Budidaya Ikan Baronang


Baronang

Baronang merupakan salah satu jenis ikan laut yang banyak diminati oleh konsumen karena rasa dagingnya lezat. Di perairan Indonesia terdapat tidak kurang dari 7 spesies ikan baronang, yaitu Siganus javus, S. argentinzaculatus, S. vermiculatus, S. guttatus, S. spinus, S. Rivulatus, dan S. canaliculatus. Di antara ketujuh jenis baronang tersebut yang potensial untuk dibudidayakan adalah S. guttatus dan S. canaliculutus. Kedua jenis ikan tersebut cepat tumbuh dan toleran terhadap kondisi berjejal dan stres.


A. Sistematika
Famili : Siganidae
spesies : Siganus guttatus, S. canaliculatus, S. Javus, S. virgatus
Nama dagang : siganids, rabbit fish
Nama lokal : samadar, dingkis, kea-kea



b. Ciri-ciri dan Aspek Biologi

1. Ciri fisik
Famili ikan ini terdiri dari dari satu genus, yaitu Siganus. Tubuhnya pipih lateral (compressed) yang dilindungi sisik sikloid kecil-kecil. Linea-lateralis sederhana. Mulut kecil posisinya terminal. Rahangnya dilengkapi dengan gigi-gigi yang kecil. Punggungnya dilengkapi dengan sebuah duri yang tajam mengarah ke depan. Posisi duri di bagian depan dari sirip punggung. Biasanya duri ini tertanam di bawah kulit.

Duri-duri dilengkapi dengan kelenjar bisa/racun pada ujungnya.
Tubuhnya berwarna keperakan di bagian punggung. Sementara itu, bagian perut dan dada berwarna putih, tergantung dari jenis baronang.


2. Pertumbuhan dan perkembangan
Variasi jumlah telur ikan baronang yang berukuran panjang 22-27 cm adalah antara 200.000-1.300.000 butir. Juwana baronang S. guttatus yang berukuran D35 dapat mencapai berat 5o g atau panjang total 12 cm dalam 115 hari. Sementara itu, baronang S. canaliculatus dapat mencapai berat 93 g/ekor selama 5 bulan pemeliharaan dari benih berukuran 25 g/ekor.


C. Pemilihan Lokasi Budi Daya
ikan ini hidup di perairan payau dan laut di daerah tropis. Salinitas terbaik untuk inkubasi telur adalah antara 10-51 ppt. Sementara itu, salinitas untuk perkembangan larva yang masih mengandung kuning telur adalah 14-37 ppt.


D. Wadah Budi Daya
Ikan ini dapat dibudidayakan di karamba jaring apung dan tambak. Benihnya ditempatkan pada karamba berukuran 2 m X 2 m X 2 m yang bermata jaring 12-25 mm.


E. Pengelolaan Budi Daya

1. Penyediaan benih
Ketersediaan benih masih terkendala. Pembudidaya memperoleh benih ini dari hasil tangkapan alam. Kini, benih dari hatchery sudah bisa diperoleh. Pada musim tertentu benih S. canaliculatus banyak terdapat di perairan pantai pada lokasi tertentu (Sulawesi Selatan).


2. Penebaran benih
Benih berukuran 30-50 g/ekor dapat ditebarkan dalam karamba dengan kepadatan 250 ekor/m2

3. Pendederan
Benin berukuran 1-3 g/ekor dapat didederkan dalam karamba bermata jaring 22 min dengan kepadatan 300-5oo ekor/m3. Untuk mencapai ukuran 30-50 g, diperlukan waktu pendederan 2 bulan.

4. Pemberian pakan
Pakan yang diberikan selama pemeliharaan berupa pakan buatan (pelet) dengan dosis 3-5% bobot badan. Pakan tersebut diberikan 3 kali sehari (pagi, Siang, dan malam hari).


F. Pengendalian Hama dan Penyakit
Ikan baronang (S. guttatus) dapat terserang parasit sejenis dinoflagelata, yaitu Amyloodinium ocellatum. Organ yang diserang adalah insang dan kulit. Ikan yang terinfeksi oleh parasit ini menunjukkan gejala berenang megap-megap di permukaan, muncul warna merali di sekeliling mulut, dan gejala anemia. Bahkan, jika terinfeksi berat, dapat berakibat kematian pada ikan.

Pencegahan dan pengobatan, yaitu dilakukan perendaman dengan formalin 200 ppm selama satu jam disertai aerasi kuat. Hal ini disebabkan
penggunaan formalin dengan dosis tinggi dapat menurunkan kadar oksigen terlarut dalam air, selain ikan sangat sensitif terhadap formalin.

Jamur yang sering menyerang ikan laut adalah Ichthyophonus sp. Tanda adanya infeksi jamur, yaitu pada setiap ikan berbeda. Beberapa ikan terinfeksi tidak menunjukkan gejala sakit. Namun, ada juga yang ditandai dengan pembengkakan organ dalam, seperti limpa, hati, dan ginjal disertai benjolan putill berdiameter hingga lebih dari 2 mm, kadang disertai pembengkakan perut dan bergerak tak menentu.


Efek lain yang timbul adalah ikan kehilangan nafsu makan sehingga menjadi kurus dan menderita anemia. Pengobatannya belum diketahui. Untuk menghindari serangan penyakit ini, sebaiknya sejauh mungkin dihindari pemberian pakan yang terkontaminasi jamur.

Penyakit bakterial penting pada ikan baronang, yaitu penyakit yang disebabkan bakteri Vibrio spp. dan Streptococcus sp. Gejala yang timbul, antara lain nafsu makan menurun, warna tubuh menjadi lebih gelap, perdarahan (hemoragi) multifokal pada sirip, dan mata buram/keruh serta sering kali menonjol. Infeksi kronis umumnya menyebabkan insang pucat.


Pencegahannya dengan mempertahankan kualitas perairan, melakukan penanganan sesuai prosedur, padat penebaran yang lebih rendah, dan vaksinasi. Pengobatannya dengan perendaman ikan sakit ke dalam larutan nitrafurazone 15 mg/l selama 2 jam atau Chloramphenicol 5o mg/l selama 4 jam. perendaman dapat juga dengan Supphonamide 5o mg/l selama 4 jam.



G. Panen
Baronang dapat dipanen setelah mencapai ukuran konsumsi, yaitu 300-400 g/ekor dengan waktu pemeliharaannya selama 3-4 bulan. Adapun cara panennya seperti panen ikan umumnya di KJA.
Baronang siap panen Lamanya pemeliharaan sekitar 3-4 bulan untuk menghasilkan baronang siap dikonsumsi
sumber :Penebar Swadaya, 2008

budidaya kakap merah


Kakap Merah


Di Perairan Indo-Pasifik terdapat 31 spesies yang termasuk genus Lutjanus. Di antara ke-31 spesies tersebut sampai saat ini, baru Lutjanus johni, Lutjanus argentimaculatus, dan Lutjanus sebae yang telah dibudidayakan.

Beberapa sifat kakap merah yang menguntungkan usaha budi daya adalah pertumbuhan relatif cepat, toleran terhadap kekeruhan, ruang terbatas dan salinitas, serta tanggap terhadap pakan buatan. Selain itu, budi daya ikan ini relatif mudah, tahan terhadap penyakit, dapat dipelihara dalam kepadatan yang tinggi, dan sifat kanibalismenya rendah.


A. Sistematika
Famili : Lutjanidae
spesies : Lutjanus argentimaculatus, L. sebae, L. johni
Nama dagang : mangrove red snapper, emperor red snapper, John's snapper
Nama lokal : bambangan, ungar



B. Ciri-ciri dan Aspek Biologi

1. Ciri fisik
Tubuh ditutupi sisik ctenoid berukuran sedang dan kecil. Bagian depan dari kepala hidung dan daerah mata tanpa sisik. Beberapa baris sisik terdapat pada tutup insang. Linea lateralis komplit dengan bentuk lurus atau kurva/melengkung. Gigi pada rahang biasanya beberapa baris.


Terdapat gigi pada mulut bagian atas. Sirip ventral dengan satu duri keras dan 5 jari-jari lunak. selain itu erdapat sirip punggung dan sirip dubur



Tubuh ikan berwarna merah/cokelat. Bagian bawah tubuhnya berwarna merah muda Untuk P. argentimaculatus. Adapun L. sebae dewasa berwarna merah gelap dan juwana berwarna merah (pink) dengan loreng (band berwarna merah gelap. Bagian sirip punggung, sirip, dubur, dan bagian atas sirip ekor berwarna gelap.

Untuk L. johni, warna badan hijau keperakan atau warna perunggu. Terdapat satu totol hitam besar di bawah sirip punggung, posisinya di antara batas dari keras dan jari-jari lunak.



2. Pertumbuhan dan perkembangan
Laju pertumbuhan ikan kakap merah yang dipelihara dalam karamba jaring apung mencapai 0,56% per hari. Data tersebut menunjukkan baliwa ikan kakap merah tergolong ikan yang cepat pertumbuhannya.

kakap merah termasuk jenis ikan hermaphrodit protandi, yaitu berstatus jantan pada awal kehidupannya, lalu berubah menjadi betina. Ikan kakap, merah yang berukuran antara 45,0 - 55,0 cm didominasi oleh ikan jantan, sedangkan yang berukuran 56,0-62,5 cm didominasi ikan betina.


Perubahan dari jantan ke betina terjadi setelah ikan berumur 6-8 tahun. Pada saat itu, induk jantan telah berukuran bobot 3,5 kg dengan panjang total 53-6o CM.
Ikan betinanya akan siap memijah setelah berukuran sekitar 6 kg. Bobot induk betina L. argentimaculatus yang telah matang gonad antara 2,9-5,5 kg, sedangkan jantan antara 3,6-4,6 kg. L. sebae memijah sepanjang tahun, sedangkan L. argentimaculatus memijah selama 6 bulan, yaitu dari bulan Desember—Juni.



Pemijahan dapat dilaksanakan di dalam tangki maupun KJA. Seekor ikan betina yang bobotnya antara 3-4,5 kg dapat menghasilkan telur sebanyak 1,2 juta butir. Khusus L. sebae, pemijahannya tidak tergantung pada sildus peredaran bulan. Ikan jenis ini memijah pada bulan gelap maupun bulan purnama. Namun, keragaan pemijahan yang lebih baik terjadi pada bulan gelap dibanding bulan terang. Pemijahan berlangsung dalam tangki pada kedalaman air 70-16o m.



C. Pemilihan lokasi budidaya

Ikan kakap merah tergolong ikan eurihalin. Kakap merah yang masih muda dan dewasa hidup di daerah mangrove dan muara sungai yang kadar garamnya mendekati air tawar. Sifat ini menciptakan peluang untuk membudidayakannya, baik di tambak maupun dalam KJA di laut.
Lokasi penempatan KJA atau karamba tancap harus terlindung dari pengaruh gelombang besar dan angin kencang, seperti perairan teluk yang terlindung, selat kecil, muara sungai ataupun sungai yang airnya bersifat payau. Kakap merah bisa hidup di perairan laut maupun perairan payau dengan kadar garam berkisar 10-35 ppt, dan suhu air 26-310 C.


D. Wadah Budi Daya

Ikan kakap merah dapat dibudidayakan dalam KJA maupun karamba tancap di perairan pantai, sekitar muara sungai. Ikan ini dapat dibudidayakan dalam KJA berukuran 2 m X 2 m X 2 m, maupun ukuran yang lebih besar 3 m x 3 m X 2 m, disesuaikan dengan target produksi yang ingin dicapai.



E. Pengelolaan Budi Daya

1. Penyediaan benih
Benih kakap merah bisa diperoleh dari hatchery yang menyediakan benih kakap ini, atau bisa diperoleh dengan cara penangkapan dari alam. Benih dari alam biasanya ketersediaannya terbatas, ukurannya tidak seragam dan hanya tersedia pada musim tertentu. Adapun pengangkutannya dengan sistem tertutup.


2. Penebaran benih
Penebaran benih dilakukan sebaiknya walau pagi atau sore hari karena suhu udara atau air lebih dingin. Sebelum penebaran, harus diperhatikan kondisi kualitas air, terutama suhu dan salinitas. Jika suhu dan salinitas air pengangkutan cukup berbeda dengan air di
lokasi budi daya, perlu dilakukan adaptasi.

Padat penebaran benih kakap merah seberat 5o g adalah 100 ekor/m3. Adapun padat penebaran ikan yang berukuran lebih besar (200 g), yaitu 11-12 ekor/m2.


3. Pembesaran
Pemeliharaan ikan jenaha (L. johni) selama 6 bulan akan mencapai bobot 356 g dengan bobot awal 125 g.

4. Pemberian pakan
Pakan yang digunakan adalah ikan rucah sebesar 5-10% bobot badan/hari. Pemberian pakan dilakukan dua kali/hari. Adapun L. argentimaculatus yang diberi pakan rucah sebanyak 10% bobot badan/hari selama masa pemeliharaan 7 minggu menunjukkan laju pertumbuhan rata-rata o,8% per hari. Frekuensi pemberian pakannya satu kali sebesar 7% bobot badan per hari.


F. Pengendalian Hama dan Penyakit

Bakteri yang menyerang ikan kakap merah adalah Streptococcus iniae. Gejala ikan yang terserang penyakit ini, di antaranya warna ikan berubah menjadi lebih gelap, kehilangan keseimbangan, berenang berputar dan timbul bintik - bintik merah pada kulit.

Pencegahan yang dilakukan dengan cara menghindari padat tebarserta pemberian pakan berlebihan dan mencegah penanganan kasar.
Selain bakteri, ikan ini dapat diserang parasit, yaitu kutu kulit. Kutu kulit adalah parasit eksternal yang umum pada ikan budi daya laut. Ada dua kutu kulit yang ditemukan pada ikan kakap merah, yaitu Neobenedenia dan Benedenia.

Kutu kulit pada ikan sangat sulit diamati karena benvarna transparan. Apabila dimasukkan ke dalam air tawar untuk beberapa menit, kutu kulit baru terlihat karena berubah warna menjadi keputihan. Pemberantasan parasit ini dengan cara merendam ikan di air tawar selama 5 menit. Jika tingkat serangannya parah, perendaman dapat dilakukan sebanyak dua kali dengan selang waktu seminggu.


G. Panen
Ikan kakap merah dipanen setelah berukuran 500 g. Ukuran tersebut ideal untuk dipasarkan. Adapun lama pemeliharaan untuk mencapai ukuran tersebut adalah 6 bulan benih 5o g. Sementara itu, benih berbobot 20o g akan mencapai rata-rata 890 g/ekor selama 225 hari.
Pada prinsipnya cara pemanenan ikan kakap merah dari KJA sama seperti cara panen ikan di KJA umumnya.

sumber : Penebar Swadaya, 2008

Budidaya Kakap Putih


Kakap Putih

Kakap putih termasuk komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Pembudidayaannya di dalam KJA telah mulai berkembang, khususnya di Kabupaten Bengkalis, Kepulauan Riau. Di kabupaten ini budi daya kakap putih di karamba telah dimulai sejak tahun 199o. Budi daya dalam KJA di Provinsi Riau dan Kepulauan Riau mempunyai tujuan pasar luar negeri. Sebagian kecil dari produksi dipasarkan juga di dalam negeri. Untuk pasar luar negeri, kakap putih dalam keadaan hidup khusus dipasarkan ke negara Malaysia, Jepang, Hongkong, dan Singapura.



A. Sistematika: :
Famili : Centropomidae
Spesies : Lates calcarifer
Nama dagang barramundi, seabass
Nama lokal salamata, pelak, petakan, cabek, dubit tekong, kaca - kaca


1). Ciri-ciri dan Aspek Biologi

1. Ciri fisik
Tubuh ikan memanjang dan gepeng. Warna tubuhnya kehitaman pada bagian punggung, sedangkan di bagian perutnya berwarna putih. Pangkal Sirip ekornya melebar. Sirip ekor berbentuk bulat. Sirip punggungnya terdapat 3 jari keras dan 7-8 jari lunak. Mulutnya lebar dengan geligi halus dan tajam. Matanya berwarna merah terang.


2. Pertumbuhan dan perkembangan

Di lingkungan Budi daya, baik di karamba maupun di tambak, ikan kakap, putih tumbuh dengan pesat. Ikan ini mampu mencapai ukuran 600-700 g dari bobot awal sekitar 20 g dengan waktu pemeliharaan selama 6-7 bulan di karamba.


Ikan kakap bersifat protandry hermaphrodite, yaitu tahap awal dalam hidupnya berkelamin jantan. Namun, setelah berukuran besar, ikan akan berubah kelamin menjadi betina. Perubahan kelamin sering terjadi pada induk yang bobotnya antara 2-3 kg.


C. Pemilihan Lokasi Budi Daya

Habitat asli ikan kakap putih adalah lingkungan laut. Ikan pemangsa (predator) ini memiliki toleransi yang tinggi terhadap perubaban tingkat kadar garam lingkungan (eurihalin). Namun, ikan ini dapat pula tumbuh dan hidup di perairan tawar. Oleh karena itu, ikan kakap putih dapat dipelihara, baik di lingkungan air laut, payau maupun tawar. Suhu optimum bagi pertumbuhannya berkisar 27-30 derjat celcius dan pH 7-8.



D. Wadah Budi Daya

Di Bengkalis ukuran karamba yang digunakan adalah 3 m x 3 m x 3 m dengan kedalaman air sekitar 2,0 m. Ada juga karamba berukuran 7 m x 7 m x 3 m. Bahan jaring yang digunakan adalah. polietilen 210 D/15.


E. Pengelolaan Budi Daya

1. Penyediaan benih
Benih siap tebar di tempat pembesaran (KJA) berukuran 5,0-7,5 cm atau bobot 50-70 g/ekor. Benih bisa diperoleh pada hatchery di Jawa, Lampung, Batam, maupun didatangkan dari Thailand dan Malaysia.


2. Penebaran benih

Benih yang ditebar berukuran 5,0-7,5 cm dengan kepadatan 65-8o ekor/m3 atau 40-5o ekor/m3 apabila ukuran benih yang ditebar 8o—1oo g.


3. Pembesaran
Pemeliharaan di karamba jaring apung berlangsung antara 7—10 bulan. Lama pemeliharaan• dapat dipersingkat dengan penggunaan ukuran tebar yang lebih besar. Selama masa pemeliharaan diusahakan agar ikanikan yang dipelihara seragam ukurannya dengan cara disortasi setiap bulan.



F. Pengendalian Hama dan Penyakit
i. Serangan pada kulit dan insang yang disebabkan oleh parasit Ciliata-protozoa, seperti Cryptocaryon spp., Trichodina, dan Trichodinella.


a) Gejala Minis
- Produksi lendir berlebihan pada insang dan permukaan tubuh.
- Ikan menggosok-gosokkan tubuh ke dinding bak atau jaring.
- Nafsu makan berkurang.


b) Pencegahan dan pengobatan

Perendaman ikan dalam air selama 1 jam untuk 3 hari berturut - trut , perendaman dengan formalin 25-30 ppm selama 24 jam, dlan menjaga agar kualitas air tetap baik.


2. Serangan pada kulit dan mata ikan oleh sejenis cacing trematoda dari Benedenia sp, Neobenedenia sp.


a) Gejala klinis
- Kehilangan nafsu makan.
- Berenang tidak normal.
- Luka pada kulit.
- Produksi lendir berlebihan terutama pada kulit, dan sirip geripis.


b) Pencegahan dan pengobatan
- kepadatan tebar harus diperhatikan (lebih rendah),
- pemberian pakan harus cukup memadai,
- perendaman dengan air tawar selama 5-10 menit, 3 hari berturut-turut
- perendaman dalam formalin 100 ppm selama i jam tiga hari berturut-turut



3. Serangan krustasea renik (Caligus sp., Ergasilus spp.)
a) Gejala klinis
- Sisik lepas.
- Nafsu makan berkurang.
- Tubuh kurus.
- Berenang tidak normal.

b) Pencegahan dan pengobatan
- perendaman dengan Neguvon 0,25 ppm selama 12-24 jam dilakukan setiap minggu.
- perendaman dengan Diptrex 0,25-0,50 ppm selama 24 jam.
- Pengendalian mekanis dengan cara pengambilan langsung dari tubuh ikan.


4. Lymphocystis virus yang disebabkan iridovirus

a) Gejala klinis
Penyakit ini biasanya tidak bersifat fatal, terutama pada ikan-ikan yang sudah berukuran besar. Penyakit ditularkan secara horizontal melalui air yang terkontaminasi Arus.

b) Pencegahan infeksi virus
Pencegahan penularan penyakit secara vertikal (dari induk), pencegahan penularan horizontal (selama masa pemeliharaan berlangsung) dan peningkatan daya tahan tubuh.

G. Panen
Ikan dapat dipanen setelah berukuran 6o0-700 g dengan waktu pemeliharaan 7-1 o bulan. Sistem panennya secara total. Adapun cara panennya seperti panen ikan di KJA.
sumber : Penebar Swadaya, 2008