untuk 1 ha, usaha budi daya kerang dibutuhkan kurang lebih 500 batang bambu.

Bambu atau kayu yang digunakan tersebut sering cepat rusak karena membusuk ataupun dilubangi oleh hewan-hewan penggerek. Secara normal, setiap metode tancap dapat menghasilkan 10 kg/m. Satu kolektor tancap dapat menghasilkan lebih kurang 3o kg kerang per tahun.


2) Metode rakit apung
Bahan yang digunakan pada metode ini terdiri atas tali dan rakit (tali, bambu, pelampung, dan jangkar). Metode ini biasanya digunakan pada perairan dengan kedalaman 3-4 m pada saat surut terendah. Untuk ukuran satu unit rakit, dapat dibuat 6 m x 8 m, 5 x 5 m, 15 x 15 m, atau 3o x 30 m yang diberi jarak pada rakit untuk pelampung.


3) Metode rakit tancap
Pembesaran kerang hijau dengan metode rakit tancap ini hampir sama dengan pembesaran rakit apung. Perbedaannya pada penggunaan pelampung. Rakit tancap, menggunakan kayo atau bambu yang ditancapkan pada dasar perairan sehingga tidak bergerak. Penempatan rakit harus memperhitungkan tinggi rendah pasang surut untuk menghindari rakit dari kekeringan. Ukuran rakit biasanya 4 m x 4 m dengan kebutuhan material berupa bambu diameter 4-5 cm sebanyak 15-2o batang, tali temali (polietilen) 3-5 kg, dan kawat 2-3 gulung/kg.


Jumlah kerang hijau per kolektor atau tali pembesaran yang dapat diperoleh selama pembesaran 6-7 bulan untuk satu kali antara 20-25 kg. Dengan demikian, produksi total dalam 1 rakit tancap ukuran 4 m x 4 m adalah kurang lebih 40o kg.


4) Metode tali rentang (long line)

Metode ini disebut juga dengan metode tali memanjang atau long line, yaitu merentangkan tali secara memanjang/horizontal. Metode ini menggunakan pelampung besar yang dihubungkan satu dengan yang lainnya untuk memberikan daya apung pada tali. Setiap deret tali penyangga pada kedua ujung terakhir diikatkan pada jangkar untuk menjaga agar pelampung tidak tertarik ke tengah pada saat penambahan berat.

Keuntungan dari metode ini adalah lebih fleksibel/tidak kaku dan memiliki ketahanan paling tinggi terhadap ombak serta angin. Dengan demikian, bahaya kerusakan dan kerugian yang diakibatkan gelombang dan angin dapat diperkecil. Satu unit berukuran 4 tali jalur dengan panjang tali 70 m bisa dipasang 56o tali kolektor.

b) Proses pemeliharaan
Proses pemeliharaan menjadi unsur yang menentukan keberhasilan budi daya kerang hijau. Hal-hal yang perlu dilakukan dalam proses pemeliharaan kerang hijau adalah sebagai berikut.

1) Sortasi
Penyortiran perlu dilakukan agar kerang hijau yang dihasilkan seragam sehingga produksi dan waktu panen dapat ditentukan. Penyortiran dilakukan karena kerang hijau yang menempel pada tali kolektor sering kali tidak seragam ukurannya.

2) Penambahan pelampung
Penambahan pelampung dilakukan saat terjadi penambahan beban tali yang disebabkan oleh pertumbuhan dan pertambahan bobot kerang hijau. Penambahan pelampung berguna untuk menyangga tali agar tetap mengapung.

E. Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama yang biasa menyerang budi daya kerang hijau adalah jenis teritip (Teredo sp. dan Manus sp.), bintang laut, burung, dan kepiting. Kepiting adalah hama utama bagi juvenile dan kerang dewasa. Kepiting dapat menghabiskan satu lusin kerang hijau setiap harinya. Sementara itu, teritip dan hewan penempel lainnnya akan sangat mengganggu pertumbuhan kerang hijau. Sampai saat ini di Indonesia belum didapati penyakit yang mengancam budi daya kerang hijau. Kerang hijau sendiri dapat terjangldt penyakit yang disebabkan oleh pencemaran di atas ambang batas.

F. Panen
Kerang hijau dapat dipanen setelah berumur 5-6 bulan masa pemeliharaan. Ukuran kerang hijau dapat dikonsumsi adalah 6-8 cm. Ciri lainnya adalah daging tebal dan berwarna krem. Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kerang hijau yang dihasilkan
memuaskan adalah sebagai berikut.


a) Pemanenan dilakukan pada saat kerang hijau dalam fase istirahat.
b) Pengikisan atau perontokan kerang saat dilepaskan dari pancang bambu atau dari tali dengan benda tajam dapat memperkecil luka pada benang byssus-nya sehingga kerang mempunyai daya tahan hidup lebih lama.

sumber : Penebar Swadaya, 2008

Budidaya Tiram Mabe

Tiram Mabe

Pteria pinguin merupakan salah satu jenis tiram mabe yang dibudidayakan sebagai penghasil mutiara sebelah (half pearl). Jenis tiram ini terdapat di perairan Indo-Pasifik termasuk Indonesia. Tiram mabe merupakan pemakan plankton dengan cara penyaringan (filter feeder). Oleh karena itu, lokasi tempat budi dayanya harus cukup subur.



Hasil analisa isi perut tiram mabe menunjukkan bahwa hewan air tersebut pemakan plankton, khususnya ganggang kersik, seperti Nitzschia spp., Chaetoceros, Thalassiotrix, dan Coscinodiscus spp.

Budi daya tiram mabe yang dimaksud dalam tulisan ini terutama dalam proses pengumpulan benih sampai mencapai ukuran siap untuk operasi penyuntikan inti yang berukuran lebar cangkang 7-9 cm. Pengumpulan benih ini sudah biasa dilakukan masyarakat, yang hasilnya akan dijual ke pengusaha budi daya tiram mutiara untuk selanjutnya dilakukan penyuntikan inti, pembesaran dan panen biji mutiara.


A. Sistematika

Famili : Pteridae
Spesies : Pteria pinguin
Nama dagang : wing's oyster
Nama lokal : tiram kupu-kupu


B. Ciri-ciri dan aspek biologi

1. Ciri fisik
Cangkang berbentuk bujur telur yang agak miring. Telinga sebelah belakang berkembang menyerupai sayap. Engsel cangkangnya memiliki 1-2 gigi (tonjolan) kecil. Sudut engsel
menonjol dan tampak jelas. Permukaan bagian luar cangkang kasar bersisik. Lebar cangkang lebih dari tingginya. Cangkangnya berwarna hitam. Bagian nonnacrea pada cangkang sebelah dalam relatif besar.


2. Pertumbuhan dan perkembangan
Laju pertumbuhan tiram mabe banyak dipengaruhi oleh kecepatan arus. Kecepatan arus yang optimal untuk pertumbuhan tiram mabe berada pada kisaran 20-40 cm/detik. Pada kondisi lingkungan dengan kecepatan arus di atas 20 cm/detik, laju pertumbuhnya dapat mencapai 15 mm/bulan atau 20 g/bulan.

C. Pemiliban Lokasi Budi Daya
Tiram mabe hidup di perairan laut berkadar garam tinggi 32— 35 ppt, suhu 20-25 derajat celsius Kecerahan tinggi (> 5 m), dasar perairan berupa lapisan karang mati, kondisi perairan subur, dan berarus sedang.


D. Wadah Budi Daya
pengumpulan tiram mabe menggunakan jaring sebagai spat collector untuk penempelan larva tiram mabe dan dipasang pada perairan teluk, kemudian dipanen pada bulan ke 10 setelah pemasangan spat collector.

Kolektor terbuat dari jaring nilon dengan ukuran mata jaring 4-6 inci dan tali ris nilon ukuran 4 atau 5 mm. Luas jaring 7 m x 1,5 m yang dipasang pada frame kayu, kemudian digantung di rakit pada kedalaman 15-25 m dan menggunakan pemberat dari batu.


Pembesaran tiram mabe yang telah disuntik inti menggunakan keranjang yang digantung pada sebuah rakit. Rakit yang berukuran 4 m x 4 m dilengkapi dengan pelampung dan jangkar. Keranjang yang berfungsi sebagai wadah pemeliharaan berbentuk empat persegi panjang yang rangkanya terbuat dari besi begel dan kantongnya dari bahan jaring. Ukuran keranjang cukup 0,4 m x 0,6 m. Untuk setiap rakit, dapat dipasang 25 buah keranjang.


E. Pengelolaan Budi Daya

1. Penyediaan benih
Benih yang diperlukan untuk budi daya tiram ini masih diperoleh dari pengumpulan di alam dengan menggunakan spat collector. Cara lainnya adalah mengumpulan tiram muda atau yang berukuran lebih besar yang hidup menempel secara alami pada berbagai substrat yang ada di dalam air. Dewasa ini benih hasil hatchery belum tersedia.


2. Penebaran benih
Pada kegiatan ini lebih banyak ditekankan pada proses pengumpulan benih menggunakan spat kolektor. Adapun penebaran benih dilakukan setelah penyuntikan inti. Keranjang/ jaring untuk pemeliharaan tiram mabe berukuran o,4 m x o,6 m yang berisi 6 ekor tiram. Untuk setiap rakit, dapat dipasang 25 buah keranjang/jaring.


3. Pembesaran
Pembesaran jenis tiram ini dilakukan di laut dengan menggunakan keranjang yang digantung pada sebuah rakit yang terbuat dari bambu atau kayu. Caranya adalah benih yang sudah cukup ukurannya (4-6 cm) ditempatkan dalam keranjang setelah dibersihkan dan dipelihara selama 6 bulan.


F. Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama pada tiram mabe adalah organisme pembusuk, pengebor cangkang, dan predator. Hama organisme pembusuk dapat diberantas/dicegah dengan cara pembersilian cangkang tiram secara rutin, yaitu perendaman dalam air tawar selama beberapa jam.

G. Panen
Panen tiram mabe dapat dilakukan setelah kolektor jaring dipasang (terendam) selama 8— 10 bulan. Panen dengan cara pengambilan tiram yang menempel pada jaring. Tiram mabe yang sudah cukup ukuran operasi, yaitu sekitar 7-9 cm langsung dijual kepada pengusaha mutiara. Namun, tiram yang ukurannya < 7 cm masih perlu dipelihara lagi pada raki budi daya sampai ukuran 7-9 cm.
sumber :Penebar Swadaya,2008

Budidaya Tiram Mabe

Tiram Mabe

Pteria pinguin merupakan salah satu jenis tiram mabe yang dibudidayakan sebagai penghasil mutiara sebelah (half pearl). Jenis tiram ini terdapat di perairan Indo-Pasifik termasuk Indonesia. Tiram mabe merupakan pemakan plankton dengan cara penyaringan (filter feeder). Oleh karena itu, lokasi tempat budi dayanya harus cukup subur.



Hasil analisa isi perut tiram mabe menunjukkan bahwa hewan air tersebut pemakan plankton, khususnya ganggang kersik, seperti Nitzschia spp., Chaetoceros, Thalassiotrix, dan Coscinodiscus spp.

Budi daya tiram mabe yang dimaksud dalam tulisan ini terutama dalam proses pengumpulan benih sampai mencapai ukuran siap untuk operasi penyuntikan inti yang berukuran lebar cangkang 7-9 cm. Pengumpulan benih ini sudah biasa dilakukan masyarakat, yang hasilnya akan dijual ke pengusaha budi daya tiram mutiara untuk selanjutnya dilakukan penyuntikan inti, pembesaran dan panen biji mutiara.


A. Sistematika

Famili : Pteridae
Spesies : Pteria pinguin
Nama dagang : wing's oyster
Nama lokal : tiram kupu-kupu


B. Ciri-ciri dan aspek biologi

1. Ciri fisik
Cangkang berbentuk bujur telur yang agak miring. Telinga sebelah belakang berkembang menyerupai sayap. Engsel cangkangnya memiliki 1-2 gigi (tonjolan) kecil. Sudut engsel
menonjol dan tampak jelas. Permukaan bagian luar cangkang kasar bersisik. Lebar cangkang lebih dari tingginya. Cangkangnya berwarna hitam. Bagian nonnacrea pada cangkang sebelah dalam relatif besar.


2. Pertumbuhan dan perkembangan
Laju pertumbuhan tiram mabe banyak dipengaruhi oleh kecepatan arus. Kecepatan arus yang optimal untuk pertumbuhan tiram mabe berada pada kisaran 20-40 cm/detik. Pada kondisi lingkungan dengan kecepatan arus di atas 20 cm/detik, laju pertumbuhnya dapat mencapai 15 mm/bulan atau 20 g/bulan.

C. Pemiliban Lokasi Budi Daya
Tiram mabe hidup di perairan laut berkadar garam tinggi 32— 35 ppt, suhu 20-25 derajat celsius Kecerahan tinggi (> 5 m), dasar perairan berupa lapisan karang mati, kondisi perairan subur, dan berarus sedang.


D. Wadah Budi Daya
pengumpulan tiram mabe menggunakan jaring sebagai spat collector untuk penempelan larva tiram mabe dan dipasang pada perairan teluk, kemudian dipanen pada bulan ke 10 setelah pemasangan spat collector.

Kolektor terbuat dari jaring nilon dengan ukuran mata jaring 4-6 inci dan tali ris nilon ukuran 4 atau 5 mm. Luas jaring 7 m x 1,5 m yang dipasang pada frame kayu, kemudian digantung di rakit pada kedalaman 15-25 m dan menggunakan pemberat dari batu.


Pembesaran tiram mabe yang telah disuntik inti menggunakan keranjang yang digantung pada sebuah rakit. Rakit yang berukuran 4 m x 4 m dilengkapi dengan pelampung dan jangkar. Keranjang yang berfungsi sebagai wadah pemeliharaan berbentuk empat persegi panjang yang rangkanya terbuat dari besi begel dan kantongnya dari bahan jaring. Ukuran keranjang cukup 0,4 m x 0,6 m. Untuk setiap rakit, dapat dipasang 25 buah keranjang.


E. Pengelolaan Budi Daya

1. Penyediaan benih
Benih yang diperlukan untuk budi daya tiram ini masih diperoleh dari pengumpulan di alam dengan menggunakan spat collector. Cara lainnya adalah mengumpulan tiram muda atau yang berukuran lebih besar yang hidup menempel secara alami pada berbagai substrat yang ada di dalam air. Dewasa ini benih hasil hatchery belum tersedia.


2. Penebaran benih
Pada kegiatan ini lebih banyak ditekankan pada proses pengumpulan benih menggunakan spat kolektor. Adapun penebaran benih dilakukan setelah penyuntikan inti. Keranjang/ jaring untuk pemeliharaan tiram mabe berukuran o,4 m x o,6 m yang berisi 6 ekor tiram. Untuk setiap rakit, dapat dipasang 25 buah keranjang/jaring.


3. Pembesaran
Pembesaran jenis tiram ini dilakukan di laut dengan menggunakan keranjang yang digantung pada sebuah rakit yang terbuat dari bambu atau kayu. Caranya adalah benih yang sudah cukup ukurannya (4-6 cm) ditempatkan dalam keranjang setelah dibersihkan dan dipelihara selama 6 bulan.


F. Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama pada tiram mabe adalah organisme pembusuk, pengebor cangkang, dan predator. Hama organisme pembusuk dapat diberantas/dicegah dengan cara pembersilian cangkang tiram secara rutin, yaitu perendaman dalam air tawar selama beberapa jam.

G. Panen
Panen tiram mabe dapat dilakukan setelah kolektor jaring dipasang (terendam) selama 8— 10 bulan. Panen dengan cara pengambilan tiram yang menempel pada jaring. Tiram mabe yang sudah cukup ukuran operasi, yaitu sekitar 7-9 cm langsung dijual kepada pengusaha mutiara. Namun, tiram yang ukurannya < 7 cm masih perlu dipelihara lagi pada raki budi daya sampai ukuran 7-9 cm.
sumber :Penebar Swadaya,2008


Budidaya Tiram Mutiara


Tiram Mutiara

Hingga sekarang mutiara hasil budi daya dunia dapat berupa mutiara laut dan mutiara air tawar. Produk mutiara laut yang dewasa ini diperdagangkan di pasar internasional adalah sebagai berikut.



1. Akoya pearl
Mutiara berkualitas tinggi yang dihasilkan dari P. fucata. Ukuran maksimal 10 mm. Mutiara berwarna putih kehijauan dengan nuansa sangat indah. Jenis ini diproduksi di Jepang dan Cina.


2. South sea pearl
Mutiara ini diproduksi di Indonesia dan Australia yang dihasilkan dari P. maxima. Termasuk mutiara kelompok putih, berukuran besar sampai 18 mm. Jenis ini berwarna putih perak, kekuning-kuningan, pink, dan keemasan.

3. Black pearl
Mutiara ini dihasilkan dari P. margaritifera. Black pearl berpenampilan sangat menawan dan berwarna hitam pekat. Jenis ini berukuran lebih kecil dari ukuran south sea pearl. Negara penghasil utama: Tahiti, Hawaii, dan Cook Island.


A. Sistematika
Famili : Pteridae
Spesies : Pinctada maxima
P. margaritifera
Nama dagang: pearl oyster

Nama lokal mutiara


B. Ciri-ciri dan Aspek Biologi

1. Ciri fisik
Kerang mutiara mempunyai sepasang cangkang yang disatukan pada bagian punggung dengan engsel. Kedua belahan cangkang
tidak sama bentuknya. cangkang yang satu lebih cembung dibanding lainnya. Sisi sebelah dalam dari cangkang (nacre) berpenampilan mengilap.


2. Pertumbuhan dan perkembangan
Tiram mutiara adalah protandrous-hermaphrodite dengan kecenderungan perbandingan jantan : betina = 1 : 1, dengan adanya peningkatan umur. Pemijahan sering terjadi akibat perubahan suhu yang ekstrem atau tejadi perubahan lingkungan yang tiba-tiba. Pemijahan tiram mutiara di perairan tropis tidak terbatas hanya satu musim, tapi bisa sepanjang tahun. P. Margaritifera mendekati matang gonad pada tahun kedua, sedangkan P. maxima jantan matang gonad setelah berukuran cangkang 110-120 mm dalam tahun pertama hidupnya.
pertumbuhan merupakan aspek biologi yang penting bagi pembudidaya terkait dengan pendugaan keberhasilan usahanya.Tiram mutiara P.margaritifera mencapai ukuran diameter cangkang 7-8 cm dalam tahun pertama, dan mendekati ukuran sekitar 11 cm pada tahun kedua. Pertumbuhan jenis lain, P. maxima, mencapai diameter cangkang 10—16 cm pada tahun kedua.


C. Pengelolaan Budi Daya
Untuk menghasilkan sebutir mutiara laut dari spat hatchery, diperlukan waktu sekitar 4 tahun. Teknologi budi daya mutiara laut terdiri atas pembenihan, pembesaran benih, produksi mutiara, dan panen.

1. Penyediaan benih
Awal pengembangan benih yang digunakan berasal dari penangkapan dari alam. Penangkapan dilakukan dengan menggunakan spat collector yang terbuat dari jaring nilon bermata jala halos. Kolektor tersebut dibentangkan di daerah penyebaran kerang mutiara. Dalam waktu 2-4 minggu, benih tiram (spat) akan menempel pada kolektor tersebut.


Dewasa ini, dengan kemajuan ilmu dan teknologi spat tiram mutiara sudah dapat dihasilkan melalui proses perbenihan di hatchery. Prosesnya dimulai dengan pemilihan induk yang sudah matang gonad. Sebaiknya induk-induk tersebut berasal dari populasi yang berbeda untuk menghasilkan benih yang berkualitas.

2) Pembesaran
Di nurseri benih dipelihara sampai mencapai dewasa dan berukuran 10-12 cm selama 12-18 bulan. pada ukuran tersebut proses produksi mutiara sudah dapat dilaksanakan. Adapun tahapan produksi mutiara sebagai berikut.

a) Memilah-milah tiram dewasa untuk disuntik. pemilihan didasarkan atas ukuran, umur, dan kondisi kesehatan tiram.

b) Menyiapkan potongan mantel berukuran sekitar 4-5 mm2 dan inti berukuran 3,03-9,09 mm. potongan mantel (shaibo) tersebut diambil dari tiram yang secara sengaja disiapkan/ dikorbankan untuk keperluan itu.


c) Preconditioning (Melemahkan) tiram untuk memudahkan pembukaan cangkang sewaktu penyuntikan inti da trasplantasi potongan mantel atau shaibo.


d) Menoreh irisan pada pangkal kaki menuju dekat gonad. Ke dalam torehan tersebut disisipkan inti dan shaibo yang diletakkan bersinggungan.

e) Mengangkat ganjal baji dan menutup cangkang, lalu meletakkan
tiram ke dalam keranjang. Keranjang tersebut terbuat dari
jaring berbentuk empat persegi panjang. Untuk tiap keranjang,
diletakkan 10 ekor tiram.


f) Merawat tiram dengan cara membersihkan keranjang dan cangkang luar, membalikkan tiram, dan memeriksa apakah mutiara sudah terbentuk atau belum dengan menggunakan sinar x-ray. Perawatan ini dilakukan setiap 4 hari selama 2 bulan, kecuali pemeriksaan dengan sinar x-ray.


g) Memindahkan tiram ke dalam wadah pemeliharaan berbentuk keranjang berkantong terbuat dari jaring. Dalam tiap lempeng terdapat 4 buah kantong. Setiap kantong diisi seekor tiram. Wadah tersebut digantung pada bentangan tambang atau longline. Tiram dan kantong dibersihkan setiap bulan.


D. Pengendalian Hama. dan Penyakit
Hama umumnya menyerang bagian cangkang. Hama tersebut berupa jenis teritip, racing, dan polichaeta yang mampu mengebor cangkang tiram. Hama yang lain berupa hewan predator, seperti gurita dan ikan sidat. Upaya pencegahan dengan cara membersihkan hama-hama tersebut dengan manual pada periode waktu tertentu.

Penyakit tiram mutiara umumnya disebabkan parasit, bakteri, dan virus. parasit yang sering ditemukan adalah Haplosporidium nelsoni. Bakteri yang sering menjadi masalah antara lain Pseudomonas enalia, Vibrio anguillarum, dan Achromobacter sp.

Sementara itu, jenis virus yang biasanya menginfeksi tiram mutiara adalah virus herpes. Upaya untuk mengurangi serangan penyakit pada tiram mutiara antara lain
a) selalu memonitor salinitas agar dalam kisaran yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tiram,

b) menjaga agar fluktuasi suhu air tidak terlalu tinggi, seperti pemeliharaan tiram tidak terlalu dekat kepermukaan air pada musim dingin,

c) lokasi bodi daya dipilih dengan kecerahan yang cukup bagus, dan

d) tidak memilih lokasi pada perairan dengan dasar pasir berlumpur.


G. Panen
Setelah 18-24 bulan masa pemeliharaan, panen mutiara sudah bisa dilakukan. Selanjutnya, hasil panen dibersihkan atau digosok agar mengilap serta memilah mutunya.
sumber : Penebar Swadaya,2008