Penyakit Udang : Penyakit Yellowhead
Penyebab : Yellow Head Virus (YHD), corona-like RNA virus (genus Okavirus, family Ronaviridae dan ordo Nidovirales)
Bio – Ekoloi Patogen :
• Krustase yang sensitif terhadap infeksi virus ini antara lain: Penaeus monodon, P. merguensis, P. semisulcatus, Metapenaeus ensis, Litopenaeus vannamei, dll.
• Udang windu merupakan jenis udang yang sangat sensitif, pada kasus akut dapat mengakibatkan kematian hingga 100% dalam tempo 3.5 hari sejak pertama kali gejala klinis muncul.
• Penularan terjadi secara horizontal melalui air atau kanibalisme terhadap udang yang sedang sakit atau pakan yang terinfeksi virus.
• Post larvae (PL) udang windu berumur < 15 hari relatif resisters terhadap infeksi virus ini dibandingkan dengan PL yang berumur 20-25 hari atau juvenil.
• Secara molekuler (sequencing DNA) dari produk reverse-transcription polymerase chain reaction (RT-PCR) virus yellow head memiliki kemiripan dengan gill-associated virus (GAV), meskipun berbeda jenis atau strain.
Gejala Klinis
• Juvenil udang berukuran antara 5-15 gram memiliki nafsu makan yang tinggi (abnormal) selama beberapa hari, untuk selanjutnya berhenti (menolak) makan secara tiba-tiba.
• Sekitar 3 hari setelah menolak makan, mulai terjadi kematian massal
• Udang yang sekarat berkumpul di dekat permukaan air atau ke sisi pematang kolam/tambak
• Insang berwarna putih, kuning atau coklat
• Cephalothorax berwarna kekuningan, sedangkan bagian tubuh lain berwarna pucat
Penyakit ini dapat menimbulkan kematian massal dalam waktu 2-4 hari
Diagnosa :
Polymerase Chain Reaction (PCR)
Pengendalian :
• Gunakan benur yang benar-benar bebas YHV/SPF
• Menjaga status kesehatan udang agar selalu prima melalui pemberian pakan yang tepat jumlah dan mutu
• Menjaga kualitas lingkungan budidaya agar tidak menimbulkan stress bagi udang
• Lakukan pemanenan di tambak/kolam pada saat terjadinya serangan penyakit, pemanenan dini tidak dapat mengurangi tetapi hanya mengeliminasi kerugian ekonomi.
sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Direktorat Kesehatan Ikan dan Lingkungan, 2010
Showing posts with label UDANG. Show all posts
Showing posts with label UDANG. Show all posts
Penyakit Udang : Penyakit Yellowhead
PRODUKSI UDANG TERANCAM RENDAH
PRODUKSI UDANG TERANCAM RENDAH
AWS P3UW Bukan Perwakilan Plasma
BANDAR LAMPUNG - Manajemen PT Aruna Wijaya Sakti (AWS), anak perusahaan PT Central Proteina Prima (CP Prima) Tbk menampik peran Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (P3UW) dalam relasi inti plasma perusahaan itu dengan petambak. Perwakilan plasma adalah Lembaga Manajemen Plasma Kampung (LMPK) yang diketahui terlibat dan diakui dalam setiap perjanjian inti-plasma antara AWS dengan petambak.
"P3UW tidak ditunjuk oleh plasma untuk mewakili mereka, sehingga P3UW bukanlah pihak yang bermitra. LMPK ditunjuk langsung oleh plasma untuk mewakili mereka dalam perjanjian inti plasma dengan PT AWS," kata Tarpin A Nasri, kepala divisi komunikasi PT AWS melalui keterangan pers yang diterima Investor Daily, kemarin.
Keterangan Tarpin disampaikan ke publik menanggapi kesimpangsiuran informasi pascapenghentian aktivitas produksi udang di tambak AWS, pekan lalu. Tarpin menjelaskan, penghentian operasi sekaligus pemutusan aliran listrik ke kawasan tambak eks Dipasena itu dilakukan karena situasi tidak lagi kondusif. Ulah segelintir pengurus P3UW yang mengadang petambak menabur benur beberapa saat sebelumnya, mematikan aktivitas bisnis. "Dari pada terus menanggung kerugian akibat ulah segelintir pengurus P3UW, sebaiknya kami hentikan dulu operasi dan semua pertanggungan perusahaan ke anggota plasma sambil mencari solusi terbaik," kata Dirut AWS Achmad Roswantama, pekan lalu.
Revitalisasi Tahap Dua Menurut Tarpin, revitalisasi yangdijalankan perusahaan dengan anggota plasma masih berlangsung. Namun, revitalisasi itu mengacu pada perjanjian inti plasma Tahap Kedua, dan tidak lagi mengacu pada revitalisasi Tahap Pertama. "Revitalisasi Tahap Kedua berskema polycul-ture. Skema polyculture efektif mengurangi risiko penyebaran virus IMNV yang mematikan. Revitalisasi Tahap Pertama terpaksa dihentikan karena mematikan bisnis. Tidak mungkin AWS membiarkan virus IMNV masuk tambak karena tetap menjalankan Revitalisasi Tahap Pertama," kata Tarpin.
Dia menjelaskan, peralihan perjanjian Revitalisasi Tahap Pertama "ke Revitalisasi Tahap Kedua disepakati kedua pihak (AWS dan LMPK) per 22 Februari 2010. Mengacu kesepakatan itu, manajemen AWS menyelesaikan revitalisasi pada akhir 2010. "Karena sudah ada kesepakatan Revitalisasi Tahap Kedua, maka tidak ada alasan hukum apapun untuk kembali ke Revitalisasi Tahap Pertama. Kalau P3UW menuduh AWS langgar perjanjian, itu tendesius. Lagipula P3UW bukan perwakilan plasma," jelas Tarpin.
Tarpin juga meminta pemerintah bersikap adil dengan tidak memihak salah satu pihak. Peran Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), kata Tarpin, terbatas sebagai pembina dalam kaitan dengan peningkatan produksi udang nasional. "Aktivitas AWS murni urusan swasta dan pemerintah tidak perlu terlalu jauh ikut campur. Yang mau membeli AWS atau mengambilalih aset eks Dipasena silakan melalui jalur bisnis dan tidak perlu melalui jalur premanisme atau politik," kata Tarpin.
Sementara itu, Ketua P3UW Napi-an Faiz hingga berita ini diturunkan belum berhasil dikonfirmasi. Namun sebelumnya, Napian menuding AWS gagal merevitalisasi tambak. Akibatnya, petambak anggota plasma merugi. "Mereka (perusahaan) gagal revitalisasi, dan harus ada pertanggungjawaban. Jangan hanya mau merugikan plasma," kata Napian, belum lama ini.
Produksi Udang Rendah
Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengatakan, sengketa AWS dengan plasma bisa menurunkan produksi udang. "Saya sayangkan saja karena sengketa ini bisa mengganggu produksi udang nasional. Padahal kontribusi produksi dari tambak eks Dipasena itu cukup besar terhadap produksi nasional," kata Fadel, Rabu (11/5).
Fadel memastikan pihaknya segera mendengar klarifikasi manajemen CP Prima sebagai induk AWS, Jumat (13/5). "Kami akan undang mereka (CP Prima) mendengar lalu mencoba mencari solusi ideal," kata Fadel.
Sementara itu, Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Riza Damanik meminta pemerintah bersikap tegas. Manajemen AWS, kata Riza, ingkar janji dan terbukti gagal merevitalisasi tambak sebagaimana diperjanjikan. Kegagalan revitalisasi berdampak negatif pada anggota plasma. "Butuh ketegasan pemerintah agar kekisruan inti plasma tidak berlarut-larut," kata Riza.
Sekretaris Perusahaan CP Prima, induk perusahaan AWS George Basoeki mengaku masih terus menunggu proses penyelesaian sengketa antara AWS dan anggota plasma. "Penghentian operasi masih berlangsung, tunggu saja proses selanjutnya," kata George. Qjr)
Sumber : Investor Daily 13 Mei 2011,hal.7
AWS P3UW Bukan Perwakilan Plasma
BANDAR LAMPUNG - Manajemen PT Aruna Wijaya Sakti (AWS), anak perusahaan PT Central Proteina Prima (CP Prima) Tbk menampik peran Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (P3UW) dalam relasi inti plasma perusahaan itu dengan petambak. Perwakilan plasma adalah Lembaga Manajemen Plasma Kampung (LMPK) yang diketahui terlibat dan diakui dalam setiap perjanjian inti-plasma antara AWS dengan petambak.
"P3UW tidak ditunjuk oleh plasma untuk mewakili mereka, sehingga P3UW bukanlah pihak yang bermitra. LMPK ditunjuk langsung oleh plasma untuk mewakili mereka dalam perjanjian inti plasma dengan PT AWS," kata Tarpin A Nasri, kepala divisi komunikasi PT AWS melalui keterangan pers yang diterima Investor Daily, kemarin.
Keterangan Tarpin disampaikan ke publik menanggapi kesimpangsiuran informasi pascapenghentian aktivitas produksi udang di tambak AWS, pekan lalu. Tarpin menjelaskan, penghentian operasi sekaligus pemutusan aliran listrik ke kawasan tambak eks Dipasena itu dilakukan karena situasi tidak lagi kondusif. Ulah segelintir pengurus P3UW yang mengadang petambak menabur benur beberapa saat sebelumnya, mematikan aktivitas bisnis. "Dari pada terus menanggung kerugian akibat ulah segelintir pengurus P3UW, sebaiknya kami hentikan dulu operasi dan semua pertanggungan perusahaan ke anggota plasma sambil mencari solusi terbaik," kata Dirut AWS Achmad Roswantama, pekan lalu.
Revitalisasi Tahap Dua Menurut Tarpin, revitalisasi yangdijalankan perusahaan dengan anggota plasma masih berlangsung. Namun, revitalisasi itu mengacu pada perjanjian inti plasma Tahap Kedua, dan tidak lagi mengacu pada revitalisasi Tahap Pertama. "Revitalisasi Tahap Kedua berskema polycul-ture. Skema polyculture efektif mengurangi risiko penyebaran virus IMNV yang mematikan. Revitalisasi Tahap Pertama terpaksa dihentikan karena mematikan bisnis. Tidak mungkin AWS membiarkan virus IMNV masuk tambak karena tetap menjalankan Revitalisasi Tahap Pertama," kata Tarpin.
Dia menjelaskan, peralihan perjanjian Revitalisasi Tahap Pertama "ke Revitalisasi Tahap Kedua disepakati kedua pihak (AWS dan LMPK) per 22 Februari 2010. Mengacu kesepakatan itu, manajemen AWS menyelesaikan revitalisasi pada akhir 2010. "Karena sudah ada kesepakatan Revitalisasi Tahap Kedua, maka tidak ada alasan hukum apapun untuk kembali ke Revitalisasi Tahap Pertama. Kalau P3UW menuduh AWS langgar perjanjian, itu tendesius. Lagipula P3UW bukan perwakilan plasma," jelas Tarpin.
Tarpin juga meminta pemerintah bersikap adil dengan tidak memihak salah satu pihak. Peran Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), kata Tarpin, terbatas sebagai pembina dalam kaitan dengan peningkatan produksi udang nasional. "Aktivitas AWS murni urusan swasta dan pemerintah tidak perlu terlalu jauh ikut campur. Yang mau membeli AWS atau mengambilalih aset eks Dipasena silakan melalui jalur bisnis dan tidak perlu melalui jalur premanisme atau politik," kata Tarpin.
Sementara itu, Ketua P3UW Napi-an Faiz hingga berita ini diturunkan belum berhasil dikonfirmasi. Namun sebelumnya, Napian menuding AWS gagal merevitalisasi tambak. Akibatnya, petambak anggota plasma merugi. "Mereka (perusahaan) gagal revitalisasi, dan harus ada pertanggungjawaban. Jangan hanya mau merugikan plasma," kata Napian, belum lama ini.
Produksi Udang Rendah
Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad mengatakan, sengketa AWS dengan plasma bisa menurunkan produksi udang. "Saya sayangkan saja karena sengketa ini bisa mengganggu produksi udang nasional. Padahal kontribusi produksi dari tambak eks Dipasena itu cukup besar terhadap produksi nasional," kata Fadel, Rabu (11/5).
Fadel memastikan pihaknya segera mendengar klarifikasi manajemen CP Prima sebagai induk AWS, Jumat (13/5). "Kami akan undang mereka (CP Prima) mendengar lalu mencoba mencari solusi ideal," kata Fadel.
Sementara itu, Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) Riza Damanik meminta pemerintah bersikap tegas. Manajemen AWS, kata Riza, ingkar janji dan terbukti gagal merevitalisasi tambak sebagaimana diperjanjikan. Kegagalan revitalisasi berdampak negatif pada anggota plasma. "Butuh ketegasan pemerintah agar kekisruan inti plasma tidak berlarut-larut," kata Riza.
Sekretaris Perusahaan CP Prima, induk perusahaan AWS George Basoeki mengaku masih terus menunggu proses penyelesaian sengketa antara AWS dan anggota plasma. "Penghentian operasi masih berlangsung, tunggu saja proses selanjutnya," kata George. Qjr)
Sumber : Investor Daily 13 Mei 2011,hal.7
Budidaya Udang Kian Menjanjikan
Budidaya Udang Kian Menjanjikan
BANYUWANGI-Kebangkitan budidaya udang sudah dapat dirasakan sejak awal 2011 di tambak-tambak rakyat sepanjang Pantura Jawa mulai dari Karawang, Garut sampai ke Patrol, Jawa Barat. Geliat budidaya udang juga sudah bisa dilihat mulai dari Kendal, Jepara. Jawa Tengah hingga perbatasan pintu gerbang Tuban, JawaTimur hingga Banyuwangi.
"Kita akan sama-sama melihat kebangkitan udang di tanah air. Seperti apa hasil panen ini, kita bisa merasakan dan bergantian mengangkat jaringnya agar ikut merasakan bagaimana nikmatnya panen," ujar Dirjen Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Ketut Sugama saat panen udang Vaname di Karawang Jawa Barat kemarin.
Budidaya udang di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa dan sejumlah daerah di Indonesia perlahan mulai bangkit lagi.
Diperkirakan produksi udang pada tahun ini mencapai 460.000 ton. Dari jumlah itu, untuk udang windu diperkirakan akan mencapai 130.000 ton, dan vaname ditargetkan sebanyak 350.000 ton. Budidaya udang bergairah kembali karena pasar untuk dalam dan luar negeri bagus. Masalah penyakit juga mulai berkurang. Tambak yang dulu mangkrak kini sudah mulai dimanfaatkan lagi.
Menurut Ketut, kunci sukses budidaya udang terletak pada manajemen tambak, seleksi atau perbaikan genetik dan kontrol penyakit. Pusat perbenihann udang juga dilakukan modernisasi dengan menerapkan sistem tambak terkontrol. "Sudah banyak benih udang yang bersertifikat dirilis ke masyarakat Benih yang berkualitas inilah yang harus terus dikembangkan untuk menunjang produksi," ujarnya, (nel)
Sumber : Indo Pos 04 April 2011,hal. 4
BANYUWANGI-Kebangkitan budidaya udang sudah dapat dirasakan sejak awal 2011 di tambak-tambak rakyat sepanjang Pantura Jawa mulai dari Karawang, Garut sampai ke Patrol, Jawa Barat. Geliat budidaya udang juga sudah bisa dilihat mulai dari Kendal, Jepara. Jawa Tengah hingga perbatasan pintu gerbang Tuban, JawaTimur hingga Banyuwangi.
"Kita akan sama-sama melihat kebangkitan udang di tanah air. Seperti apa hasil panen ini, kita bisa merasakan dan bergantian mengangkat jaringnya agar ikut merasakan bagaimana nikmatnya panen," ujar Dirjen Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Ketut Sugama saat panen udang Vaname di Karawang Jawa Barat kemarin.
Budidaya udang di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa dan sejumlah daerah di Indonesia perlahan mulai bangkit lagi.
Diperkirakan produksi udang pada tahun ini mencapai 460.000 ton. Dari jumlah itu, untuk udang windu diperkirakan akan mencapai 130.000 ton, dan vaname ditargetkan sebanyak 350.000 ton. Budidaya udang bergairah kembali karena pasar untuk dalam dan luar negeri bagus. Masalah penyakit juga mulai berkurang. Tambak yang dulu mangkrak kini sudah mulai dimanfaatkan lagi.
Menurut Ketut, kunci sukses budidaya udang terletak pada manajemen tambak, seleksi atau perbaikan genetik dan kontrol penyakit. Pusat perbenihann udang juga dilakukan modernisasi dengan menerapkan sistem tambak terkontrol. "Sudah banyak benih udang yang bersertifikat dirilis ke masyarakat Benih yang berkualitas inilah yang harus terus dikembangkan untuk menunjang produksi," ujarnya, (nel)
Sumber : Indo Pos 04 April 2011,hal. 4
Harga Udang Tembus Rekor Tertinggi
Harga Udang Tembus Rekor Tertinggi
Saat ini harga udang vaname mencapai Rp 50.000-Rp 60.00 per kg.
Veri Nurhansyah Tragistina
JAKARTA. Rezeki nomplok udang. Dalam beberapa bulan terakhir ini, harga udang jenis vaname terus meningkat. jika sebelum harganya masih Rp 37.000 -Rp 38.000 perkilogram(KG). kini harga mencapai Rp 50.000 hingga Rp 60.000 per kg. Jadi harganya telah naik 12,5%.
Harga ini tertinggi dalam 10 tahun terakhir," kata Iwan suranto, Ketua Shrimp Club Indonesia (SJI) kepada KONTAN. Rabu (16/2).
Lonjakan harga ini terjadi karna menurunnya pasokan udang vanema, baik di pasar internasional maupun domestik. Faktor lainnya. Brasil dan China, sebagai negara pengespor udang, menghentikan ekspornya karena konsumen udang dinegara meningkat tajam.
"Brasil dan China lebih memilih untuk memasarkan udang di dalam negrinya ketimbang menginspor," jelas Iwan. Celakanya, di saat yang sama, pemerintaan udang dipasar global terus membesar.
Menurut Iwan, faktor utama meningkatkan harga udang karena pasokan berkurang. Di Indonesia sendiri, produksi udang tahun 2010 lalu hanya mencapai 352.600 ton. Jumlah ini lebih rendah dari pada target sebanyak 400.300 ton.
Pelaksana tugas (PIt) Dirjen Perikanan Budidaya Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) Ketut Sugama pernah mengatakan, serangan virus MNV menjadi penyebab utama gagalnya produksi udang tahun lalu. Maka. "Banyak tambak di sentra produksi udangmengalami gagal panen, "ujar Ketut.
Kata Iwan, naiknya harga udang seperti saat ini menjadistimulus bagi petambak dalam negri untuk mengenjor produksnya. Pertambak bakal semakin bergairah karena bisa mendapat margin yang lebih besar. "Kalu harganya Rp. 50.000 per kg, kami bisa mendapat margin keuntungan hingga 40%. Lebih besar dari biasanya yang hanya sekitar 10% sampai 5%," tandas Iwan. Karenanya, iya optimis produksi udang tahun ini mencapai 400.000 ton.
Industri pengolahan rugi
Berbeda dengan pengusaha udang yang menangguk untung besar, para pelaku industri pengolahan ikan dan udang justru merugi dengan naiknya harga udang. Thomas Darmawan. Kalau asosiasi pengusaha Pengelolahan dan pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP51). mengatakan banyak pengusaha yang kesulitan karena biaya produksi semakin membengkak. Akibatnya, mereka menurunkan kapasitas produksinya. "Ini membuat ekspor pengolahan udang turun," kata Thomas.
Thomas berharap, pemerintah membuat kebijakan untuk menstabilkan harga udang. Menurutnya, langkah yang bisa diambil pemerintah adalah membuka kembali keran impor udang vaname.
Impor udang ini, menurutnya, pilihan terakhir untuk menompang industri pengolahan di dalam negeri. Jika impor ini dibuka, maka pengusaha akan memiliki pilihan harga udang yang lebih beragam.
Thomas mengak, harga udang di Indonesia lebih mahal dibandingkan Vietnam dan China. Di dua negara itu. udang masih dijual dengan harga Rp. 28.000 hingga Rp 30.000 per kg. Karena itu pemerintah harus membuat trobosan kebijakan untuk menstabilkan harga udang.
"Selain membuka keran impor, pemerintah bisa juga mensubsidi pakan, listrik dan BBM pada pertambak," ujar Thomas. Kebijakan ini diyakini bakal menstabilkan harga udang, shingga bisa mendorong pertumbuhan industri penolahan di dalam negri.
Seperti pernah diberitakan KONTA, akhir tahun lalu pemerintah memperpanjang larangan impor udang vaname. Berbeda dengan larangan sebelumnya yang mencantumkan batasan waktu, larangan kali ini tidak memiliki batasan waktu yang pasti.
Diperpanjang larangan ini didasarkan pada keterangan Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) yang menyebutkan bahwa terdapat 13 virus pada udang vaname yang berbahaya bagi kesehatan udang dan manusia.
SUMBER KONTAN 18 FEBRUARI 2011 HAL 15
Saat ini harga udang vaname mencapai Rp 50.000-Rp 60.00 per kg.
Veri Nurhansyah Tragistina
JAKARTA. Rezeki nomplok udang. Dalam beberapa bulan terakhir ini, harga udang jenis vaname terus meningkat. jika sebelum harganya masih Rp 37.000 -Rp 38.000 perkilogram(KG). kini harga mencapai Rp 50.000 hingga Rp 60.000 per kg. Jadi harganya telah naik 12,5%.
Harga ini tertinggi dalam 10 tahun terakhir," kata Iwan suranto, Ketua Shrimp Club Indonesia (SJI) kepada KONTAN. Rabu (16/2).
Lonjakan harga ini terjadi karna menurunnya pasokan udang vanema, baik di pasar internasional maupun domestik. Faktor lainnya. Brasil dan China, sebagai negara pengespor udang, menghentikan ekspornya karena konsumen udang dinegara meningkat tajam.
"Brasil dan China lebih memilih untuk memasarkan udang di dalam negrinya ketimbang menginspor," jelas Iwan. Celakanya, di saat yang sama, pemerintaan udang dipasar global terus membesar.
Menurut Iwan, faktor utama meningkatkan harga udang karena pasokan berkurang. Di Indonesia sendiri, produksi udang tahun 2010 lalu hanya mencapai 352.600 ton. Jumlah ini lebih rendah dari pada target sebanyak 400.300 ton.
Pelaksana tugas (PIt) Dirjen Perikanan Budidaya Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP) Ketut Sugama pernah mengatakan, serangan virus MNV menjadi penyebab utama gagalnya produksi udang tahun lalu. Maka. "Banyak tambak di sentra produksi udangmengalami gagal panen, "ujar Ketut.
Kata Iwan, naiknya harga udang seperti saat ini menjadistimulus bagi petambak dalam negri untuk mengenjor produksnya. Pertambak bakal semakin bergairah karena bisa mendapat margin yang lebih besar. "Kalu harganya Rp. 50.000 per kg, kami bisa mendapat margin keuntungan hingga 40%. Lebih besar dari biasanya yang hanya sekitar 10% sampai 5%," tandas Iwan. Karenanya, iya optimis produksi udang tahun ini mencapai 400.000 ton.
Industri pengolahan rugi
Berbeda dengan pengusaha udang yang menangguk untung besar, para pelaku industri pengolahan ikan dan udang justru merugi dengan naiknya harga udang. Thomas Darmawan. Kalau asosiasi pengusaha Pengelolahan dan pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP51). mengatakan banyak pengusaha yang kesulitan karena biaya produksi semakin membengkak. Akibatnya, mereka menurunkan kapasitas produksinya. "Ini membuat ekspor pengolahan udang turun," kata Thomas.
Thomas berharap, pemerintah membuat kebijakan untuk menstabilkan harga udang. Menurutnya, langkah yang bisa diambil pemerintah adalah membuka kembali keran impor udang vaname.
Impor udang ini, menurutnya, pilihan terakhir untuk menompang industri pengolahan di dalam negeri. Jika impor ini dibuka, maka pengusaha akan memiliki pilihan harga udang yang lebih beragam.
Thomas mengak, harga udang di Indonesia lebih mahal dibandingkan Vietnam dan China. Di dua negara itu. udang masih dijual dengan harga Rp. 28.000 hingga Rp 30.000 per kg. Karena itu pemerintah harus membuat trobosan kebijakan untuk menstabilkan harga udang.
"Selain membuka keran impor, pemerintah bisa juga mensubsidi pakan, listrik dan BBM pada pertambak," ujar Thomas. Kebijakan ini diyakini bakal menstabilkan harga udang, shingga bisa mendorong pertumbuhan industri penolahan di dalam negri.
Seperti pernah diberitakan KONTA, akhir tahun lalu pemerintah memperpanjang larangan impor udang vaname. Berbeda dengan larangan sebelumnya yang mencantumkan batasan waktu, larangan kali ini tidak memiliki batasan waktu yang pasti.
Diperpanjang larangan ini didasarkan pada keterangan Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) yang menyebutkan bahwa terdapat 13 virus pada udang vaname yang berbahaya bagi kesehatan udang dan manusia.
SUMBER KONTAN 18 FEBRUARI 2011 HAL 15
Budidaya Udang Vaname
Budidaya Udang Vaname
Udang Vaname (Penaeus vannamei) di Indonesia merupakan jenis udang introduksi dari kawasan sub-tropis sekitar perairan negara Meksiko, Amerika Latin. Meskipun asal udang vaname dari kawasan sub-tropis, dalam pengembangannya dapat pula dibudidayakan di kawasan tropis secara massal dengan penerapan teknologi dari sederhana hingga intensif.
Bila dibandingkan dengan jenis udang lainnya, udang vaname memiliki karakteristik spesifik seperti adaptasi tinggi terhadap lingkungan suhu rendah, perubahan salinitas (khususnya pada salinitas tinggi), laju pertumbuhan yang relatif cepat pada bulan I dan II dan kelansungan hidup tinggi. Dengan keunggulan yang dimiliki tersebut, jenis udang ini sangat potensi dan prospektif pengembangannya.
KONSTRUKSI TAMBAK
Teknologi yang diperkenalkan melalui leaflet ini adalah Semi Intensif. Dalam budidaya udang semi intensif, sistem budidaya yang diterapkan sebaiknya memakai sistem “ resirkulasi” dengan rasio luas tambak 40% : 60% antara petak tandon dengan petak pemeliharaan. Konstruksi tambak terutama tanggul/pematang harus kuat, kedap air (tidak rembes dan bocor), tidak mudah longsor, pintu masuk dan keluar terpisah, bentuk caren melintang di tengah dasar tambak.
Jenis dan fungsi petakan dan saluran tambak yang diperlukan dalam budidaya udang semi intensif dengan sistem resirkulasi tertutup yaitu :
- Petak tambak karantina yang berfungsi sebagai petak isolasi air media, baik air baru ataupun air lama (air resirkulasi);
- Saluran suplai air yang menampung air dengan baku mutu air standar, yang didistribusikan ke petak-petak pembesaran;
- Petak pembesaran dipergunakan sebagai petak pemeliharaan udang hingga panen;
- Saluran pembuangan yang berasal dari petak pembesaran, berfungsi sebagai saluran pengendapan lumpur/limbah.;
- Petak tandon (bio filter/ bio screen) petak tambak yang dipelihara organisme jenis ikan multispeies dan ikan (bioscreen/biofilter) guna untuk memangsa hama penular penyakit udang;
- Petak unit pengolah limbah berfungsi sebagai petak penampungan air buangan kotoran (limbah) udang, terutama air buangan limbah tambak;
- Elevasi dasar tambak petak pembesaran udang terhadap saluran pembuangan (air surut terendah) yang standar dan ideal akan mempermudah pengelolaan air dan pembuangan lumpur/kotoran, baik secara harian maupun dalam kondisi tertentu.
- Central drain; adalah sistem pembuangan air yang dibuat /diletakan di titik konsentrasi pengumpulan kotoran, yaitu pada bagian tengah petak pembesaran udang;
- Pintu monik; adalah model pintu pembuangan air yang terbuat dari pasangan bata/batu dan cor semen. Pintu pengatur berada pada pematang bagian sisi dalam, sementara buis beton pembuangan air menghadap ke saluran pembuangan air;
- Pematang dan dasar tambak; Dimensi pematang yang ideal (dibuat dari tanah) untuk tambak udang adalah lebar atas antara 2,5 – 3,5 m, lebar bawah antara 7,0 – 9,0 m dan tinggi antara 1,5 – 2,0 m, kemiringan/slope 45 – 60 derajat.
PENGELOLAAN TAMBAK
Pengelolaan tambak meliputi : pengeringan, pembalikan tanah, pengapuran dan pemasukan air. Pengeringan dasar tambak dapat dilakukan selama 7-10 hari sampai tanah dasar tambak retak-retak, kemudian dilakukan pembalikan tanah. Jika pH tanah kurang dari 6,5, maka perlu dilakukan pengapuran dengan dosis seperti pada tabel 1, kemudian dilanjutkan dengan pemasukan air.
PEMELIHARAAN UDANG
Penyiapan Media Air Tahapan pada proses penyiapan media air adalah :
• Sterilisasi media air : dengan aplikasi kaporit 30 ppm dan saponin 10-12 ppm
• Pengisian air : dilakukan hingga ketinggian mencapai 0,8-1,0 m
• Pemupukan awal : pupuk organik 300-500 kg/ha
• Adaptasi media air : tingkat kecerahan air awal berkisar 40-45 cm.
Pemilihan dan Penebaran Benih
Ciri-ciri benur yang sehat :
• Ukuran seragam
• Gerakan lincah dan menantang arus
• Respon terhadap gerakan
• Putih transparan, kaki bersih, isi usus tidak putus, adaptif terhadap perubahan salinitas dan bebas virus
Padat penebaran yang optimal pada pembesaran udang vaname dengan teknologi semi intensif adalah 15 – 40 ekor per meter persegi atau 150.000 – 400.000 ekor/ha.
Masa Pemeliharaan Tahapan yang dilakukan dalam pemeliharaan adalah :
• Pengaturan dan pemberian pakan
• Manajemen plankton
• Pengelolaan air
Pengamatan kondisi dan pertumbuhan udang
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
• Kesehatan dan kondisi udang
• Pertambahan berat harian
• Tingkat kelangsungan hidup, serta
• Biomass
PENGELOLAAN KESEHATAN UDANG
Pengamatan dan monitoring kesehatan udang di tambak dilakukan melalui pengamatan secara visual terhadap nafsu makan, pertumbuhan, kelengkapan organ dan jaringan tubuh.
Ciri-ciri udang yang kurang sehat adalah :
• Terdapat bakteri Zoothammium sp pada insang dan tubuh
• Karapas (kepala) dan kulit abdomen (badan) berlumut
• Ekor gerepes, insang kotor, antena putus
• Daging udang keropos, warna tubuh dan ekor kemerahan.
Pengamatan Rutin
Pengamatan di anco dilakukan untuk melihat populasi dan kesehatan setiap saat
Ciri-ciri udang sehat adalah :
• Gerakan aktif, berenang normal dan melompat bila anco di angkat
• Respon positif terhadap arus, cahaya, bayangan dan sentuhan
• Tubuh bersih, licin, berwarna cerah, belang putih yang jelas
• Tubuh tidak keropos, anggota tubuh lengkap
• Kotoran tidak mengapung
• Ujung ekor tidak geripis
• Ekor dan kaki jalan tidak menguncup
• Insang jernih atau putih serta bersih
• Kondisi usus penuh, tidak terputus-putus Pencegahan Penyakit
• Air pemeliharaan diusahakan bebas kontaminasi virus dengan kaporit atau pengendapan dan filtrasi dengan biofilter
• Pemeliharaan fitoplankton sebagai penyerap racun melalui aplikasi pupuk urea
• Pengamatan secara rutin terhadap pH, suhu, salinitas dan kecerahan air
• Lakukan disiplin kaidah, aturan dan prinsip utama budidaya udang yang berwawasan lingkungan
PEMANENAN HASIL DAN ANALISA USAHA
Pemanenan dilakukan setelah umur pemeliharaan >100 hari atau size udang telah mencapai 50 ekor/kg. Pemanenan dapat dilakukan dengan menggunakan jala atau ditangkap melalui pintu air dengan mengeringkan tambak.
Analisa usaha pembesaran budidaya udang vaname semi intensif dalam satu musim tanam seluas 1 ha, dengan padat penebaran 40 ekor per meter persegi, dapat menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 50.000.000,-Lebih jelasnya contoh analisa usaha pembesaran budidaya udang vaname semi intensif dengan luas total unit 2 ha dengan petak pembesaran 1 ha dapat dilihat pada tabel 2..
Dari contoh analisa usaha pembesaran udang vaname semi intensif di atas, maka besarnya nilai B/C dapat dihitung sebagai berikut : B /C Ratio = Jumlah Penerimaan : Total Biaya = 148.400.000 : 96.277.900 = 1,54 Dengan nilai B/C Ratio dari analisa usaha di atas sebesar 1,5 artinya bahwa kondisi usaha pembesaran udang vaname semi intensif tersebut sangat baik sekali diusahakan/diteruskan
sumber : http://www.perikanan-budidaya.dkp.go.id
Udang Vaname (Penaeus vannamei) di Indonesia merupakan jenis udang introduksi dari kawasan sub-tropis sekitar perairan negara Meksiko, Amerika Latin. Meskipun asal udang vaname dari kawasan sub-tropis, dalam pengembangannya dapat pula dibudidayakan di kawasan tropis secara massal dengan penerapan teknologi dari sederhana hingga intensif.
Bila dibandingkan dengan jenis udang lainnya, udang vaname memiliki karakteristik spesifik seperti adaptasi tinggi terhadap lingkungan suhu rendah, perubahan salinitas (khususnya pada salinitas tinggi), laju pertumbuhan yang relatif cepat pada bulan I dan II dan kelansungan hidup tinggi. Dengan keunggulan yang dimiliki tersebut, jenis udang ini sangat potensi dan prospektif pengembangannya.
KONSTRUKSI TAMBAK
Teknologi yang diperkenalkan melalui leaflet ini adalah Semi Intensif. Dalam budidaya udang semi intensif, sistem budidaya yang diterapkan sebaiknya memakai sistem “ resirkulasi” dengan rasio luas tambak 40% : 60% antara petak tandon dengan petak pemeliharaan. Konstruksi tambak terutama tanggul/pematang harus kuat, kedap air (tidak rembes dan bocor), tidak mudah longsor, pintu masuk dan keluar terpisah, bentuk caren melintang di tengah dasar tambak.
Gambar 1. Tata Letak Tambak
Jenis dan fungsi petakan dan saluran tambak yang diperlukan dalam budidaya udang semi intensif dengan sistem resirkulasi tertutup yaitu :
- Petak tambak karantina yang berfungsi sebagai petak isolasi air media, baik air baru ataupun air lama (air resirkulasi);
- Saluran suplai air yang menampung air dengan baku mutu air standar, yang didistribusikan ke petak-petak pembesaran;
- Petak pembesaran dipergunakan sebagai petak pemeliharaan udang hingga panen;
- Saluran pembuangan yang berasal dari petak pembesaran, berfungsi sebagai saluran pengendapan lumpur/limbah.;
- Petak tandon (bio filter/ bio screen) petak tambak yang dipelihara organisme jenis ikan multispeies dan ikan (bioscreen/biofilter) guna untuk memangsa hama penular penyakit udang;
- Petak unit pengolah limbah berfungsi sebagai petak penampungan air buangan kotoran (limbah) udang, terutama air buangan limbah tambak;
- Elevasi dasar tambak petak pembesaran udang terhadap saluran pembuangan (air surut terendah) yang standar dan ideal akan mempermudah pengelolaan air dan pembuangan lumpur/kotoran, baik secara harian maupun dalam kondisi tertentu.
- Central drain; adalah sistem pembuangan air yang dibuat /diletakan di titik konsentrasi pengumpulan kotoran, yaitu pada bagian tengah petak pembesaran udang;
- Pintu monik; adalah model pintu pembuangan air yang terbuat dari pasangan bata/batu dan cor semen. Pintu pengatur berada pada pematang bagian sisi dalam, sementara buis beton pembuangan air menghadap ke saluran pembuangan air;
- Pematang dan dasar tambak; Dimensi pematang yang ideal (dibuat dari tanah) untuk tambak udang adalah lebar atas antara 2,5 – 3,5 m, lebar bawah antara 7,0 – 9,0 m dan tinggi antara 1,5 – 2,0 m, kemiringan/slope 45 – 60 derajat.
PENGELOLAAN TAMBAK
Pengelolaan tambak meliputi : pengeringan, pembalikan tanah, pengapuran dan pemasukan air. Pengeringan dasar tambak dapat dilakukan selama 7-10 hari sampai tanah dasar tambak retak-retak, kemudian dilakukan pembalikan tanah. Jika pH tanah kurang dari 6,5, maka perlu dilakukan pengapuran dengan dosis seperti pada tabel 1, kemudian dilanjutkan dengan pemasukan air.
Tabel 1. Dosis kapur berdasarkan pH tanah
PEMELIHARAAN UDANG
Penyiapan Media Air Tahapan pada proses penyiapan media air adalah :
• Sterilisasi media air : dengan aplikasi kaporit 30 ppm dan saponin 10-12 ppm
• Pengisian air : dilakukan hingga ketinggian mencapai 0,8-1,0 m
• Pemupukan awal : pupuk organik 300-500 kg/ha
• Adaptasi media air : tingkat kecerahan air awal berkisar 40-45 cm.
Pemilihan dan Penebaran Benih
Ciri-ciri benur yang sehat :
• Ukuran seragam
• Gerakan lincah dan menantang arus
• Respon terhadap gerakan
• Putih transparan, kaki bersih, isi usus tidak putus, adaptif terhadap perubahan salinitas dan bebas virus
Padat penebaran yang optimal pada pembesaran udang vaname dengan teknologi semi intensif adalah 15 – 40 ekor per meter persegi atau 150.000 – 400.000 ekor/ha.
Masa Pemeliharaan Tahapan yang dilakukan dalam pemeliharaan adalah :
• Pengaturan dan pemberian pakan
• Manajemen plankton
• Pengelolaan air
Pengamatan kondisi dan pertumbuhan udang
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
• Kesehatan dan kondisi udang
• Pertambahan berat harian
• Tingkat kelangsungan hidup, serta
• Biomass
PENGELOLAAN KESEHATAN UDANG
Pengamatan dan monitoring kesehatan udang di tambak dilakukan melalui pengamatan secara visual terhadap nafsu makan, pertumbuhan, kelengkapan organ dan jaringan tubuh.
Ciri-ciri udang yang kurang sehat adalah :
• Terdapat bakteri Zoothammium sp pada insang dan tubuh
• Karapas (kepala) dan kulit abdomen (badan) berlumut
• Ekor gerepes, insang kotor, antena putus
• Daging udang keropos, warna tubuh dan ekor kemerahan.
Pengamatan Rutin
Pengamatan di anco dilakukan untuk melihat populasi dan kesehatan setiap saat
Ciri-ciri udang sehat adalah :
• Gerakan aktif, berenang normal dan melompat bila anco di angkat
• Respon positif terhadap arus, cahaya, bayangan dan sentuhan
• Tubuh bersih, licin, berwarna cerah, belang putih yang jelas
• Tubuh tidak keropos, anggota tubuh lengkap
• Kotoran tidak mengapung
• Ujung ekor tidak geripis
• Ekor dan kaki jalan tidak menguncup
• Insang jernih atau putih serta bersih
• Kondisi usus penuh, tidak terputus-putus Pencegahan Penyakit
• Air pemeliharaan diusahakan bebas kontaminasi virus dengan kaporit atau pengendapan dan filtrasi dengan biofilter
• Pemeliharaan fitoplankton sebagai penyerap racun melalui aplikasi pupuk urea
• Pengamatan secara rutin terhadap pH, suhu, salinitas dan kecerahan air
• Lakukan disiplin kaidah, aturan dan prinsip utama budidaya udang yang berwawasan lingkungan
Gambar 2. Manajeman pemeliharaan
PEMANENAN HASIL DAN ANALISA USAHA
Pemanenan dilakukan setelah umur pemeliharaan >100 hari atau size udang telah mencapai 50 ekor/kg. Pemanenan dapat dilakukan dengan menggunakan jala atau ditangkap melalui pintu air dengan mengeringkan tambak.
Analisa usaha pembesaran budidaya udang vaname semi intensif dalam satu musim tanam seluas 1 ha, dengan padat penebaran 40 ekor per meter persegi, dapat menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 50.000.000,-Lebih jelasnya contoh analisa usaha pembesaran budidaya udang vaname semi intensif dengan luas total unit 2 ha dengan petak pembesaran 1 ha dapat dilihat pada tabel 2..
Tabel 2.
Dari contoh analisa usaha pembesaran udang vaname semi intensif di atas, maka besarnya nilai B/C dapat dihitung sebagai berikut : B /C Ratio = Jumlah Penerimaan : Total Biaya = 148.400.000 : 96.277.900 = 1,54 Dengan nilai B/C Ratio dari analisa usaha di atas sebesar 1,5 artinya bahwa kondisi usaha pembesaran udang vaname semi intensif tersebut sangat baik sekali diusahakan/diteruskan
sumber : http://www.perikanan-budidaya.dkp.go.id
Si Bongkok Menggeliat
Si Bongkok Menggeliat
Harga udang naik lantaran permintaan pasar meningkat menjelang akhir tahun
Veri Nurhansyah
JAKARTA. Menjelang berakhirnya tahun 2010, para pebu-didaya udang diterpa angin segar. Sebab, harga udang dunia semakin naik seiring meningkatnya permintaan udang di pengujung tahun.
Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) Iwan Setiawan menyebutkan , selama November hingga Desember 2010, harga udang ekspor naik hingga menyentuh Rp 60.000 per kilogram (kg). Harga ini melesat dari bulan-bulan sebelumnya yang hanya berada di kisaran Rp 35.000 - Rp 40.000 per kg.
Tentu saja, meningkatnya harga udang ini menguntungkan dan membuat produsen udang lebih lega. "Dengan hargajual udang sekarang ini, pebudidaya lebih bisa berekspansi dengan menambah lahan tambak agar produksinya meningkat," ungkap Iwan.
Iwan berpendapat, salah satu penyebab naiknya harga udang dunia belakangan ini adalah ketidakseimbangan antara volume produksi dan permintaan. Sepanjang 2010, terdapat gangguan produksi di beberapa negara produsen.
Sejumlah negara melaporkan penurunan produksi di saat permintaan udang dunia sedang membaik. Kenaikan tertinggi berasal dari pasar Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang saat ini mulai memasuki musim dingin.
Menurut Victor Nikijuluw, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), selain kenaikan permintaan menjelang musim dingin, kenaikan harga udang lebih banyak dikatrol oleh kenaikan permintaan untuk konsumsimenyambut Natal dan tahun baru.
Maklum, dalam menyambut Natal dan tahun baru, ada kebiasaan tahunan, konsumen membeli udang lebih banyak untuk disantap bersama dengan keluarga dan tamu.
"Timpangnya produksi dan permintaan ini membuat harga udang naik belakangan ini," kata Victor.
Kenaikan pemintaan udang tertinggi, menurut Victor, berasal dari AS dan Eropa. Saat ini, pasar udang di AS sedang kesulitan pasokan lantaran Amerika Selatan yang selama ini memasok udang sedang terganggu produksinya akibat tumpahnya minyak di Teluk Meksiko sejak April silam.
Dampak tumpahan minyak itu masih dirasakan sampai akhir tahun ini. Buktinya, kapasitas produksi udang di Chile, Ekuador, dan Meksiko melorot tajam. Padahal, selama ini, kawasan ini memasok 20% kebutuhan udang di AS. Selain soal pencemaran laut, tambak-tambak udang di Amerika Selatan sedang menghadapi serangan virus.
Kondisi kurang lebih santa juga dialami para pebudidaya udang di Indonesia Tahun ini, produksi udang tidak jauh berbeda dari produksi tahun lalu. Penyebabnya adalah pro-ses pemulihan produksi setelah terserang penyakit masih lambat. Hal ini tercermin dari kinerja ekspor udang Indonesia. Sekadar informasi, volume ekspor udang Januari-Agustus 2010 hanya mencapai 94.867 ton atau senilai US$ 840 juta.
Kinerja ekspor ini turun sekitar 5,76% dibanding periode sama tahun lalu yang mencapai 100.668 ton dengan nilai sekitar US$ 888 juta. Salah satu penyebabnya adalah sebagian tambak besar belum pulih beroperasi setelah serangan virus tahun lalu.
Virus sudah teratasi
Meski begitu, sampai akhir tahun ini, ekspor udang masih mungkin membaik. Harapannya bertumpu pada produksi anggota SCI yang kebanyakan merupakan petambak menengah dan kecil, serta tambak rakyat. Geliat produksi petambak kelompok ini sudah terlihat belakangan ini.
Iwan bahkan berani mema-tok target produksi anggota SCI bisa mencapai 130.000 ton atau naik dibandingkan tahun lalu sekitar 100.000 ton. Kenaikan produksi itu terjadi lantaran sebagian petambak berhasil mengatasi serangan virus white spot syndrome yang meraja lela sejak tahun lalu. "Dengan panen yang lebih bertahap dan pengelolaanyang lebih sabar, virus itu berhasil kami jinakkan," kata Iwan.
Meski begitu, Iwan belum berani mematok target kenaikan produksi pada tahun depan. Sebab, produksi udang sangat bergantung dari harga jual. Jika harga baik, petam-bak udang akan bersemangat menaikkan produksi. Begitu pula sebaliknya
Meski petambak optimistis, KKP masih memperkirakan, produksi udang tahun ini belum mencapai target sebesar 350.000 ton. Sumber masalahnya adalah perusahaan tambak terbesar di Asia yang berada di Lampung belum beroperasi secara normal. Tapi, KKP optimistis, produksi bisa mencapai 300.000 ton.
Victor bilang, sampai tahun 2014, pemerintah mematok target produksi udang sebanyak 700.000 ton. "Salah satu upayanya adalah membangun pusat induk atau Broodstock Center di Karangasem, Bali, baru-baru ini," jelasnya
Selain menggenjot produksi, KKP juga berusaha meningkatkan nilai tambah produk udang. Selama ini, ekspor udang dari Indonesia hanya dalam bentuk/rozen shrimp. KKP berencana mendorong produsen mengekspor dalam bentuk olahan, seperti udang kaleng.
Sumber : Harian Kontan 13 Desember 2010,hal.15
Harga udang naik lantaran permintaan pasar meningkat menjelang akhir tahun
Veri Nurhansyah
JAKARTA. Menjelang berakhirnya tahun 2010, para pebu-didaya udang diterpa angin segar. Sebab, harga udang dunia semakin naik seiring meningkatnya permintaan udang di pengujung tahun.
Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) Iwan Setiawan menyebutkan , selama November hingga Desember 2010, harga udang ekspor naik hingga menyentuh Rp 60.000 per kilogram (kg). Harga ini melesat dari bulan-bulan sebelumnya yang hanya berada di kisaran Rp 35.000 - Rp 40.000 per kg.
Tentu saja, meningkatnya harga udang ini menguntungkan dan membuat produsen udang lebih lega. "Dengan hargajual udang sekarang ini, pebudidaya lebih bisa berekspansi dengan menambah lahan tambak agar produksinya meningkat," ungkap Iwan.
Iwan berpendapat, salah satu penyebab naiknya harga udang dunia belakangan ini adalah ketidakseimbangan antara volume produksi dan permintaan. Sepanjang 2010, terdapat gangguan produksi di beberapa negara produsen.
Sejumlah negara melaporkan penurunan produksi di saat permintaan udang dunia sedang membaik. Kenaikan tertinggi berasal dari pasar Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang saat ini mulai memasuki musim dingin.
Menurut Victor Nikijuluw, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), selain kenaikan permintaan menjelang musim dingin, kenaikan harga udang lebih banyak dikatrol oleh kenaikan permintaan untuk konsumsimenyambut Natal dan tahun baru.
Maklum, dalam menyambut Natal dan tahun baru, ada kebiasaan tahunan, konsumen membeli udang lebih banyak untuk disantap bersama dengan keluarga dan tamu.
"Timpangnya produksi dan permintaan ini membuat harga udang naik belakangan ini," kata Victor.
Kenaikan pemintaan udang tertinggi, menurut Victor, berasal dari AS dan Eropa. Saat ini, pasar udang di AS sedang kesulitan pasokan lantaran Amerika Selatan yang selama ini memasok udang sedang terganggu produksinya akibat tumpahnya minyak di Teluk Meksiko sejak April silam.
Dampak tumpahan minyak itu masih dirasakan sampai akhir tahun ini. Buktinya, kapasitas produksi udang di Chile, Ekuador, dan Meksiko melorot tajam. Padahal, selama ini, kawasan ini memasok 20% kebutuhan udang di AS. Selain soal pencemaran laut, tambak-tambak udang di Amerika Selatan sedang menghadapi serangan virus.
Kondisi kurang lebih santa juga dialami para pebudidaya udang di Indonesia Tahun ini, produksi udang tidak jauh berbeda dari produksi tahun lalu. Penyebabnya adalah pro-ses pemulihan produksi setelah terserang penyakit masih lambat. Hal ini tercermin dari kinerja ekspor udang Indonesia. Sekadar informasi, volume ekspor udang Januari-Agustus 2010 hanya mencapai 94.867 ton atau senilai US$ 840 juta.
Kinerja ekspor ini turun sekitar 5,76% dibanding periode sama tahun lalu yang mencapai 100.668 ton dengan nilai sekitar US$ 888 juta. Salah satu penyebabnya adalah sebagian tambak besar belum pulih beroperasi setelah serangan virus tahun lalu.
Virus sudah teratasi
Meski begitu, sampai akhir tahun ini, ekspor udang masih mungkin membaik. Harapannya bertumpu pada produksi anggota SCI yang kebanyakan merupakan petambak menengah dan kecil, serta tambak rakyat. Geliat produksi petambak kelompok ini sudah terlihat belakangan ini.
Iwan bahkan berani mema-tok target produksi anggota SCI bisa mencapai 130.000 ton atau naik dibandingkan tahun lalu sekitar 100.000 ton. Kenaikan produksi itu terjadi lantaran sebagian petambak berhasil mengatasi serangan virus white spot syndrome yang meraja lela sejak tahun lalu. "Dengan panen yang lebih bertahap dan pengelolaanyang lebih sabar, virus itu berhasil kami jinakkan," kata Iwan.
Meski begitu, Iwan belum berani mematok target kenaikan produksi pada tahun depan. Sebab, produksi udang sangat bergantung dari harga jual. Jika harga baik, petam-bak udang akan bersemangat menaikkan produksi. Begitu pula sebaliknya
Meski petambak optimistis, KKP masih memperkirakan, produksi udang tahun ini belum mencapai target sebesar 350.000 ton. Sumber masalahnya adalah perusahaan tambak terbesar di Asia yang berada di Lampung belum beroperasi secara normal. Tapi, KKP optimistis, produksi bisa mencapai 300.000 ton.
Victor bilang, sampai tahun 2014, pemerintah mematok target produksi udang sebanyak 700.000 ton. "Salah satu upayanya adalah membangun pusat induk atau Broodstock Center di Karangasem, Bali, baru-baru ini," jelasnya
Selain menggenjot produksi, KKP juga berusaha meningkatkan nilai tambah produk udang. Selama ini, ekspor udang dari Indonesia hanya dalam bentuk/rozen shrimp. KKP berencana mendorong produsen mengekspor dalam bentuk olahan, seperti udang kaleng.
Sumber : Harian Kontan 13 Desember 2010,hal.15
TIPS SUKSES BUDIDAYA VANAMEI
TIPS SUKSES BUDIDAYA VANAMEI
I Persiapan Matang
"Kuncinya, persiapan lahan harus matang dan sterilisasi harus berani," kata Yaskun berbagi kiat sukses. Dalam hal ini. dia tidak mau ambil risiko. Karenanya, Yaskun melebihkan hitungan ketinggian air dan luas area dari hitungan yang dilakukan teknisi. Dan jika menangani tambak yang pernah terjangkit penyakit, sterilisasi bisa dua kali lipat dari hitungan sebenarnya, "Biar aman." Cara ini juga diyakini Mardiono sangat ampuh untuk mengantisipasi penyakit.
Memang akan menambah pengeluaran sedikit. Tapi kalau aman untungnya lebih besar." katanva. Disamping itu. Mardiono menekankan. SOP (Standard Operational Procedure) harus benar-benar ditaati. Yaitu meliputi sterilisasi, probiotik. Benur SPF (Spesific Pathogen Free), pagar keliling serta senar penghalang burung.
Marketing Manager PT Central Proteinaprima. Nonot Tri Waluyo yang juga ada pada saat panen tersebut menyatakan hal serupa. SOP harus diterapkan sejak persiapan lahan. "Random potensiainya harus +50," kata Nonot. Random antar tambak ini, imbuh Nonot, biasanya bervariasi. Namun setelah diisi air harus +50. sehingga diketahui jumlah kapur yang harus ditabur di lahan tambak. Lahan tambak kemudian diukur lagi.
jika kurang dikapur yang kedua. diukur lagi baru masuk air. Kalau lahan kena penyakit dianjurkan memakai kaporit untuk meminimalkan bibit-bibit penyakit. Kalau tidak, maka kepiting dan
udang-udangan harus dihilangkan. jika plankton sudah jadi, baru benur ditebar.
2. Tambah Kincir
Untuk memperoleh ukuran udang yang besar saat panen. Mardiono juga mempunyai cara khusus. Yaitu dengan menambah kincir. jika kincir cukup maka akan berdampak positif bagi pertumbuhan dan produksi yang dihasilkan.
Pada awal-awal melakukan budidaya udang, ukuran udang yang dihasilkan Mardiono adalah 70. Size tersebut kemudian terus ditingkatkan dengan cara menambah dan memodifikasi kincir airnya. Pada siklus pertama misalnya. Mardiono mencoba tebar satu petak seluas 1,2 Ha dengan kepadatan 30 ekor/m, tebaran 350 ribu ekor, kincir angin 3 lengan (30 daun kipas). Umur 93 hari dipanen dengan size 70, hasil panen 4.3 ton.
Lalu siklus kedua kepadatan tetap tetapi ia tambahkan kincir jadi 4 lengan (40 daun kipas). "Berdasar pengalaman, kalau dulu dengan 3 lengan hasil panen 4,3 ton. Ternyata dengan 4 lengan kepadatan sama. Luas dan umur yang sama hasilnya meningkat jadi 5,7 ton dengan size 65," kata Mardiono.
Berikutnya siklus ke-3 kepadatan ditingkatkan lagi jadi 40 ekor/m. Modifikasi mesin penggerak dilakukan. Satu mesin dengan dua lengan (20 daun kipas). Ada 4 mesin penggerak sehingga terbentuk 80 daun kipas. Hasil yang didapat cukup membanggakan, 10 ton dengan size 45. siklus ke-5 tambak satu lengan jadi 90 daun dengan kepadatan 50 ekor/m hasil panen 13,5 ton dengan size 37 dan SR 85-90%. Hingga pada panen kali ini. udang Mardiono berhasil mencapai size 34 dan 36.
Dalam hal pengaturan kincir. Mardiono menjalankan seluruh kincirnya ketika malam hari. "Kincir kalau malam jalan semua. kalau siang kita rolling minimal 2 set. Daripada kekurangan oksigen saat
molting masal lebih baik kincir dilebihkan." Sementara kalau siang, keberadaan sinar matahari cukup membantu pasokan oksigen. Setelah umur di atas 100 hari dilakukan pengecekan oksigen seminggu sekali. Ini untuk mengantisipasi molting massal karena size bestir dan kepadatan tinggi.
Dalam pemberian pakan. Mardiono mengikuti standar baku dari inti yang diikutinya selama 1 bulan. Konsumsi pakan disesuaikan dengan benur yang ditebar. Target pertumbuhan Mardiono pada umur 60 hari adalah size maksimal 100. lebih rendah dibanding standar baku 120-125. Setelah tahu cepat atau lambatnya pertumbuhan, pakan disesuaikan dengan kondisi lapangan.
"Jika pada umur itu size di atas standar berarti dimungkinkan benur lebih. Kita ambil sikap menambah pakan,"jelas Mardiono panjang
lebar.
Menurut Nonot, tindakan ini diambil agar pakan tidak berlebih. Jika berlebih, risikonya FCR akan tinggi, keuntungan berkurang, disamping itu tambak jadi tercemar bahan racun. "SOP yang gagal harus dievaluasi," kata Nonot. Dia menambahkan, masa-masa genting adalah ketika umur di bawah satu bulan. Karena itu persiapan maksimal, harus ditekankan dari awal.
3. Penvakit
Soal penanganan penyakit, Mardiono menekankan pentingnya sterilisasi. la pernah mencoba lahan yang sering gagal dalam budidaya vanamei sehingga lahan tersebut disingkiri orang. "Saya coba terapkan SOP standar. masih gagal. Akhirnya saya berpikir untuk sterilisasi 2 x lipat, akhirnya berhasil dan bisa panen 16 ton." Menurut Nonot, petambak yang gagal rata-rata karena tidak mau menerapkan SOP. "Padahal, SOP ini hal mutlak. Selain itu bagi yang gagal juga harus berbenah dan melakukan persiapan maksimal," kata Nonot. Dengan SOP yang intensif, penyakit seperti vibrio, white spot, dan mio dapat terminimalisir.
Untuk persiapan antara lain dengan memakai pagar pembatas dan senar penghalang burung. Di Kandang Semangkon, pagar pembatas menggunakan plastik/ terpal yang ditanam sekitar 50 cm dan 1-1.5 meter di atas tanah. Senar penghalau burung idealnya menurut Nonot berjarak 40-60 cm. Di Kandang Semangkon, penghalau burung ini dimodifikasi dengan dengan kertas/plastik yang mirip layang-layang, sehingga jarak antar senar lebih lebar. Kedua hal ini difungsikan untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dari tambak lain. "Alat ini fungsinya untuk mencegah hewan liar masuk ke tambak. Seperti kepiting dan burung yang makan udang dari tambak yang terkena penyakit lalu jatuh ke tambak yang sehat," kata Nonot.
Hal penting lainnya adalah pengecekan air dan warna air. Pada musim kemarau air diupayakan mendekati warna hijau kecoklatan sedang untuk musim hujan warna air harus coklat kehijauan. "Pada musim kemarau air cenderung ke arah kecoklatan, untuk mempertahankannya gunakan bahan aktif yang bisa menyeimbangkan nitrogen/nitrifikasi bakteri. Sedang pada musim hujan biasanya menggunakan fotosintesa bakteri seperti rodococcus, rodobacter. Pencegahan penyakit vibrio menggunakan
Bacillus substillis:'
Selain itu, para petambak juga menerapkan penggunaan probiotik, vitamin C dan multivitamin dalam budidayanya. "Probiotik memberikan dampak positif bagi pertumbuhan dan hasil panen juga lebih tinggi. Kami juga tidak khawatir soal pagar," tandas Mardiono.
sumber : Bambang Sunarno, IN AzNa Books, 2010
I Persiapan Matang
"Kuncinya, persiapan lahan harus matang dan sterilisasi harus berani," kata Yaskun berbagi kiat sukses. Dalam hal ini. dia tidak mau ambil risiko. Karenanya, Yaskun melebihkan hitungan ketinggian air dan luas area dari hitungan yang dilakukan teknisi. Dan jika menangani tambak yang pernah terjangkit penyakit, sterilisasi bisa dua kali lipat dari hitungan sebenarnya, "Biar aman." Cara ini juga diyakini Mardiono sangat ampuh untuk mengantisipasi penyakit.
Memang akan menambah pengeluaran sedikit. Tapi kalau aman untungnya lebih besar." katanva. Disamping itu. Mardiono menekankan. SOP (Standard Operational Procedure) harus benar-benar ditaati. Yaitu meliputi sterilisasi, probiotik. Benur SPF (Spesific Pathogen Free), pagar keliling serta senar penghalang burung.
Marketing Manager PT Central Proteinaprima. Nonot Tri Waluyo yang juga ada pada saat panen tersebut menyatakan hal serupa. SOP harus diterapkan sejak persiapan lahan. "Random potensiainya harus +50," kata Nonot. Random antar tambak ini, imbuh Nonot, biasanya bervariasi. Namun setelah diisi air harus +50. sehingga diketahui jumlah kapur yang harus ditabur di lahan tambak. Lahan tambak kemudian diukur lagi.
jika kurang dikapur yang kedua. diukur lagi baru masuk air. Kalau lahan kena penyakit dianjurkan memakai kaporit untuk meminimalkan bibit-bibit penyakit. Kalau tidak, maka kepiting dan
udang-udangan harus dihilangkan. jika plankton sudah jadi, baru benur ditebar.
2. Tambah Kincir
Untuk memperoleh ukuran udang yang besar saat panen. Mardiono juga mempunyai cara khusus. Yaitu dengan menambah kincir. jika kincir cukup maka akan berdampak positif bagi pertumbuhan dan produksi yang dihasilkan.
Pada awal-awal melakukan budidaya udang, ukuran udang yang dihasilkan Mardiono adalah 70. Size tersebut kemudian terus ditingkatkan dengan cara menambah dan memodifikasi kincir airnya. Pada siklus pertama misalnya. Mardiono mencoba tebar satu petak seluas 1,2 Ha dengan kepadatan 30 ekor/m, tebaran 350 ribu ekor, kincir angin 3 lengan (30 daun kipas). Umur 93 hari dipanen dengan size 70, hasil panen 4.3 ton.
Lalu siklus kedua kepadatan tetap tetapi ia tambahkan kincir jadi 4 lengan (40 daun kipas). "Berdasar pengalaman, kalau dulu dengan 3 lengan hasil panen 4,3 ton. Ternyata dengan 4 lengan kepadatan sama. Luas dan umur yang sama hasilnya meningkat jadi 5,7 ton dengan size 65," kata Mardiono.
Berikutnya siklus ke-3 kepadatan ditingkatkan lagi jadi 40 ekor/m. Modifikasi mesin penggerak dilakukan. Satu mesin dengan dua lengan (20 daun kipas). Ada 4 mesin penggerak sehingga terbentuk 80 daun kipas. Hasil yang didapat cukup membanggakan, 10 ton dengan size 45. siklus ke-5 tambak satu lengan jadi 90 daun dengan kepadatan 50 ekor/m hasil panen 13,5 ton dengan size 37 dan SR 85-90%. Hingga pada panen kali ini. udang Mardiono berhasil mencapai size 34 dan 36.
Dalam hal pengaturan kincir. Mardiono menjalankan seluruh kincirnya ketika malam hari. "Kincir kalau malam jalan semua. kalau siang kita rolling minimal 2 set. Daripada kekurangan oksigen saat
molting masal lebih baik kincir dilebihkan." Sementara kalau siang, keberadaan sinar matahari cukup membantu pasokan oksigen. Setelah umur di atas 100 hari dilakukan pengecekan oksigen seminggu sekali. Ini untuk mengantisipasi molting massal karena size bestir dan kepadatan tinggi.
Dalam pemberian pakan. Mardiono mengikuti standar baku dari inti yang diikutinya selama 1 bulan. Konsumsi pakan disesuaikan dengan benur yang ditebar. Target pertumbuhan Mardiono pada umur 60 hari adalah size maksimal 100. lebih rendah dibanding standar baku 120-125. Setelah tahu cepat atau lambatnya pertumbuhan, pakan disesuaikan dengan kondisi lapangan.
"Jika pada umur itu size di atas standar berarti dimungkinkan benur lebih. Kita ambil sikap menambah pakan,"jelas Mardiono panjang
lebar.
Menurut Nonot, tindakan ini diambil agar pakan tidak berlebih. Jika berlebih, risikonya FCR akan tinggi, keuntungan berkurang, disamping itu tambak jadi tercemar bahan racun. "SOP yang gagal harus dievaluasi," kata Nonot. Dia menambahkan, masa-masa genting adalah ketika umur di bawah satu bulan. Karena itu persiapan maksimal, harus ditekankan dari awal.
3. Penvakit
Soal penanganan penyakit, Mardiono menekankan pentingnya sterilisasi. la pernah mencoba lahan yang sering gagal dalam budidaya vanamei sehingga lahan tersebut disingkiri orang. "Saya coba terapkan SOP standar. masih gagal. Akhirnya saya berpikir untuk sterilisasi 2 x lipat, akhirnya berhasil dan bisa panen 16 ton." Menurut Nonot, petambak yang gagal rata-rata karena tidak mau menerapkan SOP. "Padahal, SOP ini hal mutlak. Selain itu bagi yang gagal juga harus berbenah dan melakukan persiapan maksimal," kata Nonot. Dengan SOP yang intensif, penyakit seperti vibrio, white spot, dan mio dapat terminimalisir.
Untuk persiapan antara lain dengan memakai pagar pembatas dan senar penghalang burung. Di Kandang Semangkon, pagar pembatas menggunakan plastik/ terpal yang ditanam sekitar 50 cm dan 1-1.5 meter di atas tanah. Senar penghalau burung idealnya menurut Nonot berjarak 40-60 cm. Di Kandang Semangkon, penghalau burung ini dimodifikasi dengan dengan kertas/plastik yang mirip layang-layang, sehingga jarak antar senar lebih lebar. Kedua hal ini difungsikan untuk mencegah terjadinya penularan penyakit dari tambak lain. "Alat ini fungsinya untuk mencegah hewan liar masuk ke tambak. Seperti kepiting dan burung yang makan udang dari tambak yang terkena penyakit lalu jatuh ke tambak yang sehat," kata Nonot.
Hal penting lainnya adalah pengecekan air dan warna air. Pada musim kemarau air diupayakan mendekati warna hijau kecoklatan sedang untuk musim hujan warna air harus coklat kehijauan. "Pada musim kemarau air cenderung ke arah kecoklatan, untuk mempertahankannya gunakan bahan aktif yang bisa menyeimbangkan nitrogen/nitrifikasi bakteri. Sedang pada musim hujan biasanya menggunakan fotosintesa bakteri seperti rodococcus, rodobacter. Pencegahan penyakit vibrio menggunakan
Bacillus substillis:'
Selain itu, para petambak juga menerapkan penggunaan probiotik, vitamin C dan multivitamin dalam budidayanya. "Probiotik memberikan dampak positif bagi pertumbuhan dan hasil panen juga lebih tinggi. Kami juga tidak khawatir soal pagar," tandas Mardiono.
sumber : Bambang Sunarno, IN AzNa Books, 2010
TIPS SUKSES BUDIDAYA UDANG WINDU
TIPS SUKSES BUDIDAYA UDANG WINDU
1. Pemilihan lokasi budidaya
Pantai merupakan daerah terendah dari suatu aliran sungai. Akibatnya, kualitas air tawar di daerah hilir atau di lokasi tambak menjadi rawan terhadap pengaruh negatif dari daerah hulu, seperti endapan sedimen, hanyutan pestisida, dan polutan industri atau polutan rumah tangga. Dengan kata lain, pengelolaan air yang tidak baik di daerah hulu dapat berakibat buruk pada daerah hilir. Persoalan ini menunjukkan bahwa pengelolaan daerah pantai tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan daerah hulu. Karena itu pembangunan tambak budidaya udang windu hendaknya didukung oleh persyaratan seperti berikut ini:
- Tambak dibangun di luar wilayah padat penduduk dan industri.
- Lokasi tambak bukan kawasan hutan suaka alam, hutan wisata, dan hutan produksi.
- Tambak memiliki sumber air yang memadai, baik kuantitas maupun kualitasnya.
- Tambak memiliki saluran irigasi yang memenuhi syarat agar air tersedia secara teratur, memadai, dan terjamin.
- Sumber air tawar tidak berasal dari air tanah (sumur bor) karena penggunaan air tanah dalam jangka panjang dapat menimbulkan kerugian, yakni terjadinya instrusi air laut (peresapan air laut ke perairan tawar) yang menyebabkan terjadinya penurunan permukaan tanah.
2. Pemilihan induk
Induk betina yang dipilih harus memiliki syarat-syarat sebagai
berikut:
- Berat lebih dari 50 gram.
- Kandungan telur tinggi.
- Sudah matang telur (terlihat dari warna abu-abu di punggung).
- Bentuk tubuh normal, tidak cacat.
- Bersih dari kotoran dan parasit.
Sedangkan persyaratan induk jantan adalah sebagai berikut:
- Berat lebih dari 40 gram.
- Kaki jalan kedua tidak terlau besar.
- Tidak agresif.
- Bentuk tubuh normal, tidak cacat.
- Bersih dari kotoran dan parasit.
3. Pakan induk
Udang windu bersifat nocturnal, artinya aktif mencari makan dan beraktivitas pada malam hari atau pada suasana gelap. Sebaliknya, pada slang hari aktivitasnya menurun dan lebih banyak membenamkan dirinya di dalam lumpur atau pasir. Makanan udang windu bervariasi, baik jenis maupun komposisinya, tergantung dari umurnya. Namun, umumnya udang bersifat karnivora (pemakan hewan). Makanannya berupa hewan-hewan kecil, seperti invertebrate (hewan tidak bertulang belakang) air, udang kecil, kerang (bivalvae), dan ikan kecil.
Udang yang dibudidayakan di tambak bisa diberi pelet. Induk udang memerlukan makanan alami yang mempunyai kandungan kolesterol tinggi yang berasal dari kerang-kerangan dan krustase lain (kepiting). Jenis makanan ini diperlukan untuk mempercepat proses pematangan telur.
4. Teknik pemijahan
Di alam, udang windu muda banyak ditemukan di perairan payau dengan salinitas rendah, seperti di muara sungai tempat pertemuan antara air laut dan air tawar. Setelah dewasa kelamin, udang windu akan menuju perairan laut dalam yang kondisi airnya jernih dan tenang dan menjadikan tempat tersebut untuk berkembang biak.
Kondisi yang demikian juga diperlukan jika udang windu dipijahkan di luar habitat aslinya, misainya di tempat pembenihan (hatchery) udang windu. Pemijahan udang windu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pemijahan ikan.
Udang windu akan matang kelamin pada umur 1,5 tahun dan siap melakukan tugasnya untuk berkembangbiak. Pada saat itu, berat tubuhnya mencapai 90-120 gram/ekor.
Perkawinan udang windu umumnya berlangsung pada malam hari. Ada kecenderungan, pada saat bulan purnama terjadi pemijahan massal udang windu yang sudah matang kelamin.
Pemijahan terjadi tatkala udang jantan mengeluarkan spermatozoa dari alat kelamin jantan (petasma) kemudian memasukannya ke dalam alat kelamin (telichum) udang betina. Setelah terjadi kontak langsung, induk betina akan nengeluarkan sel telur sehingga terjadilah pembuahan. Telur hasil pembuahan ini akan melayang di dasar perairan laut dalam. Selanjutnya, telur yang sudah menetas akan menjadi larva yang bersifat planktonik (melayang) dan akan naik ke permukaan air.
Dalam satu kali musim pemijahan, seekor induk betina menghasilkan telur sebanyak 200.000-500.000 butir. Setelah telur menetas, larva udang windu mengalami perubahan bentuk beberapa kali seperti berikut ini:
- Periode nauplius atau periode pertama larva udang. Periode ini dijalani selama 46-50 jam dan larva mengalami enam kali pergantian kulit.
- Periode Zoea atau periode kedua. Periode ini memerlukan waktu sekitar 96-120 jam dan pada saat itu larva mengalami tiga kali pergantian kulit.
- Periode mysis atau periode ketiga. Periode ini memerlukan waktu 96-120 jam dan larva mengalami pergantian kulit sebanyak tiga kali.
- Periode post larva (PL) atau periode keempat. Udang windu mencapai sub-stadium post larva sampai 20 tingkatan. Ketika mencapai periode ini, udang lebih menyukai perairan payau dengan salinitas 25-35 ppt.
- Periode juvenil atau periode kelima. Juvenil merupakan udang muda yang menyukai perairan dengan salinitas 20-25 ppt. Periode udang dewasa. Periode ini berlangsung setelah periode juvenil hingga udang siap berkembang biak. Setelah matang kelamin dan matang gonad, udang dewasa akan kembali ke laut dalam untuk melakukan pemijahan. Udang dewasa menyukai perairan payau dengan salinitas 15-20 ppt.
sumber : Bambang Sunarno, IN AzNa Books, 2010
1. Pemilihan lokasi budidaya
Pantai merupakan daerah terendah dari suatu aliran sungai. Akibatnya, kualitas air tawar di daerah hilir atau di lokasi tambak menjadi rawan terhadap pengaruh negatif dari daerah hulu, seperti endapan sedimen, hanyutan pestisida, dan polutan industri atau polutan rumah tangga. Dengan kata lain, pengelolaan air yang tidak baik di daerah hulu dapat berakibat buruk pada daerah hilir. Persoalan ini menunjukkan bahwa pengelolaan daerah pantai tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan daerah hulu. Karena itu pembangunan tambak budidaya udang windu hendaknya didukung oleh persyaratan seperti berikut ini:
- Tambak dibangun di luar wilayah padat penduduk dan industri.
- Lokasi tambak bukan kawasan hutan suaka alam, hutan wisata, dan hutan produksi.
- Tambak memiliki sumber air yang memadai, baik kuantitas maupun kualitasnya.
- Tambak memiliki saluran irigasi yang memenuhi syarat agar air tersedia secara teratur, memadai, dan terjamin.
- Sumber air tawar tidak berasal dari air tanah (sumur bor) karena penggunaan air tanah dalam jangka panjang dapat menimbulkan kerugian, yakni terjadinya instrusi air laut (peresapan air laut ke perairan tawar) yang menyebabkan terjadinya penurunan permukaan tanah.
2. Pemilihan induk
Induk betina yang dipilih harus memiliki syarat-syarat sebagai
berikut:
- Berat lebih dari 50 gram.
- Kandungan telur tinggi.
- Sudah matang telur (terlihat dari warna abu-abu di punggung).
- Bentuk tubuh normal, tidak cacat.
- Bersih dari kotoran dan parasit.
Sedangkan persyaratan induk jantan adalah sebagai berikut:
- Berat lebih dari 40 gram.
- Kaki jalan kedua tidak terlau besar.
- Tidak agresif.
- Bentuk tubuh normal, tidak cacat.
- Bersih dari kotoran dan parasit.
3. Pakan induk
Udang windu bersifat nocturnal, artinya aktif mencari makan dan beraktivitas pada malam hari atau pada suasana gelap. Sebaliknya, pada slang hari aktivitasnya menurun dan lebih banyak membenamkan dirinya di dalam lumpur atau pasir. Makanan udang windu bervariasi, baik jenis maupun komposisinya, tergantung dari umurnya. Namun, umumnya udang bersifat karnivora (pemakan hewan). Makanannya berupa hewan-hewan kecil, seperti invertebrate (hewan tidak bertulang belakang) air, udang kecil, kerang (bivalvae), dan ikan kecil.
Udang yang dibudidayakan di tambak bisa diberi pelet. Induk udang memerlukan makanan alami yang mempunyai kandungan kolesterol tinggi yang berasal dari kerang-kerangan dan krustase lain (kepiting). Jenis makanan ini diperlukan untuk mempercepat proses pematangan telur.
4. Teknik pemijahan
Di alam, udang windu muda banyak ditemukan di perairan payau dengan salinitas rendah, seperti di muara sungai tempat pertemuan antara air laut dan air tawar. Setelah dewasa kelamin, udang windu akan menuju perairan laut dalam yang kondisi airnya jernih dan tenang dan menjadikan tempat tersebut untuk berkembang biak.
Kondisi yang demikian juga diperlukan jika udang windu dipijahkan di luar habitat aslinya, misainya di tempat pembenihan (hatchery) udang windu. Pemijahan udang windu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pemijahan ikan.
Udang windu akan matang kelamin pada umur 1,5 tahun dan siap melakukan tugasnya untuk berkembangbiak. Pada saat itu, berat tubuhnya mencapai 90-120 gram/ekor.
Perkawinan udang windu umumnya berlangsung pada malam hari. Ada kecenderungan, pada saat bulan purnama terjadi pemijahan massal udang windu yang sudah matang kelamin.
Pemijahan terjadi tatkala udang jantan mengeluarkan spermatozoa dari alat kelamin jantan (petasma) kemudian memasukannya ke dalam alat kelamin (telichum) udang betina. Setelah terjadi kontak langsung, induk betina akan nengeluarkan sel telur sehingga terjadilah pembuahan. Telur hasil pembuahan ini akan melayang di dasar perairan laut dalam. Selanjutnya, telur yang sudah menetas akan menjadi larva yang bersifat planktonik (melayang) dan akan naik ke permukaan air.
Dalam satu kali musim pemijahan, seekor induk betina menghasilkan telur sebanyak 200.000-500.000 butir. Setelah telur menetas, larva udang windu mengalami perubahan bentuk beberapa kali seperti berikut ini:
- Periode nauplius atau periode pertama larva udang. Periode ini dijalani selama 46-50 jam dan larva mengalami enam kali pergantian kulit.
- Periode Zoea atau periode kedua. Periode ini memerlukan waktu sekitar 96-120 jam dan pada saat itu larva mengalami tiga kali pergantian kulit.
- Periode mysis atau periode ketiga. Periode ini memerlukan waktu 96-120 jam dan larva mengalami pergantian kulit sebanyak tiga kali.
- Periode post larva (PL) atau periode keempat. Udang windu mencapai sub-stadium post larva sampai 20 tingkatan. Ketika mencapai periode ini, udang lebih menyukai perairan payau dengan salinitas 25-35 ppt.
- Periode juvenil atau periode kelima. Juvenil merupakan udang muda yang menyukai perairan dengan salinitas 20-25 ppt. Periode udang dewasa. Periode ini berlangsung setelah periode juvenil hingga udang siap berkembang biak. Setelah matang kelamin dan matang gonad, udang dewasa akan kembali ke laut dalam untuk melakukan pemijahan. Udang dewasa menyukai perairan payau dengan salinitas 15-20 ppt.
sumber : Bambang Sunarno, IN AzNa Books, 2010
Tips Singkat Beternak Udang
Tips Singkat Beternak Udang
Sebelum kita beternak udang yang pertama kita harus mempersiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan antara lain :
1. Bak beton atau kolam untuk menyimpan air laut
2. Bak beton atau kolam untuk menyimpan air payau
3. Bak beton atau kolam untuk tempat perkawinan induk udang
4. Bak beton atau kolam untuk penetasan larva
5. Genset kecil untuk kebutuhan listrik sepanjang hari
6. Bak tetesan dan pembenihan yang dilengkapi alat penyedot air untuk sirkulasi
7. Alat pengukur suhu untuk di ruangan bak pembenihan dan pengukur kadar air payau
8. Beberapa wadah air laut (drum plasstik)
9. Penyediaan pakan / artemia berikut pakan buatan
10. Laboratorium sederhana dengan perlengkapannya
Setelah itu, kita melakukan proses perkawinan bibit udang, pemberian pakan 2 kali sehari dengan kadar protein dan lemak yang cukup. Setelah induknya bunting dipindahkan ke bak beton yang berisi air payau, sesudah 2 hari telur menetas, induk dipindahkan dari bak penetasan dengan hati-hati menggunakan seser bermata jarang agar larva tidak terbawa
sumber : Bambang Sunarno, In AzNa Books, 2010
Sebelum kita beternak udang yang pertama kita harus mempersiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan antara lain :
1. Bak beton atau kolam untuk menyimpan air laut
2. Bak beton atau kolam untuk menyimpan air payau
3. Bak beton atau kolam untuk tempat perkawinan induk udang
4. Bak beton atau kolam untuk penetasan larva
5. Genset kecil untuk kebutuhan listrik sepanjang hari
6. Bak tetesan dan pembenihan yang dilengkapi alat penyedot air untuk sirkulasi
7. Alat pengukur suhu untuk di ruangan bak pembenihan dan pengukur kadar air payau
8. Beberapa wadah air laut (drum plasstik)
9. Penyediaan pakan / artemia berikut pakan buatan
10. Laboratorium sederhana dengan perlengkapannya
Setelah itu, kita melakukan proses perkawinan bibit udang, pemberian pakan 2 kali sehari dengan kadar protein dan lemak yang cukup. Setelah induknya bunting dipindahkan ke bak beton yang berisi air payau, sesudah 2 hari telur menetas, induk dipindahkan dari bak penetasan dengan hati-hati menggunakan seser bermata jarang agar larva tidak terbawa
sumber : Bambang Sunarno, In AzNa Books, 2010
pemanenan udang galah

udang galah hasil panenudang galah yang dipanen dikolam ketika dipanen biasanya disimpan dahulu di hapa, penyimpanan udang pada hapa dilakukan dengan tujuan untuk menyortir ukuran udang dan menghitung berat udang.
ukuran udang hasil panen yaitu dibagi kedalam tiga bagian, ukuran kecil, ukuran sedang, dan ukuran besar. hapa untuk menyimpan hasil panen udang harus dilengkapi dengan unit aerasi, aerasi ini berfungsi untuk menjaga kesegaran udang pada hapa, dengan tujuan utama yaitu untuk mensuplai oksigen ke dalam air. Unit aerasi ini terdiri dari pompa, paralon yang telah diberi lubang. lubang pada paralon ini dibuat untuk memancarkan air sehingga air keluar dalam paralon dan jatuh ke kolam untuk membuat gelombang pada permukaan air kolam yang ada hapanya.
udang galah

udang galah
udang galah dalam foto ini adalah udang galah ukuran konsumsi, udang galah ini dipanen selama 3 (tiga) bulan yang ditanam pada ukuran tokolan, budidaya udang galah dapat dilakukan pada air tawar di kolam-kolam ikan yang biasa digunakan untuk budidaya ikan umumnya.
budidaya udang galah di kolam merupakan prospek bisnis yang menguntungkan, karena udang merupakan jenis bahan makanan yang cukup mahal, harga udang galah di kolam bisa mencapai Rp.50.000,- / kg ini merupakan harga yang cukup mahal bila dibandingkan dengan jenis ikan air tawar lainnya yang sering dibudidayakan.
budidaya udang galah di kolam akan lebih baik bila dibudidayakan pada kolam yang dasarnya tidak berlumpur banyak, kolam dengan dasar bercadas cukup baik untuk digunakan dalam budidaya udang asalkan kolam tersebut tidak porus.
ShAD: Dorong Budidaya Udang Ramah Lingkungan
ShAD: Dorong Budidaya Udang Ramah Lingkungan
Komoditas udang tetap dipandang sebagai komoditas strategis yang harus terus dikembangkan, karena permintaan ekspor yang cukup besar, termasuk meningkatnya permintaan dalam negeri. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan produksi udang meningkat sebesar 74,75 % pada periode 2010-2014, yaitu dari yang semula sebanyak 400.000 ton menjadi 699.000 ton. Demikian disampaikan Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Dr. Made L. Nurdjana pada saat membuka acara Shrimp Aquaculture Dialogue di Jakarta (9/3).
Lebih lanjut Made menyebutkan bahwa peningkatan produksi udang akan diarahkan pada dua jenis, yaitu udang vaname (Penaeus vaname) dan udang windu (Penaeus monodon). Dalam meningkatkan produksi udang vaname, KKP akan menerapkan strategi berupa teknologi semi intensif sampai dengan super intensif dengan produktivitas antara 4-20 ton/ha/musim tanam. Sedangkan budidaya udang windu akan dikembangkan dengan teknologi sederhana dan organik melalui sistem polikultur dengan bandeng dan rumput laut gracilaria. Dalam rangka mendukung pengembangan budidaya udang tersebut, maka harus didukung dengan penyediaan benur berkualitas melalui pengembangan Broodstock Center (BC). Dalam memenuhi kebutuhan tersebut, KKP telah membangun BC Udang di Situbondo (Jawa Timur) dan Karangasem (Bali) untuk memenuhi penyediaan induk unggul udang vaname.
Meningkatnya persaingan diantara negara-negara penghasil udang di pasaran dunia, menuntut Indonesia untuk semakin meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi udang. KKP berkomitmen bahwa peningkatan produksi udang tidak akan dilakukan kebijakan ekstensifikasi (perluasan areal), tetapi cukup melalui intensifikasi untuk meningkatkan produktivitasnya. Hal dilakukan untuk menghindari kerusakan lingkungan (dalam hal ini hutan mangrove) akibat usaha pertambakan.
Sebagai ilustrasi, KKP pada periode 2010-2014 mendorong perikanan budidaya dapat meningkatkan produksi sebesar 353 %, yaitu dari 5,26 juta ton menjadi 16,89 juta ton. Untuk mencapai peningkatan produksi yang besar tersebut, komoditas perikanan budidaya yang akan didorong dan dipacu pengembangannya terutama adalah rumput laut, lele, patin, bandeng dan kerapu. Komoditas tersebut sangat berpeluang untuk ditingkatkan produksinya dan menjadi nomor satu di dunia, mengingat potensi lahan yang tersedia sangat besar, teknologi budidaya mudah dan sudah dikuasai masyarakat, serta permintaan pasar cukup besar. Secara keseluruhan, saat ini Indonesia memiliki tambak seluas 450.000 ha, dimana luasan tersebut diusahakan untuk budidaya bandeng, udang dan polikultur rumput laut, udang dan bandeng. Dari luasan tersebut, sekitar 60% atau 270.000 ha dimanfaatkan untuk budidaya udang, yang terdiri dari teknologi intensif seluas ± 27.000 ha, semi-intensif seluas ± 40.500 ha dan sisanya dengan teknologi tradisional.
Dalam rangka memenuhi persyaratan konsumen dunia terhadap sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan, termasuk dalam upaya pengendalian dampak lingkungan yang diakibatkan oleh usaha budidaya udang di tambak, KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) menerapkan beberapa kebijakan. Pertama, sertifikasi CBIB (Cara Budidaya Ikan Yang Baik) bagi unit usaha budidaya ikan. Kedua, sertifikasi Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) bagi unit pembenihan. Ketiga, pendaftaran pakan ikan. Keempat, pendaftaran obat ikan, bahan kimia dan bahan biologi. Kelima, monitoring residu. selengkapnya...........
sumber : http://www.dkp.go.id
Komoditas udang tetap dipandang sebagai komoditas strategis yang harus terus dikembangkan, karena permintaan ekspor yang cukup besar, termasuk meningkatnya permintaan dalam negeri. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan produksi udang meningkat sebesar 74,75 % pada periode 2010-2014, yaitu dari yang semula sebanyak 400.000 ton menjadi 699.000 ton. Demikian disampaikan Dirjen Perikanan Budidaya KKP, Dr. Made L. Nurdjana pada saat membuka acara Shrimp Aquaculture Dialogue di Jakarta (9/3).
Lebih lanjut Made menyebutkan bahwa peningkatan produksi udang akan diarahkan pada dua jenis, yaitu udang vaname (Penaeus vaname) dan udang windu (Penaeus monodon). Dalam meningkatkan produksi udang vaname, KKP akan menerapkan strategi berupa teknologi semi intensif sampai dengan super intensif dengan produktivitas antara 4-20 ton/ha/musim tanam. Sedangkan budidaya udang windu akan dikembangkan dengan teknologi sederhana dan organik melalui sistem polikultur dengan bandeng dan rumput laut gracilaria. Dalam rangka mendukung pengembangan budidaya udang tersebut, maka harus didukung dengan penyediaan benur berkualitas melalui pengembangan Broodstock Center (BC). Dalam memenuhi kebutuhan tersebut, KKP telah membangun BC Udang di Situbondo (Jawa Timur) dan Karangasem (Bali) untuk memenuhi penyediaan induk unggul udang vaname.
Meningkatnya persaingan diantara negara-negara penghasil udang di pasaran dunia, menuntut Indonesia untuk semakin meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi udang. KKP berkomitmen bahwa peningkatan produksi udang tidak akan dilakukan kebijakan ekstensifikasi (perluasan areal), tetapi cukup melalui intensifikasi untuk meningkatkan produktivitasnya. Hal dilakukan untuk menghindari kerusakan lingkungan (dalam hal ini hutan mangrove) akibat usaha pertambakan.
Sebagai ilustrasi, KKP pada periode 2010-2014 mendorong perikanan budidaya dapat meningkatkan produksi sebesar 353 %, yaitu dari 5,26 juta ton menjadi 16,89 juta ton. Untuk mencapai peningkatan produksi yang besar tersebut, komoditas perikanan budidaya yang akan didorong dan dipacu pengembangannya terutama adalah rumput laut, lele, patin, bandeng dan kerapu. Komoditas tersebut sangat berpeluang untuk ditingkatkan produksinya dan menjadi nomor satu di dunia, mengingat potensi lahan yang tersedia sangat besar, teknologi budidaya mudah dan sudah dikuasai masyarakat, serta permintaan pasar cukup besar. Secara keseluruhan, saat ini Indonesia memiliki tambak seluas 450.000 ha, dimana luasan tersebut diusahakan untuk budidaya bandeng, udang dan polikultur rumput laut, udang dan bandeng. Dari luasan tersebut, sekitar 60% atau 270.000 ha dimanfaatkan untuk budidaya udang, yang terdiri dari teknologi intensif seluas ± 27.000 ha, semi-intensif seluas ± 40.500 ha dan sisanya dengan teknologi tradisional.
Dalam rangka memenuhi persyaratan konsumen dunia terhadap sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan, termasuk dalam upaya pengendalian dampak lingkungan yang diakibatkan oleh usaha budidaya udang di tambak, KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) menerapkan beberapa kebijakan. Pertama, sertifikasi CBIB (Cara Budidaya Ikan Yang Baik) bagi unit usaha budidaya ikan. Kedua, sertifikasi Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) bagi unit pembenihan. Ketiga, pendaftaran pakan ikan. Keempat, pendaftaran obat ikan, bahan kimia dan bahan biologi. Kelima, monitoring residu. selengkapnya...........
sumber : http://www.dkp.go.id
Ekspor Udang Masih Andalan
Ekspor Udang Masih Andalan
KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan (KKP) masih menempatkan udang sebagai komoditas andalan perikanan budidaya selama 2010-2014. Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budidaya Made L Nurdjana, mengatakan, selama periode 2010-2014 produksi udang diharapkan naik 74,75 persen dari 400 ribu ton menjadi 699 ribu ton, terdiri udang vaname dan windu.
"Udang tetap komoditas penting dikembangkan karena permintaan ekspor cukup besar dan memenuhi konsumsi dalam negeri," katanya, di Jakarta, akhir pekan lalu. Made mengatakan, peningkatan produksi udang windu ditargetkan 10,42 persen per tahun. Untuk mewujukan itu, pada 2009 telah memperbaiki saluran irigasi dan prasarana area tambak seluas 53 ribu hektare (ha) di 56 kabupaten pada 16 provinsi.
Pelaksanaannya, oleh Departemen Pekerjaan Umum (DPU) melalui dana stimulus dengan total anggaran Rp430 miliar. Dia mengatakan, udang windu dikembangkan dengan teknologi ekstensif polikultur dan organik hingga harga jual tinggi karena sesuai kecenderungan konsumsi masyarakat dunia.
"Untuk itu ke depan akan diupayakan subsidi pupuk organik, tidak pupuk anorga-nik seperti selama ini," ujar dia. Untuk udang vaname, dikembangkan melalui teknologi semi intensis dan intensif dengan target produksi naik 17,38 persen per tahun dari 275 ribu ton pada 2010 menjadi 500 ribu ton 2014. Pemerintah pun telah membangun Broostock Center atau pusat produksi induk udang unggul vaname Nusantara di Bali. Hal ini guna memenuhi kebutuhan induk udang dalam negeri dan mengurangi ketergantungan induk impor.
Kemampuan produksi Broostock Center itu diperkirakan mencapai 240 ribu ekor induk unggul per tahun atau terbesar di dunia. "Penampilan induk Nusantara I yang telah dibudidayakan di Kalimantan Barat, Lampung dan Jatim menunjukkan hasil yang memuaskan."
Made menjamin, tak perlu ada kekhawatiran terhadap penyediaan benih udang bermutu yang diperlukan dalam program peningkatan produksi udang. Menurut dia guna mengurangi dan mencegah serangan hama dan penyakit ikan pada udang akibat penurunan kualitas lingkungan, pada 2009 dibangun Balai Penyeledikan Penyakit Ikan dan Lingkungan di Kabupaten Serang Banten. Peresrnian balai ini dijadwal-kan awal 2010.
Balai ini memiliki laboratorium hama, penyakit ikan dan lingkungan yang lengkap hingga dapat melakukan kajian. hama, penyakit dan lingkungan. "Selain itu untuk memproduksi vaksin yang diharapkan mampu mengatasi masalah penyakit virus," ucap Made.
■ Yogyo Susaptoyono
Sumber : Koran Jurnal Nasional,12 Januari 2010 Hal.4
cetak halaman ini
KEMENTERIAN Kelautan dan Perikanan (KKP) masih menempatkan udang sebagai komoditas andalan perikanan budidaya selama 2010-2014. Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budidaya Made L Nurdjana, mengatakan, selama periode 2010-2014 produksi udang diharapkan naik 74,75 persen dari 400 ribu ton menjadi 699 ribu ton, terdiri udang vaname dan windu.
"Udang tetap komoditas penting dikembangkan karena permintaan ekspor cukup besar dan memenuhi konsumsi dalam negeri," katanya, di Jakarta, akhir pekan lalu. Made mengatakan, peningkatan produksi udang windu ditargetkan 10,42 persen per tahun. Untuk mewujukan itu, pada 2009 telah memperbaiki saluran irigasi dan prasarana area tambak seluas 53 ribu hektare (ha) di 56 kabupaten pada 16 provinsi.
Pelaksanaannya, oleh Departemen Pekerjaan Umum (DPU) melalui dana stimulus dengan total anggaran Rp430 miliar. Dia mengatakan, udang windu dikembangkan dengan teknologi ekstensif polikultur dan organik hingga harga jual tinggi karena sesuai kecenderungan konsumsi masyarakat dunia.
"Untuk itu ke depan akan diupayakan subsidi pupuk organik, tidak pupuk anorga-nik seperti selama ini," ujar dia. Untuk udang vaname, dikembangkan melalui teknologi semi intensis dan intensif dengan target produksi naik 17,38 persen per tahun dari 275 ribu ton pada 2010 menjadi 500 ribu ton 2014. Pemerintah pun telah membangun Broostock Center atau pusat produksi induk udang unggul vaname Nusantara di Bali. Hal ini guna memenuhi kebutuhan induk udang dalam negeri dan mengurangi ketergantungan induk impor.
Kemampuan produksi Broostock Center itu diperkirakan mencapai 240 ribu ekor induk unggul per tahun atau terbesar di dunia. "Penampilan induk Nusantara I yang telah dibudidayakan di Kalimantan Barat, Lampung dan Jatim menunjukkan hasil yang memuaskan."
Made menjamin, tak perlu ada kekhawatiran terhadap penyediaan benih udang bermutu yang diperlukan dalam program peningkatan produksi udang. Menurut dia guna mengurangi dan mencegah serangan hama dan penyakit ikan pada udang akibat penurunan kualitas lingkungan, pada 2009 dibangun Balai Penyeledikan Penyakit Ikan dan Lingkungan di Kabupaten Serang Banten. Peresrnian balai ini dijadwal-kan awal 2010.
Balai ini memiliki laboratorium hama, penyakit ikan dan lingkungan yang lengkap hingga dapat melakukan kajian. hama, penyakit dan lingkungan. "Selain itu untuk memproduksi vaksin yang diharapkan mampu mengatasi masalah penyakit virus," ucap Made.
■ Yogyo Susaptoyono
Sumber : Koran Jurnal Nasional,12 Januari 2010 Hal.4
cetak halaman ini
Tahap Persiapan Tebar Benur
Tahap Persiapan Tebar Benur
Tahapan kegiatan persiapan tebar benur dilakukan setelah tahap pengelolaan lahan pasca panen relatif memadai untuk proses tebar benur. Secara garis besar tahapan ini mencakup 3 (tiga) sub tahapan yaitu:
1. Penyiapan lahan dan sarananya. Sub tahapan ini bertujuan untuk menyediakan suatu media yang nyaman bagi benur yang sebelumnya hidup dalam lingkungan yang berbeda. Sedangkan sarana diperlukan untuk membantu proses awal siklus budidaya udang sehingga tidak terjadi suatu kendala bagi akivitas budidaya yang secara tidak langsung juga berpengaruh pada keberhasilan budidaya.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam sub tahapan ini antara lain : (i) Tes konstruksi tambak, (ii) Filterisasi saluran pemasukan air dan saluran pembuangan, dan (iii) Pemasangan kincir air.
Tes konstruksi tambak bertujuan untuk mengetahui tingkat kebocoran dan laju penyusutan air di dalam tambak serta kelancaran saluran pembuangan. Metode yang dapat digunakan untuk kegiatan ini adalah melalui pengisian air ke dalam tambak pada ketinggian maksimal pada periode waktu tertentu. Faktor ini perlu dipertimbangkan agar secara desain dan konstruksinya suatu petakan tambak tidak menimbulkan suatu kendala dalam melakukan proses budidaya.
Filterisasi di saluran pemasukan air bertujuan mencegah masuknya predator dan kompetitor udang ke dalam tambak, sedangkan filterisasi di sentral pembuangan air bertujuan mencegah keluarnya udang yang masih berukuran kecil. Metode yang dapat digunakan pada kegiatan ini adalah melalui pemasangan streameen pada paralon pemasukan air dan sentral pembuangan.
Kegiatan selanjutnya pada sub tahapan ini adalah pemasangan kincir air. Hal yang perlu diperhatikan adala posisi kincir sebaiknya dapat menimbulkan arus air yang bisa mengarahkan kotoran di dasar tambak ke sentral pembuangan.
2. Penyiapan air tambak. Sub tahapan ini meliputi kegiatan antara lain : (i) Pengisian air dengan ketinggian 25 - 30 cm, (ii) Penginciran air tambak, (iii) Penambahan volume air tambak, (iv) Penumbuhan pakan alami, dan (v) Pengelolaan kecerahan air.
Pada saat ketingggian air tambak sekitar 25 - 30 cm perlakuan teknis yang biasa dilakukan adalah pemberian saponin dengan dosis tertentu yang bertujuan untuk (a) mematikan predator dan kompetitor udang yang masuk ke dalam tambak, (b) membantu proses pembentukan air tambak (sebagai salah satu pupuk organik).
Setelah perlakuan saponin dilakukan maka selanjutnya dilakukan proses penginciran air tambak yang bertujuan untuk membantu proses penyebaran saponin secara merata ke dalam tambak sekaligus unuk membantu proses pembentukan air. Kegiatan penambahan air dilakukan setelah busa/buih yang ditimbulkan oleh saponin telah hilang.
Pakan alami bagi benur biasanya berupa zooplankton (diatomae) yang dapat diamati secara visual setelah sub tahapan ini berlangsung sekitar 5 – 7 hari.
Kegiatan selanjutnya pada sub tahapan ini adalah pengelolaan kecerahan air yang dapat dilakukan dengan cara pemupukan dengan urea & TSP berdasarkan dosis yang diperlukan. Kecerahan air untuk tebar benur sebaiknya tembus dasar atau tidak terlalu pekat.
3. Persiapan tebar benur. Sub tahapan ini pada dasarnya merupakan kegiatan yang paling akhir dari proses penyiapan lahan tebar benur setelah semua tahapan dianggap cukup optimal bagi proses pemindahan benur dari dua lingkungan yang berbeda.
Penyiapan lahan tebar benur harus memperhatikan faktor musim dan epidemi penyakit pada saat itu.
sumber:http://marindro-ina.blogspot.com
Tahapan kegiatan persiapan tebar benur dilakukan setelah tahap pengelolaan lahan pasca panen relatif memadai untuk proses tebar benur. Secara garis besar tahapan ini mencakup 3 (tiga) sub tahapan yaitu:
1. Penyiapan lahan dan sarananya. Sub tahapan ini bertujuan untuk menyediakan suatu media yang nyaman bagi benur yang sebelumnya hidup dalam lingkungan yang berbeda. Sedangkan sarana diperlukan untuk membantu proses awal siklus budidaya udang sehingga tidak terjadi suatu kendala bagi akivitas budidaya yang secara tidak langsung juga berpengaruh pada keberhasilan budidaya.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam sub tahapan ini antara lain : (i) Tes konstruksi tambak, (ii) Filterisasi saluran pemasukan air dan saluran pembuangan, dan (iii) Pemasangan kincir air.
Tes konstruksi tambak bertujuan untuk mengetahui tingkat kebocoran dan laju penyusutan air di dalam tambak serta kelancaran saluran pembuangan. Metode yang dapat digunakan untuk kegiatan ini adalah melalui pengisian air ke dalam tambak pada ketinggian maksimal pada periode waktu tertentu. Faktor ini perlu dipertimbangkan agar secara desain dan konstruksinya suatu petakan tambak tidak menimbulkan suatu kendala dalam melakukan proses budidaya.
Filterisasi di saluran pemasukan air bertujuan mencegah masuknya predator dan kompetitor udang ke dalam tambak, sedangkan filterisasi di sentral pembuangan air bertujuan mencegah keluarnya udang yang masih berukuran kecil. Metode yang dapat digunakan pada kegiatan ini adalah melalui pemasangan streameen pada paralon pemasukan air dan sentral pembuangan.
Kegiatan selanjutnya pada sub tahapan ini adalah pemasangan kincir air. Hal yang perlu diperhatikan adala posisi kincir sebaiknya dapat menimbulkan arus air yang bisa mengarahkan kotoran di dasar tambak ke sentral pembuangan.
2. Penyiapan air tambak. Sub tahapan ini meliputi kegiatan antara lain : (i) Pengisian air dengan ketinggian 25 - 30 cm, (ii) Penginciran air tambak, (iii) Penambahan volume air tambak, (iv) Penumbuhan pakan alami, dan (v) Pengelolaan kecerahan air.
Pada saat ketingggian air tambak sekitar 25 - 30 cm perlakuan teknis yang biasa dilakukan adalah pemberian saponin dengan dosis tertentu yang bertujuan untuk (a) mematikan predator dan kompetitor udang yang masuk ke dalam tambak, (b) membantu proses pembentukan air tambak (sebagai salah satu pupuk organik).
Setelah perlakuan saponin dilakukan maka selanjutnya dilakukan proses penginciran air tambak yang bertujuan untuk membantu proses penyebaran saponin secara merata ke dalam tambak sekaligus unuk membantu proses pembentukan air. Kegiatan penambahan air dilakukan setelah busa/buih yang ditimbulkan oleh saponin telah hilang.
Pakan alami bagi benur biasanya berupa zooplankton (diatomae) yang dapat diamati secara visual setelah sub tahapan ini berlangsung sekitar 5 – 7 hari.
Kegiatan selanjutnya pada sub tahapan ini adalah pengelolaan kecerahan air yang dapat dilakukan dengan cara pemupukan dengan urea & TSP berdasarkan dosis yang diperlukan. Kecerahan air untuk tebar benur sebaiknya tembus dasar atau tidak terlalu pekat.
3. Persiapan tebar benur. Sub tahapan ini pada dasarnya merupakan kegiatan yang paling akhir dari proses penyiapan lahan tebar benur setelah semua tahapan dianggap cukup optimal bagi proses pemindahan benur dari dua lingkungan yang berbeda.
Penyiapan lahan tebar benur harus memperhatikan faktor musim dan epidemi penyakit pada saat itu.
sumber:http://marindro-ina.blogspot.com
Kondisi Dasar Tambak ( Metode Pengamatan)
Kotoran di dasar tambak biasanya berupa lumpur hitam yang mengendap di dasar serta mengandung H2S dan NH3 yang bersifat asam dalam dosis tertentu dapat membahayakan bagi udang. Kotoran ini berasal dari proses metabolisme yang dilakukan oleh organisme perairan tersebut, mortalitas plankton dan sisa pakan udang yang tidak terkonsumsi serta pengaruh dari treatment budidaya lainnya. Keberadaan lumpur hitam di dasar tambak dapat teramati melalui cara antara lain:
1. Pengamatan warna kulit/khitin udang melalui sampling berkala maupun pengamatan ancho. Kondisi dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur biasanya berdampak pada penampakan kulit udang yang cenderung berwarna lebih gelap dari keadaan normal. Pada saat dilakukan sampling sampling kotoran dasar tambak/lumpur biasanya ikut terbawa pada jala yang ditebarkan ke dalam tambak.
2. Pengecekkan langsung ke dasar tambak dengan melakukan penyelaman untuk melihat kondisi dasar tambak dan kondisi udang.
3. Melihat saluran pembuangan air tambak pada saat dilakukan sirkulasi air dengan memperhitungkan jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan kotoran/lumpur tersebut. Pada kegiatan ini juga perlu diperhatikan tingkat kelancaran saluran pembuangan dalam mengeluarkan air tambak, jika terjadi penyumbatan maka dibutuhkan identifikasi lanjutan terhadap penyebab penyumbatan tersebut. Faktor lain yang juga perlu dipertimbangkan adalah keberadaan bangkai udang yang ikut terbawa keluar bersama air tambak berdasarkan jumlah dan kondisi bangkai udang tersebut agar dapat diambil alternatif keputusan yang mengarah pada harvesting decision ataupun treatment decision.
4. Pengamatan terhadap permukaan air tambak pada saat kincir air tidak dioperasikan. Kondisi dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur biasanya mengeluarkan gelembung-gelembung udara yang muncul dari dasar tambak ke arah permukaan air, jika di permukaan tambak banyak dijumpai fenomena ini maka kondisi dasar tambak relatif sangat kotor dan penuh lumpur.
Pemantauan kondisi dasar tambak perlu dilakukan secara cermat baik melalui pengamatan berkala maupun yang bersifat insidental agar permasalahan yang terjadi dapat segera ditangani. Permasalahan cukup serius yang biasanya terjadi adalah kematian udang di dasar tambak karena berbagai permasalahan yang tidak terdeteksi. Kematian udang di dasar tambak yang disebabkan oleh proses moulting biasa dijumpai dan bersifat alamiah karena adanya kanibalisme dari udang lainnya dalam kuantitas masih berada pada batas toleransi yang ditetapkan. Sedangkan kematian udang di dasar tambak yang bersifat massal dan disebabkan oleh permasalahan yang tidak terdeteksi biasanya bangkai udang terkonsentrasi di sentral pembuangan dan pada tingkat yang lebih parah bangkai udang menyebar di dasar tambak.
sumber :http://marindro-ina.blogspot.com
1. Pengamatan warna kulit/khitin udang melalui sampling berkala maupun pengamatan ancho. Kondisi dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur biasanya berdampak pada penampakan kulit udang yang cenderung berwarna lebih gelap dari keadaan normal. Pada saat dilakukan sampling sampling kotoran dasar tambak/lumpur biasanya ikut terbawa pada jala yang ditebarkan ke dalam tambak.
2. Pengecekkan langsung ke dasar tambak dengan melakukan penyelaman untuk melihat kondisi dasar tambak dan kondisi udang.
3. Melihat saluran pembuangan air tambak pada saat dilakukan sirkulasi air dengan memperhitungkan jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan kotoran/lumpur tersebut. Pada kegiatan ini juga perlu diperhatikan tingkat kelancaran saluran pembuangan dalam mengeluarkan air tambak, jika terjadi penyumbatan maka dibutuhkan identifikasi lanjutan terhadap penyebab penyumbatan tersebut. Faktor lain yang juga perlu dipertimbangkan adalah keberadaan bangkai udang yang ikut terbawa keluar bersama air tambak berdasarkan jumlah dan kondisi bangkai udang tersebut agar dapat diambil alternatif keputusan yang mengarah pada harvesting decision ataupun treatment decision.
4. Pengamatan terhadap permukaan air tambak pada saat kincir air tidak dioperasikan. Kondisi dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur biasanya mengeluarkan gelembung-gelembung udara yang muncul dari dasar tambak ke arah permukaan air, jika di permukaan tambak banyak dijumpai fenomena ini maka kondisi dasar tambak relatif sangat kotor dan penuh lumpur.
Pemantauan kondisi dasar tambak perlu dilakukan secara cermat baik melalui pengamatan berkala maupun yang bersifat insidental agar permasalahan yang terjadi dapat segera ditangani. Permasalahan cukup serius yang biasanya terjadi adalah kematian udang di dasar tambak karena berbagai permasalahan yang tidak terdeteksi. Kematian udang di dasar tambak yang disebabkan oleh proses moulting biasa dijumpai dan bersifat alamiah karena adanya kanibalisme dari udang lainnya dalam kuantitas masih berada pada batas toleransi yang ditetapkan. Sedangkan kematian udang di dasar tambak yang bersifat massal dan disebabkan oleh permasalahan yang tidak terdeteksi biasanya bangkai udang terkonsentrasi di sentral pembuangan dan pada tingkat yang lebih parah bangkai udang menyebar di dasar tambak.
sumber :http://marindro-ina.blogspot.com
Jangan Terperangkap Target FCR (Food Conversion Ratio)
Jangan Terperangkap Target FCR (Food Conversion Ratio)
Pada pembahasan-pembahasan terdahulu telah dijelaskan mengenai FCR (Food Convertion Ratio) yaitu perbandingan (rasio) antara berat pakan yang telah diberikan dalam satu siklus periode budidaya dengan berat total (biomass) udang yang dihasilkan pada saat itu. Sebagai contoh : pada suatu periode budidaya telah berhasil dipanen udang dengan biomass 2 ton sedangkan berat pakan total yang telah digunakan seberat 3 ton, maka besaran FCR pada saat itu adalah sebesar 3 ton / 2 ton = 1.5.
Pada suatu usaha budidaya udang pada umumnya nilai FCR dijadikan sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan baik secara teknis budidaya maupun secara finansial. Ditinjau dari segi teknis budidaya, nilai FCR terkait dengan parameter keberhasilan pengelolaan program pakan udang yang secara tidak langsung juga terkait dengan pengelolaan kualitas air dan kondisi/kualitas udang. Sedangkan secara finansial nilai FCR akan berpengaruh terhadap tingkat keuntungan yang diperoleh pada satu periode budidaya karena pakan udang merupakan penyumbang biaya terbesar pada suatu usaha budidaya udang. Nilai FCR yang paling ideal biasanya berada pada kisaran 1.5 – 2.5 (tergantung dari media/kondisi lahan tambak yang digunakan).
Mengacu pada penjelasan tersebut di atas, maka kondisi yang sering terjadi adalah pada saat memulai kegiatan budidaya udang biasanya telah ditetapkan target nilai FCR yang harus dicapai. Hal seperti ini pada akhirnya dapat membuat kondisi dimana pengelolaan program pakan udang lebih mengacu pada target FCR daripada tingkat kebutuhan udang terhadap pakan pada saat itu. Secara psikologis, target FCR dapat mengakibatkan rasa khawatir jika nilai FCR akan membengkak atau dengan kata lain telah terjadi pemborosan pakan udang (tentu saja biaya produksi juga membengkak). Faktor psikologis seperti ini biasanya juga berpengaruh pada penyusunan program pemberian pakan udang yang kurang optimal karena lebih cenderung pada prinsip pengiritan pakan.
Program pemberian pakan yang mengacu pada target FCR tanpa memperhatikan tingkat kebutuhan udang pada umumnya dapat mengakibatkan kondisi sebagai berikut:
1. Terlambat dalam pemberian pakan (terutama pakan buatan) pada phase bulan pertama, meskipun telah terindikasi ketersediaan pakan alami pada saat itu mulai berkurang/habis. Kondisi ini dapat mempengaruhi terhadap kondisi, populasi dan tingkat keseragaman udang yang secara tidak langsung akan berpengaruh pada program pemberian pakan berikutnya.
2. Berat pakan per hari (pakan harian) yang diberikan ditentukan oleh estimasi populasi dan biomass udang yang mengacu pada target FCR yang telah ditentukan. Perubahan berat pakan per hari lebih cenderung mengarah pada perubahan konstan dan tidak berfluktuatif sesuai dengan tingkat kebutuhan udang pada saat-saat tertentu.
3. Adanya persepsi yang kurang benar terhadap frekuensi pemberian pakan, yaitu semakin banyak frekuensi pemberian pakan maka akan mengakibatkan FCR membengkak.
Pada kondisi tersebut di atas frekuensi pemberian pakan harian lebih mengarah pada kuantitas total pakan harian yang terdistribusi pada tiap-tiap frekuensi pakan dan tidak mengacu kemampuan udang dalam mengkonsumsi pakan serta seberapa lama/sering udang akan membutuhkan pakan lagi.
Sebagai contoh: Populasi udang dalam suatu petakan tambak membutuhkan total pakan per hari adalah 20 kg. Pada saat itu misalnya kemampuan populasi udang tersebut rata-rata hanya 4 kg, maka secara ideal frekuensi pakan harian sebaiknya sudah 5 kali sehari. Jika frekuensi pakan harian hanya dilakukan 4 kali, meskipun berat total pakan per hari adalah sama yaitu 20 kg, maka setiap kali pemberian pakan rata-rata adalah 5 kg dan ini berarti ada 1 kg pakan yang tidak terkonsumsi setiap kalinya atau 4 kg per hari.
4. Terkait dengan penjelasan no 1, 2 dan 3 tersebut di atas maka hasil panen udang pada akhirnya juga tidak dapat optimal baik dari segi kualitas, kuantitas (biomass) sekaligus tingkat keuntugan yang diperoleh, meskipun secara target FCR dapat terpenuhi.
Berdasarkan penjelasan dan ilustrasi di atas, maka dapat dikatakan bahwa dalam menjalankan usaha budidaya udang terutama pengelolaan program pakan sebaiknya kita tidak terperangkap oleh target FCR tanpa memperhatikan kondisi dan tingkat kebutuhan udang. Memang target FCR memiliki peranan yang penting sebagai pedoman program pakan, dan jangan sampai hal ini membuat suatu kondisi bahwa udang harus mengikuti kita, tapi sebaliknya kitalah yang harus mengikuti kebutuhan udang.
sumber : http://marindro-ina.blogspot.com
Pada pembahasan-pembahasan terdahulu telah dijelaskan mengenai FCR (Food Convertion Ratio) yaitu perbandingan (rasio) antara berat pakan yang telah diberikan dalam satu siklus periode budidaya dengan berat total (biomass) udang yang dihasilkan pada saat itu. Sebagai contoh : pada suatu periode budidaya telah berhasil dipanen udang dengan biomass 2 ton sedangkan berat pakan total yang telah digunakan seberat 3 ton, maka besaran FCR pada saat itu adalah sebesar 3 ton / 2 ton = 1.5.
Pada suatu usaha budidaya udang pada umumnya nilai FCR dijadikan sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan baik secara teknis budidaya maupun secara finansial. Ditinjau dari segi teknis budidaya, nilai FCR terkait dengan parameter keberhasilan pengelolaan program pakan udang yang secara tidak langsung juga terkait dengan pengelolaan kualitas air dan kondisi/kualitas udang. Sedangkan secara finansial nilai FCR akan berpengaruh terhadap tingkat keuntungan yang diperoleh pada satu periode budidaya karena pakan udang merupakan penyumbang biaya terbesar pada suatu usaha budidaya udang. Nilai FCR yang paling ideal biasanya berada pada kisaran 1.5 – 2.5 (tergantung dari media/kondisi lahan tambak yang digunakan).
Mengacu pada penjelasan tersebut di atas, maka kondisi yang sering terjadi adalah pada saat memulai kegiatan budidaya udang biasanya telah ditetapkan target nilai FCR yang harus dicapai. Hal seperti ini pada akhirnya dapat membuat kondisi dimana pengelolaan program pakan udang lebih mengacu pada target FCR daripada tingkat kebutuhan udang terhadap pakan pada saat itu. Secara psikologis, target FCR dapat mengakibatkan rasa khawatir jika nilai FCR akan membengkak atau dengan kata lain telah terjadi pemborosan pakan udang (tentu saja biaya produksi juga membengkak). Faktor psikologis seperti ini biasanya juga berpengaruh pada penyusunan program pemberian pakan udang yang kurang optimal karena lebih cenderung pada prinsip pengiritan pakan.
Program pemberian pakan yang mengacu pada target FCR tanpa memperhatikan tingkat kebutuhan udang pada umumnya dapat mengakibatkan kondisi sebagai berikut:
1. Terlambat dalam pemberian pakan (terutama pakan buatan) pada phase bulan pertama, meskipun telah terindikasi ketersediaan pakan alami pada saat itu mulai berkurang/habis. Kondisi ini dapat mempengaruhi terhadap kondisi, populasi dan tingkat keseragaman udang yang secara tidak langsung akan berpengaruh pada program pemberian pakan berikutnya.
2. Berat pakan per hari (pakan harian) yang diberikan ditentukan oleh estimasi populasi dan biomass udang yang mengacu pada target FCR yang telah ditentukan. Perubahan berat pakan per hari lebih cenderung mengarah pada perubahan konstan dan tidak berfluktuatif sesuai dengan tingkat kebutuhan udang pada saat-saat tertentu.
3. Adanya persepsi yang kurang benar terhadap frekuensi pemberian pakan, yaitu semakin banyak frekuensi pemberian pakan maka akan mengakibatkan FCR membengkak.
Pada kondisi tersebut di atas frekuensi pemberian pakan harian lebih mengarah pada kuantitas total pakan harian yang terdistribusi pada tiap-tiap frekuensi pakan dan tidak mengacu kemampuan udang dalam mengkonsumsi pakan serta seberapa lama/sering udang akan membutuhkan pakan lagi.
Sebagai contoh: Populasi udang dalam suatu petakan tambak membutuhkan total pakan per hari adalah 20 kg. Pada saat itu misalnya kemampuan populasi udang tersebut rata-rata hanya 4 kg, maka secara ideal frekuensi pakan harian sebaiknya sudah 5 kali sehari. Jika frekuensi pakan harian hanya dilakukan 4 kali, meskipun berat total pakan per hari adalah sama yaitu 20 kg, maka setiap kali pemberian pakan rata-rata adalah 5 kg dan ini berarti ada 1 kg pakan yang tidak terkonsumsi setiap kalinya atau 4 kg per hari.
4. Terkait dengan penjelasan no 1, 2 dan 3 tersebut di atas maka hasil panen udang pada akhirnya juga tidak dapat optimal baik dari segi kualitas, kuantitas (biomass) sekaligus tingkat keuntugan yang diperoleh, meskipun secara target FCR dapat terpenuhi.
Berdasarkan penjelasan dan ilustrasi di atas, maka dapat dikatakan bahwa dalam menjalankan usaha budidaya udang terutama pengelolaan program pakan sebaiknya kita tidak terperangkap oleh target FCR tanpa memperhatikan kondisi dan tingkat kebutuhan udang. Memang target FCR memiliki peranan yang penting sebagai pedoman program pakan, dan jangan sampai hal ini membuat suatu kondisi bahwa udang harus mengikuti kita, tapi sebaliknya kitalah yang harus mengikuti kebutuhan udang.
sumber : http://marindro-ina.blogspot.com
Bagaimana mencapai Nilai FCR (Food Conversion Ratio) Secara Optimal
Bagaimana mencapai Nilai FCR (Food Conversion Ratio) Secara Optimal
Nilai FCR optimal dapat diartikan sebagai FCR yang memiliki nilai keuntungan (profit value) yang optimal baik secara teknis budidaya maupun financial yang diperoleh melalui pengelolaan program pakan sesuai dengan tingkat kebutuhan udang dalam satu siklus periode budidaya udang.
Upaya untuk memperoleh nilai FCR yang optimal dapat dilakukan melalui beberapa alternative kegiatan sebagai berikut:
1. Lakukan pengamatan secara cermat terhadap tingkah laku benur/udang kecil pada saat fase bulan pertama (awal tebar – sub fase minggu ke 4) untuk mengetahui kebutuhan udang terhadap suplai pakan dari luar (pakan buatan) yang disebabkan oleh kurangnya/habisnya stok pakan alami di dalam perairan tambak. Jika benur/udang kecil sudah menunjukkan tingkah laku (konvoi, merayap di dinding tambak, dsb), segera mulai dilakukan pemberian pakan dengan system “blind feeding”.
2. Pada saat melakukan “blind feeding” sebaiknya sudah mulai dilakukan cek pakan di anco secara kasar untuk melakukan estimasi kebutuhan populasi udang terhadap pakan per harinya.
3. Jika berdasarkan cek pakan di anco tersebut di atas telah dapat diestimasikan kebutuhan pakan hariannya, maka sebaiknya program pakan sudah mulai terukur. Pada kondisi ini, frekuensi pakan harian sebaiknya sudah 3 kali sehari.
4. Lakukan sampling udang pada saat awal bulan kedua atau pada saat udang berukuran sekitar 2.5 gram – 5 gram (bisa dilakukan melalui sampling anco maupun sampling jala). Kegiatan sampling awal ini bertujuan untuk mengestimasi tingkat kehidupan populasi udang di dalam tambak (SR=survival rate), kondisi dan kualitas udang, berat rata-rata udang dalam populasi serta biomas udang dalam tambak.
Hasil sampling awal ini dapat digunakan untuk menentukan program pakan yang lebih terukur dan terarah. Jika populasi dan kondisi udang relative bagus maka frekuensi pakan harian sebaiknya sudah 5 kali.
Penjelasan terkait dengan frekuensi dan simulasi program pakan sudah diuraikan dalam pembahasan-pembahasan terdahulu.
5. Pada saat program pakan yang telah disusun secara terukur dan terarah hal yang mendasar yang perlu diperhatikan adalah lakukan penyesuaian program pakan tersebut berdasarkan hasil pengamatan/cek pakan di anco agar sesuai dengan tingkat kebutuhan udang yang cenderung berfluktuasi tergantung dari kondisi dan kualitas udang. Keberadaan jumlah pakan dianco pada saat cek anco dapat dibagi dalam 3 kategori, yaitu (i) pakan habis, (ii) pakan masih tersisa dan (iii) pakan utuh.
Jika pakan dianco habis pada saat cek pakan, hal ini menunjukkan bahwa nafsu makan udang relative bagus, maka penyesuaian program pakan yang dapat dilakukan adalah melalui penambahan jumlah pakan harian. Lakukan hal yang sama pada kondisi yang sama pula.
Jika pakan dianco masih tersisa pada saat cek pakan, hal ini menunjukkan bahwa nafsu makan udang mengalami penurunan, maka penyesuaian program pakan yang dapat dilakukan adalah melalui pengurangan jumlah pakan harian. Jika kondisi ini terjadi selama beberapa hari maka dapat dilakukan pemberian pakan segar untuk mengembalikan nafsu makan udang. Lakukan penyesuaian program pakan lagi jika nafsu makan udang sudah normal kembali.
Jika pakan di anco ternyata masih utuh, maka kondisi seperti ini menandakan bahwa pakan tidak terkonsumsi sama sekali oleh udang. Kondisi ini dapat mengindikasikan telah terjadi masalah yang serius bagi udang. Lakukan pengurangan pakan secara drastis, selain itu lakukan pula pengecekan dasar tambak untuk mengetahui apakah telah terjadi kematian massal udang di dalam tambak. Keputusan yang perlu diambil terhadap kondisi seperti ini tergantung pada hasil cek dasar tambak dan perkembangan kondisi udang.
6. Lakukan sampling udang (menggunakan jala) secara rutin dan periodik (10 harian – 2 mingguan) untuk mengestimasi perkembangan tingkat kehidupan populasi udang di dalam tambak (SR=survival rate), kondisi dan kualitas udang, berat rata-rata udang dalam populasi serta biomas udang dalam tambak.
Hasil sampling secara periodik ini dapat digunakan sebagai alat kontrol untuk mengestimasikan perkembangan nilai FCR (Food Conversion Ratio) secara optimal.
Beberapa upaya untuk memperoleh nilai FCR yang optimal seperti tersebut di atas merupakan upaya secara umum yang dapat dilakukan, dalam implementasinya upaya-upaya tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi dan media tambak yang digunakan. Sekali lagi prinsip utama yang perlu digunakan adalah jangan sampai udang menuruti kita, tapi sebaliknya kitalah yang harus menuruti kebutuhan udang.
sumber: http://marindro-ina.blogspot.com
Nilai FCR optimal dapat diartikan sebagai FCR yang memiliki nilai keuntungan (profit value) yang optimal baik secara teknis budidaya maupun financial yang diperoleh melalui pengelolaan program pakan sesuai dengan tingkat kebutuhan udang dalam satu siklus periode budidaya udang.
Upaya untuk memperoleh nilai FCR yang optimal dapat dilakukan melalui beberapa alternative kegiatan sebagai berikut:
1. Lakukan pengamatan secara cermat terhadap tingkah laku benur/udang kecil pada saat fase bulan pertama (awal tebar – sub fase minggu ke 4) untuk mengetahui kebutuhan udang terhadap suplai pakan dari luar (pakan buatan) yang disebabkan oleh kurangnya/habisnya stok pakan alami di dalam perairan tambak. Jika benur/udang kecil sudah menunjukkan tingkah laku (konvoi, merayap di dinding tambak, dsb), segera mulai dilakukan pemberian pakan dengan system “blind feeding”.
2. Pada saat melakukan “blind feeding” sebaiknya sudah mulai dilakukan cek pakan di anco secara kasar untuk melakukan estimasi kebutuhan populasi udang terhadap pakan per harinya.
3. Jika berdasarkan cek pakan di anco tersebut di atas telah dapat diestimasikan kebutuhan pakan hariannya, maka sebaiknya program pakan sudah mulai terukur. Pada kondisi ini, frekuensi pakan harian sebaiknya sudah 3 kali sehari.
4. Lakukan sampling udang pada saat awal bulan kedua atau pada saat udang berukuran sekitar 2.5 gram – 5 gram (bisa dilakukan melalui sampling anco maupun sampling jala). Kegiatan sampling awal ini bertujuan untuk mengestimasi tingkat kehidupan populasi udang di dalam tambak (SR=survival rate), kondisi dan kualitas udang, berat rata-rata udang dalam populasi serta biomas udang dalam tambak.
Hasil sampling awal ini dapat digunakan untuk menentukan program pakan yang lebih terukur dan terarah. Jika populasi dan kondisi udang relative bagus maka frekuensi pakan harian sebaiknya sudah 5 kali.
Penjelasan terkait dengan frekuensi dan simulasi program pakan sudah diuraikan dalam pembahasan-pembahasan terdahulu.
5. Pada saat program pakan yang telah disusun secara terukur dan terarah hal yang mendasar yang perlu diperhatikan adalah lakukan penyesuaian program pakan tersebut berdasarkan hasil pengamatan/cek pakan di anco agar sesuai dengan tingkat kebutuhan udang yang cenderung berfluktuasi tergantung dari kondisi dan kualitas udang. Keberadaan jumlah pakan dianco pada saat cek anco dapat dibagi dalam 3 kategori, yaitu (i) pakan habis, (ii) pakan masih tersisa dan (iii) pakan utuh.
Jika pakan dianco habis pada saat cek pakan, hal ini menunjukkan bahwa nafsu makan udang relative bagus, maka penyesuaian program pakan yang dapat dilakukan adalah melalui penambahan jumlah pakan harian. Lakukan hal yang sama pada kondisi yang sama pula.
Jika pakan dianco masih tersisa pada saat cek pakan, hal ini menunjukkan bahwa nafsu makan udang mengalami penurunan, maka penyesuaian program pakan yang dapat dilakukan adalah melalui pengurangan jumlah pakan harian. Jika kondisi ini terjadi selama beberapa hari maka dapat dilakukan pemberian pakan segar untuk mengembalikan nafsu makan udang. Lakukan penyesuaian program pakan lagi jika nafsu makan udang sudah normal kembali.
Jika pakan di anco ternyata masih utuh, maka kondisi seperti ini menandakan bahwa pakan tidak terkonsumsi sama sekali oleh udang. Kondisi ini dapat mengindikasikan telah terjadi masalah yang serius bagi udang. Lakukan pengurangan pakan secara drastis, selain itu lakukan pula pengecekan dasar tambak untuk mengetahui apakah telah terjadi kematian massal udang di dalam tambak. Keputusan yang perlu diambil terhadap kondisi seperti ini tergantung pada hasil cek dasar tambak dan perkembangan kondisi udang.
6. Lakukan sampling udang (menggunakan jala) secara rutin dan periodik (10 harian – 2 mingguan) untuk mengestimasi perkembangan tingkat kehidupan populasi udang di dalam tambak (SR=survival rate), kondisi dan kualitas udang, berat rata-rata udang dalam populasi serta biomas udang dalam tambak.
Hasil sampling secara periodik ini dapat digunakan sebagai alat kontrol untuk mengestimasikan perkembangan nilai FCR (Food Conversion Ratio) secara optimal.
Beberapa upaya untuk memperoleh nilai FCR yang optimal seperti tersebut di atas merupakan upaya secara umum yang dapat dilakukan, dalam implementasinya upaya-upaya tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi dan media tambak yang digunakan. Sekali lagi prinsip utama yang perlu digunakan adalah jangan sampai udang menuruti kita, tapi sebaliknya kitalah yang harus menuruti kebutuhan udang.
sumber: http://marindro-ina.blogspot.com
keseragaman udang
Sebagaimana telah dijelaskan, udang dalam suatu populasi di tambak secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu : (i) udang seragam, (ii) tingkat keseragaman udang sedang, dan (iii) tingkat keseragaman udang parah. Selain penjelasan tersebut, pemahaman tentang alternative cara pengelolaannya berdasarkan kondisi yang dijumpai di lapangan.
Secara garis besar pengelolaan yang perlu dilakukan terkait dengan keseragaman udang meliputi pengelolaan program pakan dan pengelolaan kualitas air (asumsi: benur yang digunakan relative telah seragam, baik ukuran maupun usianya). Alternatif pengelolaan terhadap kondisi tersebut di atas adalah sebagai berikut:
1. Udang Seragam. Jika populasi udang di dalam tambak menunjukkan ukuran udang relatif seragam, maka pengelolaan secara teknis yang perlu dilakukan adalah bagaimana cara mempertahankan kondisi ideal tersebut hingga udang siap untuk dipanen secara normal. Pengelolaan program pakan harus selalu mengikuti tingkat kebutuhan udang dan jumlah pakan harian yang diberikan sesuai dengan tingkat kepadatan udang di dalam tambak. Pada kondisi seperti ini biasanya jumlah pakan yang diberikan akan menunjukkan kecenderungan yang selalu meningkat berdasarkan waktu (kecuali udang dalam kondisi moulting secara periodik). Program pakan harus dikelola secara cermat berdasarkan pengamatan yang dilakukan (melalui check ancho maupun sampling).
Selain program pakan, alternative pengelolaan yang perlu dilakukan adalah kualitas air tambak. Biasanya terdapat korelasi antara keseragaman udang dan kualitas air (asumsi: program pakan yang diterapkan sudah seperti tersebut di atas), yaitu: ukuran udang akan relative seragam jika pengelolaan kualitas air sesuai dengan tingkat kebutuhan udang. Upaya yang perlu dilakukan dalam pengelolaan kualitas air adalah bagaiamana mempertahankan kualitas air tambak relative stabil dan tidak terjadi fluktuasi perubahan kualias air tambak tersebut. Penjelasan terkait dengan pengelolaan kualitas air tambak telah diuraikan dalam pembahasan-pembahasan terdahulu.
2. Udang dengan tingkat keseragaman sedang. Pada kondisi seperti ini pengelolaan secara teknis yang perlu dilakukan adalah bagaimana cara mencegah agar tingkat keseragamannya tidak bertambah parah serta upaya untuk memperbaikinya kea rah yang lebih bagus. Program pakan yang diterapakan perlu ditinjau ulang terutama terkait dengan komposisi ukuran pakan udang serta jumlah pakan yang diberikan. Komposisi ukuran pakan dan jumlahnya dapat diestimasi secara kasar melalui pengamatan pada waktu sampling dan cek ancho. Estimasi yang dilakukan mencakup persentase kepadatan masing-masing ukuran udang dalam suatu populasi, sehingga dapat diperkirakan berapa ukuran pakan yang akan digunakan dan jumlah yang akan diberikan dalam satu kali frekuensi pakan harian. Komposisi tersebut perlu disesuaikan kembali dengan mengacu pada pengamatan yang dilakukan. Jika tingkat keseragaman udang mengarah ke tingkat yang lebih baik maka ukuran pakan yang diberikan akan lebih sedikit.
Contoh : dalam suatu populasi udang di tambak memiliki 3 jenis ukuran yang berbeda, maka pakan yang diberikan sebaiknya terdiri dari 3 jenis ukuran pakan yang berbeda pula yang disesuaikan dengan ukuran udang yang ada. Jika keseragaman udang di tambak tersebut ternyata mengarah ke tingkat yang lebih baik, misalnya menjadi 2 jenis ukuran udang, maka komposisi jenis ukuran pakan yang diberikan sebaiknya juga menjadi 2 jenis ukuran pakan. Pengelolaan kualitas air tambak yang dilakukan pada kondisi seperti ini relative sama dengan item no. 1 tersebut di atas.
3. Tingkat keseragaman udang parah. Pada kondisi seperti ini pengelolaan secara teknis yang perlu dilakukan adalah bagaimana cara mencegah agar populasi udang di dalam tambak tersebut tidak menyusut secara drastic (karena proses kanibalisme). Program pakan yang perlu diterapkan pada dasarnya seperti penjelasan pada item no. 2, hanya komposisi jenis ukuran pakan yang digunakan dalam satu kali frekuensi pemberian pakan biasanya akan lebih banyak pula. Pada penanganan yang lebih ekstrim, biasanya dilakukan penyortiran ukuran udang secara langsung pada saat dilakukan cek anco atau pada saat kegiatan sampling (tidak direkomendasikan). Penyortiran dilakukan terhdap udang-udang dengan ukuran yang dianggap ketinggalan terlalu jauh dengan ukuran udang normal, sehingga diharapkan tingkat keseragaman udang didalam tambak tersebut akan menjadi lebih baik meskipun secara densitas mengalami penurunan. Pengelolaan kualitas air tambak yang dilakukan pada kondisi seperti ini relative sama dengan item no. 1 tersebut di atas.
Alternatif penanganan tersebut di atas pada dasarnya adalah upaya untuk mempertahankan, memperbaiki dan mencegah suatu kondisi agar tingkat keseragaman udang dalam suatu populasi di tambak dapat mengarah kepada kondisi seperti yang diharapkan terutama pada output secara optimal.
sumber: http://marindro-ina.blogspot.com
Secara garis besar pengelolaan yang perlu dilakukan terkait dengan keseragaman udang meliputi pengelolaan program pakan dan pengelolaan kualitas air (asumsi: benur yang digunakan relative telah seragam, baik ukuran maupun usianya). Alternatif pengelolaan terhadap kondisi tersebut di atas adalah sebagai berikut:
1. Udang Seragam. Jika populasi udang di dalam tambak menunjukkan ukuran udang relatif seragam, maka pengelolaan secara teknis yang perlu dilakukan adalah bagaimana cara mempertahankan kondisi ideal tersebut hingga udang siap untuk dipanen secara normal. Pengelolaan program pakan harus selalu mengikuti tingkat kebutuhan udang dan jumlah pakan harian yang diberikan sesuai dengan tingkat kepadatan udang di dalam tambak. Pada kondisi seperti ini biasanya jumlah pakan yang diberikan akan menunjukkan kecenderungan yang selalu meningkat berdasarkan waktu (kecuali udang dalam kondisi moulting secara periodik). Program pakan harus dikelola secara cermat berdasarkan pengamatan yang dilakukan (melalui check ancho maupun sampling).
Selain program pakan, alternative pengelolaan yang perlu dilakukan adalah kualitas air tambak. Biasanya terdapat korelasi antara keseragaman udang dan kualitas air (asumsi: program pakan yang diterapkan sudah seperti tersebut di atas), yaitu: ukuran udang akan relative seragam jika pengelolaan kualitas air sesuai dengan tingkat kebutuhan udang. Upaya yang perlu dilakukan dalam pengelolaan kualitas air adalah bagaiamana mempertahankan kualitas air tambak relative stabil dan tidak terjadi fluktuasi perubahan kualias air tambak tersebut. Penjelasan terkait dengan pengelolaan kualitas air tambak telah diuraikan dalam pembahasan-pembahasan terdahulu.
2. Udang dengan tingkat keseragaman sedang. Pada kondisi seperti ini pengelolaan secara teknis yang perlu dilakukan adalah bagaimana cara mencegah agar tingkat keseragamannya tidak bertambah parah serta upaya untuk memperbaikinya kea rah yang lebih bagus. Program pakan yang diterapakan perlu ditinjau ulang terutama terkait dengan komposisi ukuran pakan udang serta jumlah pakan yang diberikan. Komposisi ukuran pakan dan jumlahnya dapat diestimasi secara kasar melalui pengamatan pada waktu sampling dan cek ancho. Estimasi yang dilakukan mencakup persentase kepadatan masing-masing ukuran udang dalam suatu populasi, sehingga dapat diperkirakan berapa ukuran pakan yang akan digunakan dan jumlah yang akan diberikan dalam satu kali frekuensi pakan harian. Komposisi tersebut perlu disesuaikan kembali dengan mengacu pada pengamatan yang dilakukan. Jika tingkat keseragaman udang mengarah ke tingkat yang lebih baik maka ukuran pakan yang diberikan akan lebih sedikit.
Contoh : dalam suatu populasi udang di tambak memiliki 3 jenis ukuran yang berbeda, maka pakan yang diberikan sebaiknya terdiri dari 3 jenis ukuran pakan yang berbeda pula yang disesuaikan dengan ukuran udang yang ada. Jika keseragaman udang di tambak tersebut ternyata mengarah ke tingkat yang lebih baik, misalnya menjadi 2 jenis ukuran udang, maka komposisi jenis ukuran pakan yang diberikan sebaiknya juga menjadi 2 jenis ukuran pakan. Pengelolaan kualitas air tambak yang dilakukan pada kondisi seperti ini relative sama dengan item no. 1 tersebut di atas.
3. Tingkat keseragaman udang parah. Pada kondisi seperti ini pengelolaan secara teknis yang perlu dilakukan adalah bagaimana cara mencegah agar populasi udang di dalam tambak tersebut tidak menyusut secara drastic (karena proses kanibalisme). Program pakan yang perlu diterapkan pada dasarnya seperti penjelasan pada item no. 2, hanya komposisi jenis ukuran pakan yang digunakan dalam satu kali frekuensi pemberian pakan biasanya akan lebih banyak pula. Pada penanganan yang lebih ekstrim, biasanya dilakukan penyortiran ukuran udang secara langsung pada saat dilakukan cek anco atau pada saat kegiatan sampling (tidak direkomendasikan). Penyortiran dilakukan terhdap udang-udang dengan ukuran yang dianggap ketinggalan terlalu jauh dengan ukuran udang normal, sehingga diharapkan tingkat keseragaman udang didalam tambak tersebut akan menjadi lebih baik meskipun secara densitas mengalami penurunan. Pengelolaan kualitas air tambak yang dilakukan pada kondisi seperti ini relative sama dengan item no. 1 tersebut di atas.
Alternatif penanganan tersebut di atas pada dasarnya adalah upaya untuk mempertahankan, memperbaiki dan mencegah suatu kondisi agar tingkat keseragaman udang dalam suatu populasi di tambak dapat mengarah kepada kondisi seperti yang diharapkan terutama pada output secara optimal.
sumber: http://marindro-ina.blogspot.com
tingkat kekenyalan udang
Kekenyalan udang sebagai salah satu indicator kondisi udang merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan suatu proses budidaya terutama pada kualitas udang yang akan dihasilkan, sehingga secara tidak langsung akan berpengaruh pula terhadap harga jualnya. Secara sederhana tingkat kekenyalan udang dapat diartikan sebagai kemampuan tubuh udang (bagian antara cangkang/kulit dengan daging) untuk kembali ke bentuk semula setelah mendapat daya tekan dari luar. Tingkat kekenyalan udang juga dapat diidentikan dengan “gemuk” atau “kurusnya” suatu udang karena faktor ini terkait erat dengan tingkat konsumsi pakan dari udang itu sendiri.
Secara praktis tingkat kekenyalan udang dapat diketahui dengan cara menekan tubuh udang menggunakan ibu jari dan telunjuk dan kemudian tekanan tersebut dilepaskan. Melalui cara ini maka dapat ditentukan tingkat kekenyalan dan kondisi udang pada saat itu. Tingkat kekenyalan udang secara umum dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu:
1. Keropos, pada tingkatan ini udang dalam kondisi “sangat kurus” dan dapat dikategorikan pada kondisi parah. Pada kondisi ini jika kita menekan tubuh udang, maka akan terasa ada rongga antara cangkang/kulit dengan daging udang dan ada kecenderungan cangkang tersebut tidak/lama kembali ke bentuk semula. Jika sebagian besar populasi udang di dalam tambak memiliki kondisi yang sama, maka dapat dikatakan bahwa udang di dalam tambak tersebut pada kondisi yang parah. Kondisi seperti ini jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan penurunan kepadatan populasi udang yang cukup drastis, karena udang yang sudah keropos relative rentan terhadap penyakit selain itu juga dapat memicu kanibalisme antar udang di dalam tambak tersebut.
2. Sedang, pada tingkatan ini udang dalam kondisi “kurus”. Pada kondisi ini jika kita menekan tubuh udang, maka akan terasa kulit/cangkang dan daging udang menyatu tetapi dalam kondisi kurang liat. Jika sebagian besar populasi udang di dalam tambak memiliki kondisi yang sama, maka dapat dikatakan bahwa udang di dalam tambak tersebut pada kondisi sedang.
3. Kenyal, pada tingkatan ini udang dalam kondisi “gemuk”. Pada kondisi ini jika kita menekan tubuh udang, maka akan terasa kulit/cangkang dan daging udang terasa sangat liat. Jika sebagian besar populasi udang di dalam tambak memiliki kondisi yang sama, maka dapat dikatakan bahwa udang di dalam tambak tersebut pada kondisi bagus.
Sebagai upaya memperoleh tingkat kekenyalan udang yang ideal sebaiknya program pakan yang diterapkan mengikuti tingkat kebutuhan pakan dari udang itu sendiri. Program pakan yang terlalu ketat akan dapat mengakibatkan udang keropos. Sebaliknya program pakan yang terlalu berlebihan dapat menyebabkan udang dalam kondisi “gemuk” meskipun bagus bagi udang tapi dapat mengakibatkan over feeding yang memicu penimbunan sisa pakan di dasar tambak dan jika kondisi seperti ini dibiarkan terlalu lama, maka dapat menimbulkan masalah bagi udang itu sendiri.
Pengamatan yang cermat terhadap kondisi udang pada saat mengecek pakan di anco dan pada saat sampling rutin merupakan salah satu alternative kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan tingkat kekenyalan udang dengan program pakan yang diterapkan (terkait dengan Food Conversion Ratio). Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka kondisi yang paling ideal adalah udang dalam kondisi “gemuk” dengan program pakan yang masih terkendali sesuai dengan tingkat kebutuhan udang.
sumber : http://marindro-ina.blogspot.com
Secara praktis tingkat kekenyalan udang dapat diketahui dengan cara menekan tubuh udang menggunakan ibu jari dan telunjuk dan kemudian tekanan tersebut dilepaskan. Melalui cara ini maka dapat ditentukan tingkat kekenyalan dan kondisi udang pada saat itu. Tingkat kekenyalan udang secara umum dapat dikelompokkan menjadi 3 kategori, yaitu:
1. Keropos, pada tingkatan ini udang dalam kondisi “sangat kurus” dan dapat dikategorikan pada kondisi parah. Pada kondisi ini jika kita menekan tubuh udang, maka akan terasa ada rongga antara cangkang/kulit dengan daging udang dan ada kecenderungan cangkang tersebut tidak/lama kembali ke bentuk semula. Jika sebagian besar populasi udang di dalam tambak memiliki kondisi yang sama, maka dapat dikatakan bahwa udang di dalam tambak tersebut pada kondisi yang parah. Kondisi seperti ini jika tidak segera ditangani dapat menyebabkan penurunan kepadatan populasi udang yang cukup drastis, karena udang yang sudah keropos relative rentan terhadap penyakit selain itu juga dapat memicu kanibalisme antar udang di dalam tambak tersebut.
2. Sedang, pada tingkatan ini udang dalam kondisi “kurus”. Pada kondisi ini jika kita menekan tubuh udang, maka akan terasa kulit/cangkang dan daging udang menyatu tetapi dalam kondisi kurang liat. Jika sebagian besar populasi udang di dalam tambak memiliki kondisi yang sama, maka dapat dikatakan bahwa udang di dalam tambak tersebut pada kondisi sedang.
3. Kenyal, pada tingkatan ini udang dalam kondisi “gemuk”. Pada kondisi ini jika kita menekan tubuh udang, maka akan terasa kulit/cangkang dan daging udang terasa sangat liat. Jika sebagian besar populasi udang di dalam tambak memiliki kondisi yang sama, maka dapat dikatakan bahwa udang di dalam tambak tersebut pada kondisi bagus.
Sebagai upaya memperoleh tingkat kekenyalan udang yang ideal sebaiknya program pakan yang diterapkan mengikuti tingkat kebutuhan pakan dari udang itu sendiri. Program pakan yang terlalu ketat akan dapat mengakibatkan udang keropos. Sebaliknya program pakan yang terlalu berlebihan dapat menyebabkan udang dalam kondisi “gemuk” meskipun bagus bagi udang tapi dapat mengakibatkan over feeding yang memicu penimbunan sisa pakan di dasar tambak dan jika kondisi seperti ini dibiarkan terlalu lama, maka dapat menimbulkan masalah bagi udang itu sendiri.
Pengamatan yang cermat terhadap kondisi udang pada saat mengecek pakan di anco dan pada saat sampling rutin merupakan salah satu alternative kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan tingkat kekenyalan udang dengan program pakan yang diterapkan (terkait dengan Food Conversion Ratio). Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka kondisi yang paling ideal adalah udang dalam kondisi “gemuk” dengan program pakan yang masih terkendali sesuai dengan tingkat kebutuhan udang.
sumber : http://marindro-ina.blogspot.com
Kualitas Air pada tahap budidaya Udang galah
Kualitas Air pada tahap budidaya Udang galah
1. Kualitas air pada tahap pemijahan dan penetasan telur
- suhu : 28-300C
- nilai pH : 6,5 – 8,5
- Oksigen terlarut : lebih dari 5 ppm (mg/l)
- salinitas : 3 – 5 ppt
2. Kualitas air pada tahap produksi larva
- suhu : 28-300C
- nilai pH : 6,5 – 8,5
- Oksigen terlarut : lebih dari 5 ppm (mg/l)
- salinitas : 10 – 15 ppt
3. Kualitas air pada tahap produksi juana
- suhu : 28-300C
- nilai pH : 6,5 – 8,5
- Oksigen terlarut : lebih dari 5 ppm (mg/l)
- salinitas : 10 – 15 ppt
4. Kualitas air pada tahap produksi tokolan
- suhu : 28-300C
- nilai pH : 6,5 – 8,5
- Oksigen terlarut : lebih dari 5 ppm (mg/l)
- salinitas : 0 ppt (air tawar)
- tinggi air : 50 – 100 cm
Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman , S.P, Agromedia Pustaka, 2008
1. Kualitas air pada tahap pemijahan dan penetasan telur
- suhu : 28-300C
- nilai pH : 6,5 – 8,5
- Oksigen terlarut : lebih dari 5 ppm (mg/l)
- salinitas : 3 – 5 ppt
2. Kualitas air pada tahap produksi larva
- suhu : 28-300C
- nilai pH : 6,5 – 8,5
- Oksigen terlarut : lebih dari 5 ppm (mg/l)
- salinitas : 10 – 15 ppt
3. Kualitas air pada tahap produksi juana
- suhu : 28-300C
- nilai pH : 6,5 – 8,5
- Oksigen terlarut : lebih dari 5 ppm (mg/l)
- salinitas : 10 – 15 ppt
4. Kualitas air pada tahap produksi tokolan
- suhu : 28-300C
- nilai pH : 6,5 – 8,5
- Oksigen terlarut : lebih dari 5 ppm (mg/l)
- salinitas : 0 ppt (air tawar)
- tinggi air : 50 – 100 cm
Sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman , S.P, Agromedia Pustaka, 2008
Subscribe to:
Posts (Atom)